Pagi pun tiba. Aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Entah mengapa, pagi ini aku terlalu malas untuk pergi ke sekolah. Keluargaku pun heran dengan sikapku yang terlihat sangat lemas pagi itu. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Seperti yang dikatakan ibu pagi itu,

“Kenapa kamu terlihat lemas begitu? Kamu sakit, ya?”

Aku pun menjawab dengan suara lirih, “Tidak, Bu. Hanya saja aku merasa lemas banget.”

Ibuku tampak khawatir dengan kondisiku pagi itu, tetapi aku tidak mengatakan apa-apa setelahnya.

Setelah itu, aku berangkat ke sekolah diantar Papa. Kali ini aku diantar karena pagi itu aku memang terlihat sangat lemas. Setibanya di sekolah, aku langsung duduk di kursiku tanpa menjawab sapaan teman-temanku.

Teman-temanku mulai keheranan karena aku tidak seperti biasanya yang sangat cerewet dan jahil. Salah satu temanku bertanya,

“Kamu kenapa, Indah? Sakit, ya? Pucat sekali kelihatannya.”

Aku hanya menjawab dengan sebuah gelengan kepala. Setelah itu, temanku kembali ke tempat duduknya dan aku kembali terdiam sambil melamun.

Hingga tiba waktu salat zuhur, guru mata pelajaran PAI-ku mengajak aku dan semua teman-temanku untuk salat berjamaah. Namun, saat aku disentuh oleh guruku, aku berteriak histeris,

“Aaaaarrrgggg… sakit! Lepas! Jangan pegang aku! Aaarrrggg!”

Guruku memegang tanganku. Ia berusaha menghentikanku karena tanganku sudah memegang kepala, sementara jilbabku sudah kusut akibat genggaman tanganku sendiri. Guruku tampak kewalahan karena saat itu hanya ada aku dan guruku di dalam kelas. Semua teman-temanku sudah pergi untuk mengambil air wudu.

Guruku pun mulai terlihat panik karena aku sudah tidak terkendali. Ia mulai berteriak meminta bantuan kepada teman-temanku,

“Anak-anak, tolong panggilkan Pak Jo di kelas XII!”

Guruku hendak memanggil pamanku yang berprofesi sebagai guru mata pelajaran Penjas di sekolahku. Saat itu, ia sedang mengajar di kelas XII, tetapi terpaksa menghentikan pelajarannya karena mendapat panggilan dari guru PAI-ku, sebut saja Ibu Mis.

Salah satu temanku berlari menghampiri pamanku karena aku semakin berontak dalam genggaman guruku. Temanku yang bernama Vira pun ikut memegang tanganku ketika aku dibacakan ayat suci Al-Qur’an oleh guruku.

Tak lama kemudian, aku mulai merasa tenang. Namun, bekas air mata di pipiku masih basah. Sesekali aku masih tersedu-sedu, tetapi Ibu Mis beserta temanku, Vira, sudah melepaskan tanganku.

Aku pun bertanya kepada guruku,

“Aku kenapa, Bu? Kenapa aku menangis?”

Guruku berkata,

“Kamu tadi kesakitan, Nak. Ada apa denganmu? Apakah kamu sakit?”

Aku menjawab,

“Ibu, aku mau pulang. Boleh aku pulang?”

Guruku awalnya terdiam dan menatapku cukup lama. Setelah itu, ia mengangguk dan memperbolehkanku untuk pulang diantar oleh pamanku sendiri.

Namun, saat aku keluar kelas, salah satu kakak kelasku yang laki-laki menegurku,

“Hai, Nur Indah, mau pulang, ya?”

Namun, aku menatapnya dengan tatapan sinis. Tak lama kemudian, aku kembali menjerit kesakitan sambil memegang kepalaku. Saat itu, rasa sakitnya tidak bisa kudeskripsikan. Aku seperti ingin berlari, tetapi aku bingung harus berlari ke mana.

Pamanku berkata,

“Tahan dulu, kita pulang, ya.”

Beliau mencoba membujukku dan akhirnya kami pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku langsung rebahan di ruang tamu. Sembari menatap langit-langit rumah, aku hanya terdiam dan melamun.

Mamaku pun bertanya mengapa aku pulang.

“Kenapa Indah pulang, Jo? Dia sakit, kah?”

Mamaku bertanya kepada pamanku. Pamanku kemudian menjelaskan kejadian yang terjadi di sekolahku.

Mamaku mencoba mendekatiku dan menawariku untuk makan siang terlebih dahulu.

“Nak, makan dulu, baru tidur.”

Aku menjawab dengan suara yang sangat ketus,

“Tidak, aku tidak lapar.”

Setelah itu, aku kembali menangis tersedu-sedu sembari memegang kepalaku. Jilbabku saat itu sudah terlepas dan kini tanganku menggenggam rambutku dengan sangat kencang.

Mamaku pun panik.

“Jo… Jo… tolong tahan tangannya. Kenapa dia begini? Seperti bukan Indah,” ucap mamaku kepada pamanku.

Kakekku pun datang karena ia sempat melihatku masuk ke rumah, padahal waktu pulang sekolah masih lama.

“Kenapa Indah pulang cepat? Tidak seperti biasanya,” kata kakekku dengan heran.

Beliau melihatku menangis sambil terus menunduk dan menghindar agar tidak disentuh oleh siapa pun.

“Sini, Kakek tiup dulu, Nak. Siapa tahu kamu sakit kepala.”

Aku pun terdiam. Kakekku mulai meniup kepalaku sembari membacakan doa-doa.

Setelah itu, aku sudah berhenti menangis dan menjerit. Namun, ada satu hal yang berubah dalam diriku. Aku mulai berdiam diri dan memilih menyendiri. Aku tidak lagi bercanda seperti biasanya bersama keluargaku.

Mamaku dan Papaku mulai bertanya-tanya, ada apa sebenarnya denganku.

Setelah kejadian hari itu di sekolahku, aku izin tidak masuk sekolah selama beberapa minggu dengan keterangan sakit. Sebab, setelah kejadian hari itu di sekolah, setiap malam Sabtu aku selalu menjerit kesakitan dan mengamuk. Aku tidak ingin disentuh oleh siapa pun. Aku juga selalu merasa ingin lari dari rumahku sendiri, padahal rumah adalah tempat ternyaman bagiku.

Suatu ketika, pada malam Sabtu di tahun 2022, tepatnya minggu ketiga bulan Oktober, aku duduk melamun di ruang tamu. Saat itu, aku sedang diajak berbicara oleh Papaku.

“Kenapa anakku yang cerewet ini diam-diam begini, hm? Ada sakitmu, Nak?” tanya Papaku sembari bercanda denganku.

Namun, aku sama sekali tidak menyahuti perkataan Papaku. Aku sibuk melamun dan pandanganku hanya berfokus ke depan.

Adikku juga ikut berusaha mengajakku berbicara.

“Itu Kak Indah lagi galau, kali. Diputusin pacarnya, hahaha.”

Entah mengapa, perkataan adikku saat itu sangat membuatku marah. Aku pun membentaknya dan menyuruhnya diam.

“Diam!! Jaga ucapanmu! Aku tidak suka!”

Setelah itu, Papaku berusaha mengusap-usap kepalaku sembari bertanya dengan suara pelan,

“Kamu kenapa, Nak? Kalau ada luka, beri tahu Papa, biar Papa carikan obat.”

Namun, yang aku rasakan justru hatiku terasa sakit ketika mendengar ucapan Papaku saat itu. Di sisi lain, aku merasa ingin menghempaskan tangan beliau dari kepalaku. Aku merasa marah karena disentuh oleh seseorang, padahal itu Papaku sendiri.

“Jangan sentuh aku! Aku tidak suka!”

Setelah itu, aku pun menangis dan menjerit. Aku berusaha bangun dari dudukku dan mencoba keluar melalui pintu rumah. Saat itu, aku merasa itulah peluang untukku melarikan diri. Di pikiranku hanya ada keinginan untuk lari dari rumahku sendiri.

Namun, Papaku justru cepat-cepat menutup pintu rumah. Mamaku dan adikku berusaha menahanku agar aku tidak menyakiti diri sendiri karena saat itu aku seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri.

Aku mengamuk dan berteriak meminta untuk dilepaskan. Tak lama kemudian, bibiku datang bersama sepupuku dan pamanku, yaitu ipar Papaku. Mereka panik karena mendengar teriakanku. Kebetulan, rumah kami bersebelahan.

Bibiku menyuruh Papaku pergi untuk memanggil orang pintar. Sementara itu, paman dan bibiku menggantikan adikku serta Mamaku untuk menahanku. Sebab, ternyata saat itu aku sempat menggigit tangan Mamaku hingga berdarah, lalu tertawa dan meminta untuk dilepaskan

Pamanku berkata ini bukan jiwa indah, indah tidak akan menyakiti keluarga nya seperti ini terlebih lagi ibu nya sendiri namun ditengah Keadaan yang menegangkan itu tiba tiba aku terdiam sehingga paman serta bibiku keheranan “Ndah? Indahh sadar hei indah?” ucap bibiku sambil menggoyangkan lengan ku namun aku hanya menunduk dan terdiam. kemudian, aku berbicara sangat lirih “Lepaskan saya bu, saya ini indah bukan orang lain hihihihi” ucapku sambil tertawa pelan sehingga membuat adik serta sepupu ku merasa aneh dengan sikapku setelah itu aku kembali meronta dengan kencang sehingga membuat pegangan paman dan bibiku melonggar dan aku nyaris bebas dari mereka namun paman ku yang bernama Jo tiba dan ikut menahan ku. “Kau mau kemana membawa indah hah? Kau ini siapa?” tanya paman ku kepada diriku saat itu yang jiwa nya bukan jiwa indah, “lepaskan aku om, aku baik tidak akan kemana mana kok aku sadar ini aku indah” ucapku saat itu setelah aku mengatakan itu aku pun terdiam dan seakan akan semuanya sudah membaik sehingga keluarga ku yang berada dirumah malam itu mengira aku sudah sadar namun mereka tak mengetahui bahwa masalah sebenarnya sedang menunggu mereka.

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *