Setelah Papaku tiba di rumah malam itu, ia diikuti oleh seorang pria di belakangnya yang bernama Puang Tahi.
“Assalamualaikum,” ucap Puang Tahi memberi salam.
Aku pun menatapnya dengan sinis. Tatapanku bahkan sangat tajam hingga mataku nyaris juling saking sinisnya aku memandang Puang Tahi tersebut. Namun, aku tidak menjawab salam beliau.
“Nak, itu Puang memberi salam. Kenapa tidak jawab?” tanya Mamaku.
Aku pun menjawab,
“Waalaikumsalam,” dengan nada judes.
Puang Tahi kemudian duduk di hadapanku sehingga kini ia dan aku saling berhadapan. Aku mengubah posisi dudukku hingga kini aku duduk bersila di hadapannya.
Puang Tahi kemudian bertanya,
“Siapa nama anak ini?”
Pertanyaan itu dijawab oleh Mamaku,
“Namanya Indah, Puang. Dia awalnya sakit kepala di sekolah. Setelah itu, dia tidak mau dipegang oleh orang-orang. Terlebih lagi kalau sepupunya yang laki-laki. Dia marah, Puang.”
Puang Tahi pun mengangguk-anggukkan kepala sambil menatapku. Aku membalas tatapannya dengan senyuman tipis.
“Weh, lihat! Kak Indah sudah senyum. Sudah sembuh dia, kan?” celetuk adik sepupuku.
Namun, bukan keluargaku yang menjawab, melainkan aku sendiri.
“Iya dong, aku sembuh. Jadi, suruh pulang saja ini orang di depanku. Kan, aku sudah sembuh,” jawabku dengan nada sombong.
Aku pun hendak berdiri, tetapi lenganku ditahan oleh Pamanku, Jo.
“Eh! Kau mau ke mana itu?”
Aku tertawa kecil.
“Apaan sih, Om? Begitu saja kok panik. Aku mau ke WC,” jawabku.
Pamanku pun melepaskan lenganku. Namun, bukannya aku berjalan ke arah dapur, aku malah hendak berjalan menuju pintu yang terbuka lebar.
“Bukan di situ WC-nya. Di dapur juga ada WC. Tidak usah ke luar,” jawab Mamaku.
Beliau pun mengantarku ke WC. Setibanya di WC, aku hanya mencuci tangan. Mamaku tidak menegurku dan tetap menuntunku untuk kembali.
Setibanya aku di hadapan Puang Tahi, beliau meminta segelas air kepada Mamaku.
“Siapkan air satu gelas dengan sendok.”
Aku pun menyahut,
“Untuk apa air itu? Aku sudah sembuh. Tidak kamu lihat, ya?”
Bahasaku saat itu memang sedikit kurang ajar, terlebih lagi aku berbicara kepada orang yang lebih tua dariku.
Puang Tahi pun menjawab,
“Cuma segelas air. Kenapa kamu takut?”
Aku pun terdiam.
Tak lama kemudian, segelas air beserta sendok dibawa oleh Mamaku dan diberikan kepada Puang Tahi. Setelah itu, Puang Tahi mendoakan air tersebut. Kemudian, beliau meminta Mamaku untuk meneteskan air itu ke mataku sebanyak tiga kali.
Namun, setelah tetesan air itu mengenai mataku, aku mulai merasa perih. Aku meronta dan berteriak meminta dilepaskan.
“Lepaskan! Panas! Ini lepaskan! Saya mau cuci muka! Lepaskan saya! Aaarrrgggg!”
Teriakanku cukup keras dan aku semakin meronta untuk dilepaskan. Saat itu, ada tiga orang dewasa yang menahanku, yaitu Pamanku Jo, Papaku, dan Bibiku.
Aku pun mulai menangis tersedu-sedu dan meminta untuk dilepaskan. Aku mulai menyakiti mereka dengan berusaha menggigit tangan yang menahanku. Namun, saat aku berusaha menggigit tangan mereka, Puang Tahi kembali angkat suara,
“Teteskan lagi air itu ke matanya.”
Setelah itu, Bibiku kembali meneteskan air ke mataku. Aku semakin histeris, menangis dan meminta untuk dilepaskan.
“Siapa kau?” tanya Puang Tahi.
“Lepaskan tanganku dulu. Aku akan bicara,” jawabku sambil menangis.
Beliau pun meminta ketiga orang dewasa tersebut untuk melepaskan pegangannya. Setelah mereka melepaskanku, saat itu aku duduk bersila sambil menangis dan mataku tetap terpejam.
“Buka matamu kalau bicara. Tatap orang yang mau bicara sama kamu,” celetuk Pamanku.
Puang Tahi pun berkata,
“Tidak usah. Biarkan saja dia.”
Saat itu aku terlihat terengah-engah di hadapan mereka. Puang Tahi berkata,
“Orang ini bukan orang dekat. Dia orang jauh. Lihat saja, dia sampai kecapekan begitu. Berikan dia air.”
“Kamu mau kopi kah?” tanya Papaku.
Aku menjawab tidak.
Beliau kembali menawarkan,
“Atau kamu mau teh? Kalau mau, dibikinkan.”
Namun, aku kembali menjawab tidak.
Pamanku kemudian berkata,
“Oh, atau kamu mau ballo, ya?”
Aku menjawab,
“Aku tidak suka. Berikan saja air biasa tanpa didoakan.”
Setelah itu, aku diberikan air minum tanpa didoakan oleh Puang Tahi. Segelas air minum itu habis dalam sekali tegukan.
Puang Tahi kemudian berbicara,
“Kamu ini kenapa melakukan ini ke Indah? Dia sakiti kamu, kah?”
Aku menjawab,
“Indah tidak menyakitiku. Dia juga tidak mengenalku. Aku hanya pernah melihatnya sekilas dan aku tertarik kepadanya.”
Mamaku pun menyahut,
“Di mana kamu melihat Indah?”
Aku menjawab,
“Di Kolaka. Mungkin dia masih SMP saat aku bertemu dengannya. Aku benar-benar menyukainya. Aku memantau segala pergerakannya, Tante, tetapi aku tidak berani mendekati Indah karena aku takut ditolak.”
Mamaku pun berkata,
“Jangan sakiti Indah begini. Jikalau kamu mau, kamu datang baik-baik. Jangan lakukan seperti ini karena Indah masih sekolah. Kasihan dia, baru masuk kelas 1 SMA.”
Malam itu aku bersimpuh di hadapan Mamaku dan meminta maaf karena telah menyakiti Indah beserta keluarganya. Aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi.
Puang Tahi pun berbicara,
“Kalau kamu ganggu Indah lagi, mau kuapakan kamu?”
Aku menjawab,
“Bakar saja aku, Puang.”
Setelah itu, aku diberikan segelas air yang sudah didoakan. Aku meminumnya setengah gelas. Kemudian, aku berkata kepada Mamaku,
“Tante, tunggu saya. Jangan biarkan laki-laki lain mendekati Indah. Kalau ada laki-laki lain yang mendekati Indah, saya akan bawa Indah pergi.”
Pamanku pun angkat suara,
“Heh, beraninya kamu mengancam kita begitu! Berarti ada niatmu untuk membawa Indah lari?”
Aku menjawab dengan gelengan kepala. Aku kemudian meminta maaf dan mengaku tidak akan mengganggu Indah lagi serta akan pergi dari tubuh Indah.
Setelah itu, aku pun pingsan dalam pelukan Mamaku.
Tak lama kemudian, aku membuka mata dan melihat ada banyak orang di rumahku. Aku bertanya kepada Mamaku,
“Ada apa ramai-ramai? Mama sakit, kah?”
Mamaku menjawab bahwa beliau tidak sakit. Yang sakit adalah aku.
Setelah itu, Puang Tahi memberikan aku air minum dan menyuruhku minum sebanyak tiga kali tegukan. Beliau juga menyuruh Mamaku untuk meneteskan air tersebut ke mataku.
“Apa sakit?” tanya Puang Tahi.
Aku menjawab,
“Tidak, Puang. Tidak sakit sama sekali,” jawabku sembari tersenyum.
Mawar Merah
Setelah malam tadi aku tidak sadarkan diri, pagi ini aku bangun dengan perasaan yang lumayan baik. Setelah menunaikan salat Subuh, aku keluar ke teras rumah untuk duduk. Aku kemudian teringat dengan mimpiku malam tadi.
Aku ingin menceritakan mimpiku kepada orang tuaku karena aku merasa tidak bisa menyimpan apa pun tanpa bercerita kepada mereka.
Setelah Mama dan Papaku duduk di teras rumah, kami berbincang dan bercanda seperti biasanya. Aku pun teringat bahwa aku ingin mengatakan sesuatu.
“Ma, semalam pas aku tidur, aku mimpi. Tapi mimpiku seperti nyata, padahal itu mimpi.”
Papaku hanya mendengarkan, sedangkan Mamaku bertanya,
“Kamu mimpi apa?”
“Aku mimpi ada sosok laki-laki yang memberi aku bunga mawar merah. Tapi aku tidak menerima bunga itu. Aku juga tidak menyentuh bunganya, Ma, karena aku tidak kenal siapa orang itu. Tiba-tiba dia memberikan aku bunga. Setelah itu, aku bangun dari tidurku.”
Mamaku pun berkata,
“Mungkin itu cowokmu yang kasih kamu bunga.”
Aku menjawab,
“Aku tidak punya pacar.”
Tak lama kemudian, Pamanku datang. Ia adalah adik Papaku yang paling bungsu. Ia masih muda dan juga suka bercanda. Ia mendengar apa yang kukatakan dan tiba-tiba meledekku,
“Cie, cieee… bunga cinta merah tandanya cinta. Cie, cieee… ada pacarnya!”
Beliau terus meledekku sampai aku kesal.
“Ih, apaan sih? Mimpi bunga tidur itu, lho!” kataku.
Setelah membicarakan bunga mawar merah itu, aku dan keluargaku seketika tidak mengingat lagi bahwa malam sebelumnya aku mengalami kejadian yang tidak pernah kami duga akan terjadi dalam keluarga kami. Kami tidak berpikir bahwa bisa saja mimpiku itu merupakan sebuah pertanda.
Kembali ke Sekolah
Hari ini, tepatnya hari Senin, aku kembali bersekolah. Aku menyiapkan bekal untuk kubawa ke sekolah. Walaupun aku membawa uang jajan, rasanya aku tetap lebih menyukai bekal yang kubawa dari rumah, seperti keluarga pada umumnya.
Pagi itu dipenuhi teriakan Mamaku yang menyuruhku cepat-cepat ke sekolah karena beliau takut aku terlambat dan akhirnya dihukum oleh guruku. Padahal, aku santai saja.
Setelah itu, aku berpamitan kepada Mamaku untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Aku menenteng bekal di tangan kananku dan tumbler berisi air minum di tangan kiriku.
Aku berjalan kaki sambil sesekali tersenyum kepada tetangga yang mengenalku. Aku pun mampir ke rumah Cantika karena ingin berangkat bersamanya.
Setibanya di rumahnya, aku langsung memberi salam dan memanggil namanya. Tak lama kemudian, sosok sahabatku itu keluar dari dalam rumahnya sembari menenteng sepatu.
“Kamu tidak bawa bekal, ya?” tanyaku kepadanya.
“Tidak deh, malas saya,” jawabnya.
Setelah itu, kami pun berangkat bersama dengan berjalan kaki. Seperti biasa, perjalanan kami dipenuhi canda tawa di setiap langkah. Perjalanan kami tidak pernah sunyi karena aku yang dikenal sangat cerewet tidak henti-hentinya bertanya ini dan itu kepada sahabatku selama aku tidak masuk sekolah.
Sahabatku pun senantiasa menjawab dan menceritakan berbagai kejadian yang terjadi selama aku tidak masuk sekolah.
Tak terasa, langkah kami sudah memasuki pekarangan sekolah yang mulai ramai oleh kakak-kakak kelas yang berlalu-lalang untuk piket
Setelah apel pagi, kami berempat berjalan masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing untuk menunggu guru mata pelajaran pertama yang masuk.
Tak lama kemudian, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam masuk ke dalam kelasku. Beliau mengabsen kami satu per satu. Saat tiba pada namaku, beliau mengingatkan agar aku tidak selalu melamun dan menyendiri.
Aku pun mengiyakan perkataan beliau.
Tiba-tiba, temanku nimbrung,
“Iya, Indah, jangan melamun terus. Seram juga kamu kalau kerasukan begitu, seperti zombie,” ujar salah satu teman sekelasku.
“Iya, tapi aku kan tidak sadar kalau aku seperti zombie,” jawabku.
Guruku pun menghentikan pembicaraan kami.
“Sudah, sudah. Sekarang kita belajar. Sebelum belajar, kita baca surah Al-Fatihah dulu, setelah itu lanjut membaca surah An-Naas. Doa dimulai.”
Kami pun berdoa bersama-sama sebelum memulai pembelajaran.
Setelah sesi belajar mengajar jam pertama selesai, kami pun beristirahat. Aku memutar kursiku untuk menghadap ke belakang, tepat ke meja Cantika. Kebetulan, aku duduk di kursi kedua dari depan, sedangkan Cantika duduk di kursi ketiga dari depan.
Aku menghadap ke arah Cantika untuk memakan bekal yang kubawa tadi. Cantika pun memakan makanan yang sebelumnya ia beli di kantin. Tak lupa, aku juga mengajak si kembar untuk makan bersama.
“Kembar, kalian bawa bekal, kah? Ayo, makan bersama!”
Si kembar pun mengiyakan ajakanku dan kami makan bersama.
Di sela-sela makan, aku sesekali bercerita tentang kejadian yang menimpaku. Mereka pun merespons dengan mengingatkanku untuk selalu berhati-hati dan jangan lupa salat serta meminta perlindungan kepada Allah.
Tak lama kemudian, pembelajaran jam terakhir telah tiba, yaitu pelajaran Kimia. Kami pun pindah ke ruang laboratorium untuk belajar.
Guru Kimia-ku sudah tiba di ruangan sebelum aku dan teman-teman tiba. Nampaknya, guruku itu sudah sedari tadi duduk di kursinya. Beliau terlihat fokus bermain ponsel.
Aku pun masuk ke dalam ruangan sembari menyapanya,
“Siang, Ibu.”
Beliau mengangkat pandangannya dan menatapku. Kemudian, beliau menjawab sapaanku,
“Siang juga. Kalian semangat sekali, ya?” tanyanya sembari melepas kacamatanya.
Temanku yang bernama Nur Asisah menjawab,
“Lima puluh-lima puluh, Bu. Ada semangatnya, ada capeknya.”
Beliau kembali angkat suara,
“Semangat karena apa dan lelah karena apa?”
Asisah pun menatapku dan teman-teman yang lain.
“Mungkin semangat karena cuaca tidak terlalu panas dan lelah karena harus belajar Kimia, Bu. Hehehe.”
Kuakui, dia rupanya berani berkata seperti itu. Padahal, guru Kimia kami terkenal tegas dan wajahnya selalu terlihat serius sehingga aku merasa takut terhadap beliau.
Namun, di luar dugaan, guru kami berkata,
“Hari ini kita tidak usah belajar. Kita cerita-cerita saja. Tapi, kita absen dulu.”
Setelah guruku mengatakan hal tersebut, beliau mulai mengabsen kami satu per satu.
Kemudian, beliau tiba-tiba bertanya kepadaku,
“Indah suka menggambar, ya?”
Aku kaget dengan pertanyaan beliau.
“Eh? Tidak, Bu. Terakhir saya suka menggambar waktu SD saja.”
Beliau tampak mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian, beliau kembali bertanya sembari menatapku,
“Indah, hobi apa?”
Ini adalah pertanyaan yang aku sukai. Entah mengapa, menceritakan hobiku sangat membahagiakan untukku.
“Aku suka menulis dan membuat cerita, Bu.”
Guruku pun tampak tertarik dengan hobiku. Beliau kembali bertanya,
“Oh, hobi kamu seperti kakak kelas kamu itu, ya? Siapa namanya? Irwan Ali, kan?”
Aku tersenyum dan menjawab,
“Aku tidak kenal, Bu. Aku cuma tahu orangnya.”
Saat itu, aku memang tidak mengenal kakak kelasku tersebut. Aku hanya tahu wajahnya karena dia selalu memimpin upacara setiap hari Senin. Beliau juga merupakan ketua OSIS di sekolahku saat itu.
Kemudian, guruku mengatakan bahwa beliau akan menyuruh Irwan, yang merupakan kakak kelasku, untuk mengajakku bergabung di grup daring menulisnya. Aku pun sama sekali tidak keberatan.
“Kamu sudah menulis sejak kapan?” tanya guruku.
Aku menjawab,
“Aku menulis sejak SMP kelas 8, Bu.”
Beliau mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, beliau bertanya kepada teman-temanku yang lain seputar hobi mereka.
Tak terasa, jam pulang pun tiba. Aku dan Cantika menjadi dua orang yang paling terakhir meninggalkan ruangan tersebut bersama guruku. Kami berdua pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu dan meninggalkan guruku seorang diri di sekolah.
Aku dan Cantika berjalan kaki pulang dari sekolah. Sesekali kami berdua mampir di pinggir jalan untuk beristirahat karena merasa lelah berjalan kaki.
Selang beberapa menit, Cantika telah tiba di rumahnya, sedangkan aku masih harus berjalan kaki beberapa menit lagi untuk sampai ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku melihat Mamaku yang sedang menonton TV di ruang tamu. Aku pun bergegas membuka sepatu dan masuk ke rumah.
“Assalamualaikum.”
Mamaku menoleh dan melihatku.
“Waalaikumsalam. Ada kejadian apa hari ini di sekolah?”
Mamaku bertanya tentang keseharianku di sekolah. Aku pun menceritakan semuanya kepada beliau.
Setelah itu, beliau menyuruhku untuk segera makan karena takut maag-ku kambuh jika terlambat makan.
Beberapa hari kemudian, tepatnya hari ini adalah hari Jumat. Aku kembali bersekolah seperti biasa. Namun, pada hari Jumat, sekolahku memulangkan kami semua sebelum pukul 11.00. Mungkin karena hari ini adalah hari Jumat, sehingga kami dipulangkan lebih awal.
Hari itu, setelah pulang sekolah, aku ketiduran dan melewatkan waktu salat Zuhur. Mamaku pun mengomel karena aku sering meninggalkan salat.
Setelah malam tiba, aku ingin makan tumisan sayur kacang panjang. Aku melihat isi kulkas dan ternyata bahan-bahan yang kubutuhkan tersedia. Akhirnya, aku membuat makanan yang kuinginkan, ditemani oleh adikku yang kebetulan ingin melihat cara membuatnya.
Aku pun mulai memasak ditemani oleh adikku, Hilda. Namun, di sela-sela kegiatan memasak, tiba-tiba aku merasa sangat kesakitan di bagian belakang kepala sebelah kiri. Rasa sakitnya begitu kuat hingga aku langsung menangis tanpa berteriak.
Aku menjatuhkan spatula yang sedang kugenggam. Adikku pun panik dan menuntunku menuju ruang tamu.
Mamaku dan Papaku ikut panik. Mamaku bahkan ikut menangis saat melihatku kesakitan. Papaku pun bergegas memanggil Puang Tahi yang kebetulan rumahnya sangat jauh dari rumah kami.
Bibiku beserta adik sepupuku datang ke rumah karena mereka mendengar suara tangisanku.
“Datang lagi sakitnya, Indah?” tanya Bibiku kepada Mamaku.
Mamaku mengiyakan pertanyaan Bibiku.
“Entah obat apa lagi yang harus dicarikan untuk Indah baru dia bisa sembuh. Pusing sekali saya. Sudah ke sana kemari mencarikan dia obat, tetapi tetap saja sakitnya datang. Setiap malam Sabtu selalu datang lagi sakitnya, seperti malam kelahirannya,” kata Mamaku sembari memijat bagian belakang kepalaku.
Aku semakin menangis. Mamaku yang memegang kepalaku kemudian merasakan bagian belakang kepalaku terasa panas.
“Astaga, panas sekali kepalanya!”
Aku pun mulai mengamuk dan memukul tiang meja TV yang ada di ruang tamu. Mama dan Bibiku berusaha menghentikanku.
Kemudian, Bibiku tiba-tiba berkata,
“Kalau sehat-sehat lagi, Indah pasti datang lagi sakitnya. Seperti dipantau saja ini Indah sama orang.”
Mendengar perkataan itu, Mamaku kemudian berkata,
“Maksud saya, biarkan dulu. Kasih selesai sekolahnya Indah. Kalau memang kamu serius, jangan kasih begini Indah.”
