Oleh: Asywaq Fakhriah*

Sejak kecil, saya punya satu mimpi besar: saya ingin memberangkatkan Ayah dan Ibu untuk umroh ke Tanah Suci. Setiap kali melihat orang-orang pulang dari umroh dengan mata berkaca-kaca dan wajah bersinar, hati saya ikut bergetar. Saya membayangkan bagaimana bahagianya Ayah dan Ibu kalau bisa berdiri di depan Ka’bah, berdoa dengan air mata haru.
Ayah dan Ibu saya adalah seorang guru. Setiap hari mereka mengajar dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Meskipun mereka sibuk mendidik banyak anak, kehidupan kami sederhana. Mereka tidak pernah mengeluh, meskipun sering lelah dengan tugas-tugas sekolah. Semua mereka lakukan demi keluarga dan masa depan saya.

Dari situ saya bertekad dalam hati, saya ingin membalas semua kebaikan mereka dengan sesuatu yang berharga. Bukan barang, tapi pengalaman suci: perjalanan umroh.
Saya mulai mewujudkan mimpi ini dengan cara sederhana. Setiap uang jajan yang saya dapat, saya sisihkan sedikit demi sedikit ke dalam celengan berbentuk Ka’bah yang saya beli. Saya menamainya “Celengan Doa”. Meskipun jumlahnya kecil, saya percaya tabungan itu akan berarti besar suatu hari nanti.

Selain itu, saya juga berusaha bantu Ayah dan Ibu semampu saya. Saya bantu mereka menyiapkan perlengkapan mengajar, membantu di rumah, dan terkadang ikut bantu kegiatan kecil yang bisa menghasilkan sedikit uang tambahan. Saya tidak punya prestasi ranking atau beasiswa seperti teman-teman lain, tapi saya percaya bahwa kerja keras dan niat tulus juga bisa membuka jalan.Perjalanan ini tidak selalu mudah. Kadang tabungan saya harus dipakai untuk keperluan mendadak di rumah. Kadang juga saya merasa minder melihat teman-teman yang berprestasi tinggi dan punya banyak peluang. Tapi saya selalu ingat satu hal: mimpi saya bukan untuk bersaing dengan orang lain, tapi untuk membahagiakan orang tua saya sendiri.

Ada saat di mana Ayah dan Ibu terlihat sangat lelah, tapi mereka tetap tersenyum dan tidak pernah berhenti mengajar. Melihat semangat mereka, saya jadi malu kalau menyerah. Saya bangkit lagi dan terus menabung meski sedikit demi sedikit. Perjalanan saya untuk mewujudkan mimpi ini tidak mudah. Saya bukan anak yang ranking, bukan pula penerima beasiswa. Tapi saya belajar bahwa yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa kuat kita bertahan dan seberapa tulus niat kita.

Saya percaya, setiap usaha kecil yang dilakukan dengan hati akan selalu dilihat oleh Allah. Walaupun mimpi saya belum sepenuhnya terwujud saat ini, saya akan terus berjuang sedikit demi sedikit. Saya yakin, suatu hari nanti saya bisa melihat Ayah dan Ibu tersenyum bahagia di Tanah Suci, melaksanakan umroh dengan penuh haru dan syukur.

Inilah mimpi saya. Mimpi seorang anak untuk membahagiakan kedua orang tuanya dengan cara yang paling mulia: mendekatkan mereka kepada rumah Allah.

Watansoppeng, 20 Oktober 2025

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas VIII.4

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *