Oleh: Adhini Khumairah Latifa
Hai, semuanya. Di sini, aku akan berbagi cerita tentang diriku yang kini sudah tenang dan tak lagi memikirkannya. Tapi sebelum aku bisa seikhlas ini, banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku. Malam demi malam, aku habiskan untuk mencari jawaban apakah aku layak dicintai?
Tanpa kusadari, semesta telah memberiku jawaban: aku harus rehat sejenak, berhenti memikirkan percintaan, dan fokus pada apa yang akan terjadi ke depan. Memikirkan semua yang telah terjadi dan menyesalinya tak akan mengubah apa pun, bukan? Semua itu hanya lingkaran tanpa akhir, hingga akhirnya aku menyerah untuk bersamanya.
Banyak hati telah kupatahkan demi dirinya, seseorang yang tak mengenal kata cukup. Semesta ada benarnya; aku harus berhenti di sini. Terlalu banyak kekuranganku untuk bersanding dengan manusia yang mendambakan kesempurnaan. Hari demi hari kulalui tanpanya, dan dunia tetap berputar sebagaimana mestinya. Aku masih bisa menemukan banyak tawa dan kebahagiaan dari berbagai hal. Tak ada salahnya melupakan sesuatu yang hanya membawa luka.
Cukup sudah kisah kemarin. Banyak hal telah kulewati, dan kini aku tak lagi memberikan hatiku sepenuhnya kepada orang yang salah. Aku tak akan lagi menoleh ke belakang hanya karena rindu. Semua ini telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku, dan setiap masa memberikan kesan tersendiri. Aku tak akan lagi memberikan ruang untuknya.
Dari sini aku belajar bahwa mengikhlaskan sesuatu berarti percaya dan yakin pada diri sendiri, karena pasti akan ada hal-hal baik yang menanti di depan. Bukan tentang cinta yang harus selalu berbalas, melainkan tentang masa remaja yang seharusnya tak terlalu peduli pada urusan percintaan. Hidup tanpa cinta tak membuatku menyerah pada dunia yang terus berputar.
Watansoppeng, 3 Februari 2025
