Saat Alex dan kucing hitamnya berjalan menjelajahi hutan dengan menaiki kuda, sesuatu yang tak terduga terjadi. Kucing itu tiba-tiba berubah menjadi seorang putri hutan yang sangat cantik. Alex terkejut melihat kejadian itu.
Mereka berhenti di tengah hutan, dan Alex menatap putri itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Alex: “Halo, Nona. Mengapa Anda berada di sampingku?”
Dengan wajah bingung, Alex mencoba mencari jawaban atas keanehan ini.
Putri Hutan: “T…ter…ima… kasih…”
Putri itu mengucapkan kata-kata lemah sebelum menghela napas panjang. Namun, sebelum Alex bisa bertanya lebih jauh, tubuh putri itu mulai memudar seperti hendak pergi ke dimensi lain.
Alex: “Hei! Kalau bicara, jelaskan dengan jelas dong!”
Dengan rasa bingung dan sedikit ceroboh, Alex justru memarahi putri yang terlihat lemah itu.
Meski begitu, Alex memutuskan melanjutkan perjalanan bersama sang putri hutan. Mereka melangkah semakin jauh hingga akhirnya tiba di sebuah desa manusia bernama Desa Alvachery. Namun, Alex yang merupakan vampir ditakuti oleh manusia merasa gusar.
Di dalam dirinya, Alex menghadapi pilihan sulit. Ia merasa tersobek oleh dua keinginan: di satu sisi, ia ingin melindungi putri hutan yang mulai mengisi hatinya dengan kehangatan, membuat hati beku miliknya perlahan meleleh. Namun di sisi lain, ia tak ingin kehilangan gelarnya sebagai “The Sacred Vampire of Pekhopians Nation” (Vampir Keramat dari Bangsa Pekhopians). Gelar itu adalah simbol kehormatan di Kerajaan Vampir, Pekhopians, tetapi juga menjadi beban berat yang harus dipikul Alex.
Sementara Alex tenggelam dalam kebingungan, tiba-tiba kalung milik putri hutan itu mulai bersinar. Aura dari kalung yang disebut “The Sari Gemstone Necklace of Kalhecriea” itu menunjukkan arah tertentu. Kalung tersebut ternyata adalah warisan pusaka berharga dari Kerajaan Kalhecriea.
Alex mengikuti arah aura dari kalung tersebut. Dengan segera, ia memacu kudanya lebih cepat agar aura itu tak menghilang. Namun, di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh sebuah sungai suci. Sungai itu dikenal memiliki kekuatan untuk menyucikan seluruh makhluk hidup yang melewatinya.
Alex merasa cemas. Sebagai makhluk kegelapan, ia takut kekuatan sucinya akan mengubah dirinya. Namun, demi menyelamatkan putri hutan yang sakit, ia memutuskan melangkah maju. Ketika kuda yang ditungganginya mulai menyeberang, kaki kuda hitam itu berubah menjadi putih cemerlang. Alex terkejut, tapi ia tetap melanjutkan langkahnya.
Saat tubuh Alex menyentuh air sungai, sesuatu yang ajaib terjadi. Rambutnya, pakaiannya, dan seluruh auranya yang gelap berubah menjadi cahaya indah yang memancar. Alex kini bukan lagi vampir kegelapan, melainkan sosok yang dipenuhi cahaya. Meski merasa sedih kehilangan gelarnya, Alex mulai menerima perubahan itu dengan hati lapang.
Setelah menyeberangi sungai, mereka tiba di sebuah desa yang sangat mewah, sederhana, dan indah. Namun, di depan mereka berdiri gerbang besar milik Kerajaan Erchelf, tempat Desa Kalhecriea berada.
Penjaga gerbang menghentikan mereka.
Penjaga Gerbang: “Halo, Tuan. Apa keperluan Anda ke sini?”
Alex: “Selamat malam. Saya diarahkan ke sini oleh putri ini.”
Penjaga Gerbang: “Tuan! Putri ini adalah putri kerajaan yang hilang dari Kerajaan Erchelf! Di mana Anda menemukannya?”
Alex menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya.
Penjaga Gerbang: “Tuan, Anda dipersilakan masuk. Biarkan kami mengurus Tuan Putri ini.”
Alex: “Baik, terima kasih atas izin Anda.”
Alex memasuki desa itu bersama kuda yang membawa sang putri hutan.
Namun, di dalam hatinya, berbagai pertanyaan muncul:
- Apa yang akan Alex lakukan di dalam desa ini?
- Akankah identitas Alex sebagai vampir terbongkar?
- Apakah Alex akan diusir dari Desa Kalhecriea?
- Apakah keberadaan putri hutan akan memicu perang saudara di Kerajaan Alvachery?
Semua ini akan terjawab di kisah selanjutnya. Jangan lewatkan cerita berikutnya!
*Penulis adalah Siswa Kelas 8.2 SMPN 1 Watansoppeng
