Oleh: Reisya Alfi
Ada bekas tapak yang tertinggal di lorong waktu,
langkah-langkah yang tak tahu arah,
seperti angin yang menghembus tak beraturan,
menyapu kenangan yang pernah utuh.
Kau berjalan di antara bisik,
suara-suara yang tak kau kenali lagi,
mereka pernah memanggil namamu,
tapi kini hanya gema hampa yang tersisa.
Setiap pagi, kau mencoba menyusun kembali,
potongan-potongan yang tak pernah sempurna,
namun selalu ada sesuatu yang hilang,
yang tak bisa kau temukan dalam hembusan debu waktu.
Apa arti rumah, jika angin yang kau tunggu,
tak pernah membawa kehangatan,
hanya dingin yang menelusup di sela-sela sunyi,
dan kau tetap mencari arti pulang.
