Oleh: Zahra Mutia Syafirah
Gadis yang hidupnya terus menerus menjumpai titik terendahnya, yang tumbuh bersamaan disertai ribuan asa kulawangsa, hati yang kerap kali dipatahkan, dan rumit dirinya yang begitu sukar dipahami. Dia adalah rapuh yang dipaksa kuat, dan beberapa pecahan yang disusun berulang kali. Disertai dua tangan kecilnya, dengan peluk yang ingin ia lebarkan, untuk siapapun itu.
Tak jarang ia bergelut di ruang kalut, dengan isi kepala yang bundak dihujam waktu, seraya menjenguk jati diri yang entah ke mana perginya. Langkahnya yang terseok-seok sebab sesak akan arah yang akan ia tempuh. Tuturan orang-orang yang tengah berkelakar bagaikan tepat berada di pusat pendengarannya. Seperti sebuah lengkara baginya untuk menjamu reda.
Pada pantulan bayangan sosoknya yang kelam, penglihatannya tertuju pada tumpukan buku pada meja, bidang datar berwarna kecoklatan miliknya. Meraih satu persatu buku kesenangannya, ia baca sampai tuntas walau jenuh menyesaki raga.
Dia menoleh pada kaca yang tergantung pada dinding, dengan beberapa bagiannya yang mulai retak. Ia sunggingkan senyum yang menurutnya sedikit lebih baik, lalu bergumam,”Walau seletih apa pun, hidup akan tetap berjalan.”
