Oleh: Aprilia Harlina

Ini masih cerita dari hari ini, di mana aku masih megap-megap menatap masa depan dan berlayar terombang-ambing mencari tempat berlabuh. Kulihat delapan formasi permainan itu, tak kutemukan makna satu pun. Aku masih menimbang-nimbang akankah diriku masih sempat melihat hal seperti ini lagi nanti di masa depan.

Kebahagiaan, keceriaan, derai tawa terdengar memenuhi ruangan ini. Tapi tidak dengan diriku.Aku hanya seorang anak panti asuhan. Selalu berdiri di atas perkataan orang-orang yang beranggapan bahwa seorang anak tanpa bimbingan orangtua hanyalah budak. Tidak, aku menolak hal itu semua. Aku berkeyakinan bahwa aku bisa membawa diriku menggapai cita-cita. Namun, pernah pada suatu ketika, semangatku menguap karena kesombonganku.

Kemarin lusa aku mengikuti Olimpiade Matematika di kecamatan. Aku diberi kepercayaan untuk mengikuti olimpiade itu. Setiap soal yang kubaca, aku selalu berpikir: Seperti inikah alur kehidupan yang sebenarnya? Perlu dipikirkan dan dijalankan? Harus berani menuliskan dan menerima risiko apa pun itu? Selama ini aku tidak merasakan, hanya bisa berpangku tangan kepada orang-orang.

Selalu berharap mendapatkan ribuan motivasi, ribuan inspirasi dari orang-orang tentang kehebatanku. Namun, di sini kutemukan cahaya bening yang merefleksikan kebenaran itu. Cahaya yang menyilaukan jiwaku hingga membutakan kehebatan akan diriku. Aku tersadar. Aku tersadar ternyata banyak di luar sana yang lebih hebat dariku. Yang mempunyai keberanian merajut mimpi-mimpi, berusaha sendiri tanpa membebani orang lain, sebelumnya.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *