Oleh: Ryan Hidayat*
Di lingkungan sekolah pasti kita pernah melihat anak-anak nakal yang merasa dirinya hebat, bajunya di luar, tidak disiplin dan sifatnya yang tidak disenangi oleh guru. Mungkin dia memang tidak ada niat sekolah sama sekali.
Banyak orang yang datang di sekolah bukan untuk belajar melainkan hanya ingin bertemu teman-temannya dan memang tidak berniat mendapat nilai dan respect dari seorang guru. Baginya itu hanyalah angka dan bukan penentu kelulusan. Yaahh, benar. Angka tidak menjadi satu-satunya penentu kelulusan tapi menjadi salah satu tolak ukuran keaktifan dalam belajar sesuai kurikulum pembelajaran.
Senin, hari di mana semua siswa-siswi dan guru melaksanakan upacara, aku berdiri tegak dan hampir tidak ada gerakan melihat bendera yang sudah setengah tiang. Tapi, di sudut lain aku melihat banyak sekali anak yang bolos. Yah, mungkin karena mereka takut panas. Maklum Cream Care lagi mahal.
Laki-laki maupun perempuan yang sering bolos, entah mereka tidak mengetahui tentang arti pendidikan ataukah memang tidak ada lagi rasa empati kepada kedua orang tua yang selama ini membiayai sekolahnya dan memberi uang jajan setiap hari. Apakah mereka tidak memikirkan bahwa mereka adalah harapan orang tua. Orang yang selama ini tak pernah lupa menyebut nama anaknya dalam setiap doa dan sujudnya.
Melihat bendera setengah tiang dan semangat teman-teman dalam mengikuti upacara bendera, saya teringat pada sang orator ulung peletak dasar ideologi bangsa, the founding father, Bung Karno yang mengatakan berikan 100% atau tidak sama sekali. Sebagai pelajar masa kini, kita bisa memaknai bahwa ketika kita hanya setengah-tengah dalam menuntut ilmu, mending kita ke ladang saja membantu orang tua. Itu lebih jelas, dibanding ketika kita menghabiskan waktu sekolah selama puluhan tahun, tapi karena sudah terbiasa dengan sikap malas, akhirnya kita hanya menjadi badut kehidupan.
*Penulis adalah siswa SMPs Haji Agussalim Katoi, Kolut
