Setelah pihak kepolisian membuka dan memastikan bukti yang ditinggalkan Reyhan, pihak stasiun televisi mengumumkan berita tentang penangkapan pelaku pembunuhan yang membunuh dua siswi SMA.
Namun di pemberitaan tidak dikatakan bahwa pelaku telah meninggal dan juga identitas pelaku telah dipalsukan seperti yang ada pada bukti terakhir yang tertulis dalam kertas berisi identitas pelaku
Setelah pemberitaan itu, tidak ada lagi muncul korban pembunuhan.
*
“Kak Tia..” panggil Fina ketika Tia turun dari mobil dan berjalan ke arah gerbang.
“Hai… kamu kayaknya gembira banget” ucap Tia.
“Iya kak… aku bahagia sekali” ucap Fina.
“Memangnya ada kabar apa? kok kamu bahagia sekali. Kabarnya bagi-bagi dong… dapet pacar ya?” ucap Tia.
“Isht, kak Tia kok dapet pacar sih… aku kan sukanya kak Reynal.. Eh keceplosan” ucap Fina menutup mulutnya dengan tangan.
“Ngomong apa barusan?” ucap Tia menatap tajam kearah Fina.
“E…enggak kak… cuma bercanda.. Fina senang karena pelaku yang ngebunuh Selin udah tertangkap” ucap Fina.
“Benarkah?” tanya Tia seolah tak tahu.
“Iya kak” jawab Fina dengan gembira.
“kapan pelakunya tertangkap?” Tanya Tia lagi.
“Menurut di berita kemarin malam kak” ucap Fina dengan polosnya.
“Oh gitu… ya udah kamu masuk ke kelas gih.. bel bentar lagi bunyi” Ucap Tia.
“Ya udah kak Tia.. Fina ke kelas dulu. Sampai nanti” ucap Fina berlari sambil melambaikan tangan pada Tia.
*
“Tia… kok ngelamun aja” Tanya Fiki yang melihat Tia hanya mengaduk-aduk makanannya.
“Lagi gak nafsu makan Fik” ucap Tia.
“Mau gua suapin gak?” ucap Reynal yang berada di samping Tia.
“Boleh… eh nggak deh” ucap Tia.
“Ya udah kalau gak mau” ucap Reynal.
“Dibujuk kek… apa kek… malah cuek… au ah sebel” ucap Tia melipat tangannya di depan dada.
“Au ah gua budeg” ucap Reynal.
“Kalian berdua gak berubah… ” ucap Fiki.
“Lu aja yang berubah” ucap Reynal menyantap makanannya.
Tak lama, bel masuk berbunyi. Seluruh siswa termasuk Fiki, Reynal dan Tia bergegas masuk ke dalam kelasnya.
Pelajaran berlangsung seperti biasa dan akan ada tugas yang diberikan setiap akhir jam pelajaran.
“Fik pulangnya bareng gua yah” ucap Alfin
“Emangnya kamu tau rumah bokap gua” ucap Fiki.
“Yah… gue gak tau sih” Ucap Alvin.
“Kalau gak tau gak usah ngajak” ucap Reynal yang muncul dari belakang.
“Lu gak usah ikut campur” ucap Alfin menunjuk ke arah Reynal.
Melihat itu, Reynal langsung memegang tangan Alfin kemudian menghimpitnya di dinding.
“Gua gak suka ditunjuk-tunjuk sama orang lain. Lain kali mungkin telunjuk lu bakalan ilang…Kamu paham” ucap Reynal yang berbicara di dekat telingah Alfin.
“Woy… ngapa hayo” ucap Tia
“Hust gak usah ditegur… lagi nikmatin gua” ucap Fiki yang langsung ditabok Tia pake buku.
“Rey udah balik..” ucap Fiki
Reynal pun melepaskan Alfin yang bermandikan keringat mengingat ancaman Reynal
“Fin… maafin abang gua yah… dan yang dia bilang gak usah dipikirin… dia cuman becanda… gua balik duluan yah… makasih udah ngajakin” ucap Fiki.
*
“Bos… saya mendapat petunjuk tentang keberadaan Karel dari mata-mata saya yang di Amerika”Ucap Derta.
“Bagus… Derta. Terima kasih sudah setia di sisiku” ucap Jerry.
“Ini hanya sebagai ungkapan terima kasih karena bos sudah sangat sering membantu saya dan keluarga” ucap Derta.
“Derta, kau sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Kau selalu di sisiku dan menjadi orang yang dapat kupercaya” ucap Jerry.
“Saya merasa terhormat jika bos berkata seperti itu” ucap Derta.
“Tidak perlu terlalu formal Derta” Ucap Jerry.
‘Maaf bos.. aku sudah pernah membohongimu’ Batin Derta.
Setelah itu, Derta keluar dari dalam kamar Jerry. Jerry berjalan ke arah kasurnya dan melompat ke atas kasur kemudian tertidur.
Baru saja menutup mata, tiba-tiba suara notifikasi dari telepon genggamnya membuatnya membuka mata kembali.
Jerry meraih Handphonenya yang terletak di atas meja. Kemudian, Jerry membuka sebuah pesan dan membacanya.
Setelah membaca itu, wajah Jerry menunjukkan ekspresi bingung yang seolah-olah mencerna isi pesan itu.
Keesokan harinya, Jerry menggunakan identitas Reynal dan pergi ke suatu tempat yang lokasinya telah dikirimkan oleh seseorang semalam. Sesampainya di lokasi, Jerry berjalan dengan hati-hati sambil waspada dengan sekitar. Setelah beberapa lama berjalan, dua pria berseragam hitam menghampirinya.
Melihat itu, Jerry langsung memasuki mode tempur. Namun, kedua pria yang datang tidak memiliki niat untuk bertarung. Dua orang tersebut berhenti di depan Jerry sambil membungkuk. “Tuan muda… anda sudah ditunggu… silakan lewat sini” ucap salah satu pria itu.
Jerry yang bingung hanya mengikuti mereka berdua untuk menuntaskan kebingungannya. Mereka bertiga menaiki lift. Setelah beberapa saat, lift berhenti di lantai 12 gedung itu. Kedua pria itu menuntun Jerry menuju sebuah ruangan.
“Kami hanya bisa mengantar sampai sini. Tuan muda sudah ditunggu di dalam” ucap salah satu pria itu.
Jerry melangkah maju dan mendorong pintu ruangan. Saat Jerry memasuki ruangan, ia melihat seorang pria sedang duduk membelakanginya. Jerry yang dari semalam bingung dengan isi teks dan panggilan tuan muda pun langsung melontarkan beberapa pertanyaan pada pria yang sedang duduk di kursi tersebut.
“Apa maksud dari pesan yang kamu kirim semalam dan bagaimana kamu mendapatkan nomorku? Mengapa anak buahmu memanggilku tuan muda. Apa maksud ini semua?” Tanya Jerry.
“Sepertinya kau sangat tidak sabaran. Mungkin karena ketidak sabaranmu orang itu menipumu…” ucap Pria itu sambil memutar kursinya menghadap ke arah Jerry.
Ketika pria itu berbalik, alangkah terkejutnya Jerry melihat siapa sebenarnya pria di depannya.
*Karya Muh. irwan ali dari SMAs Haji Agus Salim Katoi
