Oleh: Anugrah Dwi Junianti
(Flashback)
Saat itu dua insan sedang duduk berdua di taman yang ramai setiap malam minggunya, Sedari tadi mereka bercanda, tertawa, dunia serasa milik berdua. Mereka sangat dekat seperti sepasang sepatu. Perempuan itu tidak hentinya tertawa pada lelucon yang lelakinya buat.
“Sudah, sudah, sudah ya ketawanya” ucap lelaki itu yang kerap dipanggil Jibran, berusaha menenangkan perempuannya yang sedang tertawa tak hentinya.
“Jihan, udah yuk ketawanya, nanti kalau pulang kamu nangis lho” perempuan yang dipanggil pun yang tadinya tertawa kini sudah mulai berhenti.
“Kamu beneran engga nyembunyiin sesuatu kan?” Entah mengapa Jihan tiba-tiba menanyakan hal ini kepada Jibran. Jibran yang mendengar itu kaget dan bingung.
“Han, kamu kok mikirnya gitu?” tanyanya seolah bingung dengan pertanyaan Jihan.
Jihan lalu menatap mata Jibran, dan menggenggam tangan Jibran lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berkata,”Ji, aku akhir-akhir ini overthinking mau di kamar atau di mana itu” jujurnya pada Jibran lalu lagi dan lagi menghembuskan nafasnya kasar.
Jibran yang melihat Jihan tengah terlihat benar-benar susah pun dengan pelan menarik tangan mungil milik Jihan dan memeluk tubuh kecil itu. Tangan yang besar itu mengusap pelan punggung Jihan untuk memberi ketenangan pada Jihan.
“Aku beneran takut. Aku takut yang aku pikir selama ini beneran terjadi. Ji, aku beneran takut. Kamu engga gitu kan Jib?” tuturnya seolah mengartikan banyak ketakutan yang Jihan pikirkan.
“Jihan cantik.. bocilnya Jibran yang cantik. Cil, aku engga bakalan kayak gitu kok. Itu cuman pikiran kamu aja cil. Di sini aku sama kamu. Kamu percaya kan sama aku Cil? Udah ya cil. Kamu jangan berpikir berlebihan kayak gitu lagi ya?? bocilku ini cuman butuh istirahat, kamu yang teratur tidurnya ya cil” ucap Jibran yang kini masih memeluk tubuh mungil itu. Jibran berusaha membangkitkan Jihan yang sedang bingung dengan pikiran yang ada di dalam kepalanya itu.
Jihan yang mendengar itu juga berusaha melupakan hal yang negatif tentang Jibran dan hubungannya. Jihan lalu sedikit mencium pipi milik Jibran, dan kembali fokus dalam dekapan yang hangat milik tubuh orang yang ia cintainya itu.
“Ayo pulang cil, udah malem nanti dicariin” ajak Jibran pada Jihan.
Akhirnya mereka berdua memutuskan pulang karena jam sudah mulai menunjukkan pukul sepuluh, artinya Jihan sudah harus pulang. Jibran pun mengantar Jihan pulang, tapi sebelum itu, Jibran mengajak Jihan mengelilingi kota sebentar, lalu Jibran pun mengendarai motornya menuju rumah Jihan.
• • •
Hari mulai pagi, matahari mulai menampakkan dirinya di muka bumi ini. Jihan masih saja di atas kasurnya karena hari libur. Biasanya Jihan lebih awal terbangun dari tidurnya. Pagi ini tidak, Jihan masih saja nyaman berada di tempat tidur kesayangannya itu.
Tidak lama ada suara getaran dari meja kecil milik Jihan disertai dengan suara yang sangat besar mengganggu tidur Jihan yang sedang berada di alam mimpi yang indah.
drrttt!! drrttt!! drrttt!
“Siapa sih, ganggu aja orang lagi enak-enaknya tidur” keluh Jihan dan meraih ponselnya yang sedang bergetar.
. . .
Setelah mengakhiri telepon dengan sepihak, tanpa sadar mata Jihan terlihat berkaca-kaca. Dirinya terpaku melihat lurus ke arah langit kamarnya. Air matanya tidak terbendung lagi dan mengalir jatuh ke pipi kiri dan kanan.
Jihan merasa sesak, nafasnya memendek. Jihan merasa dadanya tertimpa batu yang berat menghimpit sehingga merasakan sakit yang begitu tak biasa. Jihan tidak hentinya mengingat apa yang temannya Lara itu katakan lewat telpon.
Isi percakapan di telpon..
“Han, jangan kaget”
“Iya kenapa?
“Hari ini gue ngeliat cowo lo lagi sama Jeya. Mereka gue ikutin dari tadi. Awalnya gue liat mereka lagi lari pagi bareng, terus mereka sarapan bareng lagi. Mereka pergi ke mini market gitu, terus waktu mereka mau pisah, gue liat dengan jelas Jeya sama cowo lo pelukan. Pelukannya bukan pelukan sebagai temen”
“…”
“Han, sorry, tapi gue pengen ngasih tahu lo, biar lo engga berkelanjutan sakitnya.”
“Thanks ya.”
“Han, tunggu gue di situ. Nangis aja, gue tau lo sakit banget.”
Tut..tut..
Telpon terputus dari pihak Jihan sendiri.
Dengan keras Jihan memukul dadanya, menangis tanpa suara, merasakan seluruh kehidupannya kini sudah hancur. Semua yang ia impikan telah terpecah belah. Hal yang Jihan takutkan telah terjadi.
Trauma yang sudah mulai tenang pun kembali kambuh setelah semua ini terjadi.
