Oleh : Nurul Rahmayani Sultan

Setelah kepergianmu yang hanya menyisakan luka serta duka, senyumku yang dulunya sangat tulus kini berubah menjadi palsu. Sangat bohong bagiku jika aku bisa mengikhlaskan kepergianmu. Terkadang aku mengajarkan orang-orang di sekitarku untuk ikhlas tetapi aku sendiri tak tahu cara mengikhlaskanmu.

Di sore hari aku duduk terdiam menatap langit sambil mencari keberadaanmu. Langit begitu indah. Namun, aku sama sekali tak menemukanmu di sana. Konyol sekali rasanya bagaimana mungkin aku bisa menemukanmu.

Tak terasa kepergianmu yang awalnya ditangisi banyak orang kini sudah dilupakan begitu saja. Akan tetapi baguslah, dengan begitu kamu bisa tenang kan? Tapi jujur saja setelah kepergianmu itu tak ada lagi yang bisa mengobati lukaku. Yah betul. Kamu adalah obat di kala aku terluka. Namun, setelah kepergianmu tak ada lagi obatnya.

Hampa sekali rasanya tanpamu. Apakah kau tahu bahwa kepergianmu itu membuatku rapuh? Dulu aku menemukanmu di kala aku rapuh dan terluka. Kamu menghibur dan membuatku tertawa. Sekarang tak ada lagi yang membuatku seperti itu.

Kamu adalah orang yang baik, bahkan bukan baik lagi tapi sangat baik. Pantas saja kamu cepat pergi. Biasanya orang yang baik itu akan cepat sekali perginya.

Setelah sekian lama larut dalam luka, duka, dan rapuh yang kau buat, kini sudah saatnya untuk sadar dan memulai semua dari awal tanpamu. Semua rapuh itu kita susun rapi dan simpan dan hanya diri sendiri yang mengetahuinya.

Watansoppeng, 22 Desember 2022

(Visited 34 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *