Oleh : Aisyah Nur Adhayani
Ini tentang kita. Dua insan yang dipertemukan oleh semesta. Hai kamu, apa kabar? Mungkin keadaan kita sudah tidak sama seperti dulu. Namun, perasaan ini masih tetap seperti saat kita pertama kali bertemu di kelas yang sama bulan Juli lalu. Yang jelas, aku masih ingat awal kita bertemu. Masih ingat caramu menatap mata ini. Masih ingat caramu membuatku tersenyum.
Tentang kamu yang menjadi obat sekaligus luka. Tentang kamu yang membuat hatiku terisi sepenuhnya. Tentang kamu yang selalu ada di pikiranku. Aku mencintaimu bukan karena siapa dirimu, melainkan apa yang terjadi saat bersamamu. Aku selalu ingat lelucon, pujian, nama samaran yang kamu berikan ke aku. Teman-teman selalu menyuruhku untuk berhenti berharap kepadamu yang tidak pasti. Aku juga selalu meminta kepada Tuhan, jika memang kau bukan untukku, hilangkanlah rasa ini.
Namun, entah kenapa semakin hari rasa cinta ini semakin bertambah. Dirimu benar benar membuat diriku tak tertarik lagi pada orang lain. Seburuk-buruknya kamu di mata orang lain, di mataku kamu itu lebih dari kata sempurna. Aku ingin kamu menjadi yang pertama dan terakhir di hati ini. Makasih karena menjadi salah satu tokoh favorit dalam ceritaku. Karenamu, hari-hariku lebih berwarna.
Kamu Renjana. Mata teduh bagai jelaga, eksistensi satu di antara sejuta. Aku ingin kita seperti air laut yang pasang dan surut tetapi tidak pernah berubah rasa. Aku berharap, dengan jarak kita yang sekarang, hari ini,esok, dan seterusnya di hati kamu tetap namaku ya? Jangan pernah berubah. Karena di buku ini, yang ada hanya kamu dan selalu kamu.
Aku tau, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku juga tau people come and go, that’s fact. But, I want you to stay. I love you today, tomorrow, and forever.
Watansoppeng, 17 Desember 2022
