Langit-langit ruangan berwarna putih pucat, dindingnya juga
berwarna sama. Ada satu ranjang di samping tempat tiduryang ditutupi
dengan tirai berwarna biru muda sebagai pembatas sesama pasien. Di
sebelah kanan terdapat meja putih, ada nampan, satu piring serta
mangkok yang diisi sayur sop. Nasinya dibentuk seperti kepala beruang,
dihiasi timun dan tomat sebagai wajahnya.
Samar-samar ia melihat ada dua orang yang sedang duduk
berbicara dengan muka cemas, Umi dan Abi. Ia berusaha
menggerakkan jari-jarinya, ingin menggapai tangan orang tuanya.
“Aaaargh….”
“Eh, Aulya sudah bangun?” seru Umi.
“Anak Abi sudah bangun, ya. Alhamdulillah….”
Ruangan terasa dingin oleh AC yang dipasang tepat di atas pintu
masuk. Ia melihat wajah kedua orang tuanya, bingung. Dimanakah ini?
Mengapa ia terbaring lemah di tempat tidur?
Umi dan Abi menatapnya dengan sorot mata bahagia sekali.
“Lya sekarang di rumah sakit… Kamu tiba-tiba pingsan di
sekolah.” Lya, itulah panggilan kesayangan keluarganya.
“Abi telepon Eyang dulu ya. Ngabarin biar ke sini lihat cucunya.”
Abi keluar kamar sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“Lya harus nginap beberapa hari dulu ya nanti baru pulang ke
rumah,” jelas Umi.
“Iya, Umi,” suara kecilnya lirih terdengar.
“Oh ya,” tambah Umi. “Lya punya teman di kamar ini,” ditudingnya
ranjang di sebelah. Eh, lagi tidur dia. Sudah malam nih, Lya.”
“Iya, Mi, gak apa-apa. Lya ngantuk juga….”
Ia pun berusaha untuk memejamkan mata lagi, tidak butuh lama
baginya untuk terbuai bersama angan dan mimpi kecilnya.
Pukul 07:00 pagi yang cerah, ia bangun dengan perasaan lebih
bugar. Matanya langsung mencari sosok uminya. Dari arah kamar mandi
terdengar suara air mengalir. Tak berapalama kemudian uminya muncul
dan tersenyum penuh kasih.
“Kirain Umi pergi,” sapanya lega.
“Wah, gak mungkinlah Umi tega meninggalkan anak kesayangan.”
Umi menghampirinya.
“Assalamu alaikum,” salam seseorang dari balik pintu.
“Wa alaiumussalam….” Umi membalasnya. “Eh, Umi Fadhil.”
Seorang perempuan sebaya Umi memasuki kamar rawat. Ia
mengenakan gamis biru dongker di ujung baju bagian bawah ada motif
motif bunga. Di bagian lengannya ada tali yang menjuntai. Cantik.
“Terima kasih, ya, sudah jagain Fadhil.”
“Iya, santai saja…. Fadhil sudah tenang dan tidur nyenyak
semalam.”
Ini ruang rawat inapu ntuk anak-anak. Di rumah sakit ini pasein
anak-anak masih dicampur. Maklum, rumah sakit di daerah, fasilitasnya
tidak selengkap rumah sakit kota.
Umi Fadhil menatap ke arah Aulya.”Bagaimana sudah enakan, ya
Cantik?” sapanya seraya tersenyum manis.
“Iya, Tante,” sahut Aulya.
Umi Fadhil menghampiri ranjang putranya. Menyingkap tirai yang
menghalanginya. “Kalian sudah kenalan belum, ya? Aulya ini Fadhil
anak Tante.”
Aulya melihat ke arah anak laki-laki yang terbaring dengan
berselimut, seperti kedinginan. Wajahnya pucat, matanya menatap ke
langit-langit ruangan. Anak itu melirik sekilas ke arahnya, kemudian
kembali menatap ke langit-langit kamar. Tatapan kosong, seperti
menerawang sesuatu.
Aulya tertegun melihat kelakuannya yang tak pedulian begitu.
Namun, hari-hari selanjutnya mereka mulai akrab. Mereka boleh
bermain di taman bermain.
“Kamu sakit apa sebenarnya, Fadhil?” tanyanya suatu kali.
“Kata Umi pes, pes, eeeh….” Anak kelas satu SD itu mengerutkan
keningnya.
“Pesing apa?” tukas Aulya tertawa.
“Haiiish, bukanlah. Pesing kan bukan penyakit….”
“Iya, itu sih bau pesing. Hihi….”
Keduanya seketika tertawa gelak. Ya, mereka bisa canda dan
tertawa riang. Bisa melupakan rasa sakit dan kebosanan diopname.
Mereka bahkan bertukar impian dan cita-cita.
“Tadi malam aku mimpi dikejar hantu,” cetus Aulya suatu pagi.
“Seperti apa hantu di mimpi kamu?” tanya Fadhil penasaran.
“Seperti muka kamu tuh. Hihi!” tuding Aulya menunjuk hidung
Fadhil.
Fadhil tak marah disamakan dengan hantu. Ia malah mematut
tampangnya jadi seram. Mata melotot, lidah terjulur dan kedua tangan
diangkat seperti hendak menangkapnya.
“Auuuuuw, takuuuut! Ada hantuuu!” seru Aulya heboh.
Para perawat pun mendadak heboh. Karena Fadhil seperti serius
berlagak hendak menangkap Aulya. Jadi Aulya berlari memutari
ranjang, bahkan akhirnya keluar ruangan. Mereka baru berhenti kejar-
kejaran, setelah Suster Kepala datang.
“Kalau gak berhenti, nanti dipasang infus lagi!” ujar Suster Kepala.
“Ampuuuun! Jangan diinfuuuus!” teriak Fadhil dan Aulya.
Keduanya kembali ke kamar dan patuh berbaring kembali di
ranjang masing-masing. Tak lama kemudian terdengar gelak tawa
keduanya. Para perawat hanya bisa geleng kepala sambil menahan geli
juga. Kelakuan mereka memang lucu dan menggemaskan.
Dua pekan mereka dirawat di rumah sakit daerah itu. Hingga suatu
hari mereka harus berpisah.
“Fadhil sudah sehat nih, Aulya,” kata Umi Fadhil. “Kami pulang
dulu, ya. Aulya cepat sehat, ya, biar segera pulang.”
“Kapan-kapan semoga kita ketemu lagi, ya Aulya,” ujar Fadhil saat
menyalaminya.
Aulya hanya mengangguk sedih. Seharian itu ia menangisi
perpisahan mereka. Ia takkan melupakan pertemanannya dengan anak
laki-laki itu. Hingga bertahun-tahun kemudian.
Kini Aulya berada di sebuah kamar 5×5 meter berwarna abu-abu
muda dengan lampu pualam satu di tengah ruangan. Di sekelilingnya
ada kasur cukup untuk dua orang, lemari kayu, kaca yang basar untuk
seluruh badan. Meja belajar dan lemari besar, memenuhi satu bagian
dinding kamar.
Belakangan ini pikirannya selalu ke hari-hari diopanme karena
thypus. Sekamar dengan anak laki-laki bernama Fadhil. Namun, ia tak
bisa mengingat lagi wajah Fadhil dan ibunya. Kenangannya saja yang
masih terpeta di memori otaknya. Kesal ia dibuatnya, terbawa pula ke
sekolah. Ia sudah duduk di bagku kelas dua SMP. Terkenal jago melukis
dan mahir mengarang.
“Haiiiish, ini gimana sih…. Kok teringat terus sama tuh anak!”
gerutunya sebal sendiri. Braaaak!
Tanpa sadar tangannya menggebrak meja. Untung lagi istirahat.
Hanya ia malas keluar kelas.
“Yaelah, masa pelajaran begitu saja gak bisa sih?” Fatih
menghampirinya
“Bukan pelajaran favoritmu ini,” sanggahnya menggeser buku IPA
di hadapannya. “Aku teringat terus sama seseorang….”
“Cieeee, cieee…. Cowok yeee!” ledek Fatih.
“Pssst, jangan suudon dulu.”
“Jadi siapa orang yang sudah meneror otak Sang Penulis ini?”
‘’Saat aku kelas satu SD di kampung. Aku diopname dan sekamar
dengan anak bernama Fadhil.Tapi aku lupa sama sekali tampang tuh
anak….”
“Syeeet dah! Hanya teman sekamar diopname, ya? Buat apa
mengingatnya terus?”
“Aku hanya ingin bertemu lagi dengannya. Apa dia masih hidup,
eh! Penyakitnya termasuk langka. Hemofilia, aku sudah browsing.
Ternyata itu kelainan darah bawaan, hanya diidap lelaki. Penasaran saja
sih….”
“Hemofilia, ya, itu cacat genetik bukan penyakit,” tukas Fatih,
tertegun.”Eh, kenapa kamu gak tanya ibumu saja?”
“Umi juga sudah lupa.”
