“Kita pulang sajalah!” Kali ini suaraku tegas sekali.
“Oke! Kita pulang sajalah, ayo!”
Kami berbalik menuju lift kembali. Sekilas kulihat ada dua orang
berperawakan tinggi tegap mendekat. Ketika hendak memasuki lift
itulah, tiba-tiba ada yang menyergapku. Ia membekap mulutku dengan
selembar kain. Aku tak sempat menjerit minta tolong. Orang itu telah
menarikku, menjauhi lift.
Sekilas kulihat Safwan terjungkal, didorong keras masuk lift.
Kubayangkan betapa sakitnya Safwan diperlakukan begitu. Sedetik
airmataku berderai, tetapi detik berikutnya pandanganku gelap.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Kutemukan aku duduk di
sebuah kursi. Tanganku diikat ke belakang, demikian juga kakiku.
Meskipun mataku tidak ditutup, tetap saja tidak bisa melihat apapun.
Sekitarku sunyi, mungkin aku ditinggal sendiri di ruangan gelap ini.
Terdengar suara pintu dibuka, langkah kaki mendekat beserta
suara seperti kursi yang diseret. Lampu seketika menyala. Aku
mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya lampu yang begitu terasa
menyilaukan.
Di depanku tampaklah seorang laki-laki gagah duduk di kursi. Ia
menggunakan kemeja putih dan celana hitam. Aku seperti
mengenalinya, tapi entah di mana. Di sekitarku kini tampak empat lelaki
dengan sikap siaga. Mereka menggunakan setelan jas hitam, berdiri
mematung dengan wajah datar.
“Hei, Aliana Kenko. Masih ingat aku?” kata lelaki di hadapanku.
Sekali mendengar suaranya, seketika jantungku berpacu keras.
Aku bisa mengenali suara itu, walau sedikit berbeda. Ingatanku kembali
ke peristiwa memalukan di lapangan sekolahku. Disaksikan banyak
orang, pertama kalinya aku merasakan patah hati.
“Alex?” kataku terbata-bata.

“Nah, untung kamu masih mengingatku.” Alex tersenyum.
“Kenapa?”
“Kenapa aku melakukan ini padamu? Jawabannya sederhana
saja.” Alex bersandar ke kursi. “Aku akan membawamu ke luar
jangkauan siapapun. Tidak ada yang akan bisa menolongmu. Sekarang
kamu tidak akan bisa kabur dariku!”
Sebelum sempat berkomentar lagi, mataku kembali ditutup kain.
Mulutku dibekap dengan kain berlumuran obat bius, sehingga aku
kembali tak sadarkan diri. Entah mereka bawa ke mana diriku yang tak
berdaya.
Aku terbangun oleh suara gemericik air. Kutemukan diriku berada
di sebuah sofa coklat duduk bersandar. Kulayangkan pandangan ke
sekelilingku. Sebuah kamar luas dengan cat serba abu-abu.
Ada jendela kaca di samping kananku. Kupikir ini siang hari pada
awal musim semi. Ada bunga warna-warni, indah nian. Dari kejuhan
tampak air mancur dengan kolam di bawahnya. Dari situlah agaknya
suara gemercik yang menyadarkanku dari pingsan.
Seorang lelaki memasuki ruangan. Ia membawa nampan berisi
makanan dan minuman hangat. Alex, bagiku kini menjadi misteri yang
menakutkan. Gerak-geriknya mengingatkanku pada tokoh psikopat di
film Hollywood.
Mendadak meremang bulu romaku, membayangkan hal-hal buruk
yang kemungkinan akan menimpaku. Ya Allahu Robb, mohon
lindungilah hamba-Mu yang lemah ini, jeritku dalam hati.
Diam-diam segera kulafalkan dalam hati Ayat Kursyi. Surah itulah
yang paing sering dibacakan ibuku. Surah ini pula yang paling
menempel lekat di benakku.

“Aliana, anakku. Ayat Kursyi ini paling ditakuti oleh sebangsa jin,
setan, makhluk halus.” Demikian ibuku meyakinkanku, jika anaknya
semata wayang ini mengeluh ketakutan tidur sendirian.
“Makanlah selagi hangat.” Alex meletakkan nampan di meja kecil
sebelah sofa.
“Apakah kamu mau membunuhku dengan racun di makanan ini?”
tanyaku mulai kesal campur takut.
“Makanlah, aku takkan membunuhmu. Perempuan yang aku cintai
sejak kanak-kanak!” tegasnya mengejutkan.
Karena merasa lapar, entah berapa lama aku pingsan, maka
kupilih mempercayainya. Tanpa babibu lagi aku mulai menyantap
hidangan yang memang masih hangat. Sepiring nasi dengan daging
sapi bakar, ditambah salad dan segelas teh lemon, kulahap dalam
sekejap.
Kubiarkan Alex bercerita seputar perasaannya. “Lebih dari sepuluh
tahun, sejak aku mengetahui kau menyukaiku. Aku kaget, tahu! Karena
kukira sejak awal akulah yang pertama kali menyukaimu. Sejak kejadian
itu diam-diam aku sering menguntitmu. Sampai kamu menghilang tanpa
kabar….”
Aku tak berkomentar. Merasa heran, anak konglomerat suka
keliling dunia. Masa iya tak terpikir untuk mencari keberadaanku dengan
harta yang dimiliki keluarganya?
“Aku ingin mencarimu tentu saja. Tapi tak bisa kulakukan. Ayahku
salah paham tentang anaknya semata wayang ini. Dia tak mengakuiku
sebagai darah dagingnya. Sering memfitnah ibuku yang telah
meninggalkannya….”
“Memfitnah bagaimana?” tanyaku tak urung ingin tahu.
“Katanya, Mom telah selingkuh sampai punya anak….Ya, aku
dianggap sebagai anak haramnya.”

Aku terperangah. Belum lama kulihat fotonya bersama ayahnya di
media sosial. Wajah keduanya sangat mirip.
“Dimanakah orangtua kamu sekarang?” tukasku penasaran, mulai
menaruh simpati dan iba kepadanya.
“Setahun yang lalu Mom tewas di Bali. Sepertinya ada yang
membunuhnya. Tetapi diberitakan Mom bunuh diri….”
“Ya Allah….” Aku berseru tertahan.
“Aku yakin, Dad menyuruh orang untuk membunuhnya. Aku
marah, benci dan dendam. Aku bergabung dengan Mafia, banyak
belajar kriminal dari Big Bos. Dia menyayangiku seperti kepada anaknya
sendiri.”
Lenyap sudah segala simpati dan iba di hatiku. Ternyata Alex
seorang Mafioso!
“Tiba-tiba Dad diberitakan tenggelam dengan kapal pesiarnya….”
Ya, aku tahu itu, jeritku dalam hati.. Berita kematian tragis seorang
konglomerat Inggris telah viral di media-media Eropa. Tak pernah
mengira jika sosok perkasa berjas hitam di pemakaman itu ternyata
Alex. Sosok berpakaian serba hitam itu selalu mengenakan masker.
Seketika tubuhku mulai gemetar menahan rasa takut dan ngeri.
Aku membayangkan seorang anak membunuh ayah kandungnya.
Karena benci dan dendamnya. Astaghfirulah hal adzim, makhluk apakah
yang kini berada di hadapanku, satu ruangan begini?
“Ini di mana, Alex? Apa rencanamu sampai menculikku?” lirih aku
bertanya, sekedar mengalihkan pembicaraan.
“Di markasku di Desa Bibury. Ada gereja Kathedral kuno. Nah,
seminggu lagi kita akan menikah di situ!”
Aku terperangah hebat, tak mampu berkata-kata lagi.

Desa Bibury terletak di wilayah Gloucestershire, Inggris. Desa
mungil ini terkenal di kalangan traveler karena pesona dan
keindahannya mirip negeri dongeng.
Rumah tradisional dari batu berderet rapi menghadap jalan
setapak dan Sungai Coln. Gereja Katedral kuno, serta penginapan ditata
dengan sangat cantik. Seluruh Desa Bibury penuh bunga warna-warni
begitu tiba musim semi.
Salah satunya adalah Arlington Row, jalan penuh deretan rumah
tradisional dari batu yang menghadap Sungai Coln. Ada Bibury Trout
Farm, Saxon Church, dan Church of St Mary. Sungai Coln membelah
desa ini menjadi dua bagian.
Tak perlu menyewa kendaraan, turis cukup berjalan kaki untuk
mengelilingi desa cantik ini. Ada tempat-tempat fotogenik antara lain
Blenheim Palace, Cotswolds Water Park, dan Westonbirt Arboretum.
Sejak pernyataannya itu aku disekap di ruangan bawah tanah.
Hanya sesekali Alex menengok. Ia tak banyak bicara, hanya
memandangiku dengan sorot mata penuh pengaguman. Hingga aku
merasa risih dan jengah. Dari waktu ke waktu kulihat ada persiapan
pernikahan. Secara terus-menerus ada yang membawakan gaun-gaun
indah, buket-buket bunga dan berbagai penganan lezat.
Aku malah berpuasa. Aku memutuskan akan melawan pada
waktunya yang tepat. Kupikir saat upacara pernikahan, ya, aku akan
membuatnya menyesal!
“Aku akan mempermalukanmu, Alex. Di hadapan teman-temanmu,
para Mafiofo itu! Meskipun nyawaku taruhannya!” geramku dalam hati.
Selama itu pula aku lebih memperbanyak ibadah, berdoa, berzikir.
Menghafal surah-surah Al Quran yang pernah diajarkan ibuku dan Umi
Safwan. Suatu malam aku berhasil membujuk seorang asisten
perempuan paro baya, meminjamkan ponselnya.

Hanya satu nomer yang melekat dalam ingatanku. Nomer WA
ayahku. Kutulis singkat tentang keberadaanku. “Abi, aku disekap Alex di
Desa Bibury. Alex akan menikahiku di Gereja Kathedral kuno, Ahad ini.
SOS!”
Hari H pun tiba juga. Tak ada waktu yang kulewatkan untuk
berzikir, berdoa dan melafalkan Ayat Kursyi. Kubiarkan mereka
mendandaniku dengan gaun pengantin, merias wajahku secantik
mungkin. Kubiarkan mereka memboyongku ke lokasi pernikahan.
Sementara dadaku kupenuhi secara terus-menerus dengan Ayat Kursyi.
Tak jemu dan tak henti.
Memasuk Gereja Kathedral, Alex menyerahkanku kepada seorang
lelaki berperawakan tinggi besar. Kutahu ia adalah ajudan pribadi Alex
yang sangat loyal. Aku tak peduli, melangkah tegar di sampingnya.
Kutengadahkan wajah, mataku menatap lurus-lurus ke depan dengan
takbir dalam dada. Kupertahankan kerudung dan cadar pengantin
menutupi wajahku, hijabku.
Aku yakin seyakin-yakinnya. Bahwa Sang Maha Pencipta takkan
mengabaikan doa-doaku. Dia takkan membiarkan hamba-Nya terus
dizalimi, menikah paksa di altar yang berbeda keyakinan.
Tap, tap, tap!
Langkahku membersamai detak jantung, membersamai ayat demi
ayat yang kugemakan terus dalam dada. Ketika posisiku tinggal
beberapa langkah dari lelaki itu, tiba-tiba terdengar suara derap langkah
bagai gemuruh. Pasukan polisi menyerbu ke dalam Gereja. Menyertai
peringatan dari microphone, menyatakan bahwa Gereja telah dikepung.
Masih kulihat sekilas wajah Alex pucat pasi, syok tak pernah
mengira bakal ada penyerbuan. Lelaki di sebelahku tak sempat menarik
tanganku. Sebab ada sosok tinggi tegap lebih cepat menyelamatkanku.
Kruknya menghantam kuat-kuat wajah si ajudan pribadi itu.

Aku tak ingat adegan selanjutnya, sebab fokus mengikuti gerakan
penyelamatku. Kami berlari keluar, menuju mobil polisi yang sudah siap
melarikanku, menjauhi Gereja.
Beberapa saat kemudian kendaraan telah meninggalkan wilayah
Gloucestershire, menuju London. Aku baru menyadari ternyata
penyelamatku tak lain adalah Safwan. Ayahku di sampingku, tiba-tiba
menanyaiku.
“Anakku Aliana Kenko binti Muhammad Zain, bersediakah engkau
bila Abi nikahkan dengan Ahmad Safwan bin Ahmad Irawan?”
Aku terdiam beku. Suasana di kendaraan seketika hening. Safwan
duduk di samping sopir, seorang polisi, menoleh ke belakang. Ketika
kulihat tampangnya yang bening, tentu berkat air wudhu, terasa ada
cinta dalam dada ini.
“Bagaimana, bersediakah menikah denganku hari ini, Aliana?”
tanyanya terdengar penuh cinta dan harapan.
“Di dekat sini ada Masjid,” timpah ayahku, tersenyum
lembut.”Mumpung sudah memakai gaun pengantin….”
Aku menganggukkan kepala.”Iya, aku bersedia!” jawabku tegas.
“Alhamdulillah…. Al Fatihah,” sambut ayahku dan Safwan kompak
sekali. Pertanda mertua dan menantu bisa saling memahami dan
menghargai.

(Visited 18 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Qonita Syahidah

Qonita Aulya Syahidah gadis pelajar di mahad askar kauny juga salah satu murid manini atau pipit senja menulis cerita adalah salah satu hobby untuk mengisi waktu sengang selama 24 jam dalam sehari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *