Oleh: Andi Fiona Nur Anggeraini
Terlahir menjadi seorang anak yang hampir dibilang tak punya bakat apa pun, mungkin hadirku disini hanya memperkeruh keadaan, hidup yang terombang ambing tanpa arah dan tujuan. Entah aku yang kurang beruntung atau aku adalah salah satu manusia yang dipilih Tuhan untuk menjadi pribadi yang kuat? Entahlah. Ini benar-benar melelahkan. Selalu berkelahi dengan isi kepala sendiri. Namun, pada akhirnya, hal yang paling menyakitkan adalah ekspektasi.
Menyalahkan pagi yang datang begitu cepat, bangun berpura-pura menjadi kuat, berusaha menjadi yang terbaik untuk semua orang, semua ini sulit. Usia semakin bertambah, banyak masalah yang tidak tau ingin dibawa ke mana. Semakin banyak orang yang datang dan pergi begitu saja. Seiring berjalannya waktu, ku temukan sedikit demi sedikit makna hidup yang sesungguhnya.
Tak ada yang dapat terucapkan oleh mulut selain mengeluh. Ini hanyalah omong kosong, mengeluh tidak membuat sesuatu menjadi semakin baik. Tak ingin mengarahkan pandangan ke depan karena takut akan masa depan yang tidak sesuai dengan harapan, tetapi hari belum selesai. Aku juga tak mau kalah. Kita manusia makhluk yang mulia, tak ada yang tahu kapan kita mencapai tujuan. Semoga secepatnya akan tercapai.
Seseorang pernah berkata ,“ Jangan tunggu bahagia dulu baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka kebahagiaan akan selalu bersamamu.” Namun, bagiku bersyukur itu bukan hal yang mudah, terlepas dari isi kepala yang selalu memikirkan hal-hal negatif tentang diri sendiri. Walau seperti itu, tetaplah berusaha untuk dapat selalu bersyukur. Bersyukur akan apa saja yang sudah diberi Tuhan. Tentu tak sedikit orang di luar sana yang lebih susah hidupnya.
Teruntuk diri ini, terima kasih ya sudah bertahan sejauh ini, dan maaf jika semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Ini belum separuhnya, jadi jangan pernah menyerah. Bunga perlu waktu untuk mekar menjadi bunga yang cantik, hidup kita masih panjang, nikmati saja prosesnya. Kamu tidak apa-apa.
Watansoppeng, 23 Mei 2022
