Kemarin tanggal 25 Mei 2022, aku dan teman-teman PAI Kolut di undang oleh bunda Rosmawati dalam kegiatan Seminar Nasional “Menjadi Guru Tangguh Di Tengah Serbuan Imperialisme Digital” sekaligus launching buku “Pandemi Cinta di Taman Literasi” karya bunda Rosmawati, di Islamic Center Masjid Agung Kabupaten Kolaka Utara.
Seminar ini sangat istimewa karena menghadirkan langsung founder Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia sang inspirator Ruslan Ismail Mage yang akrab di sapa bang RIM.
Ketika om RIM memasuki ruangan suara riuh tepuk tangan membahana, aku seakan tak percaya sosok inspirator yang kukenal dan tahu hanya lewat sosmed dan karya-karyanya kini berada di hadapanku melemparkan senyum dengan ramah kepada semua peserta seminar.
Tak pernah kuduga sekarang aku bisa bertemu langsung dengan om RIM dan berdiri di antara orang-orang hebat, aku sangat senang dan merasa sedikit gugup. Aku tak tahu ingin berkata apa untuk mengekspresikan perasaanku, aku seperti berada dalam mimpi.
Ketika membaca salah satu buku karya om RIM yang berjudul “21 Hukum Kesuksesan Sejati” aku merasa tergerak, kini sang penulis berada tepat di hadapanku mengeluarkan narasi yang membuat jiwaku seakan terpanggil agar lebih semangat lagi untuk belajar menulis.
Aku juga merasa sangat bangga bisa mendapat kesempatan bergabung di Pena Anak Indonesia (PAI), dan terima kasih om RIM yang telah memberikan kami wadah untuk mengembangkan ide dan imajinasi kami hingga menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh banyak orang dan terima kasih juga kepada bunda Rosmawati, bunda Gusnawati Lukman, ibu Mardiati, pak Samrin dan kakak-kakak Mentor lainnya yang selalu memberikan kami semangat, dukungan, bimbingan, motivasi dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami. Kalian adalah orang-orang hebat yang dengan senang hati selalu memberikan kami bimbingan di tengah kesibukan masing-masing, semoga kelak kami juga bisa menjadi seperti kalian.
Terima kasih juga untuk teman-teman PAI, aku juga banyak belajar dari tulisan-tulisan kalian sehingga aku bisa merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang tersusun menjadi sebuah narasi. Kini aku merasakan betapa dasyatnya sebuah tulisan.
Di balik kebahagian karena mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan om RIM, terselip pula kesedihan karena sebagian PAI Kolut tidak sempat datang, tapi semoga di lain waktu kita bisa berkumpul bersama tak terkecuali juga teman-teman PAI dari Soppeng dan daerah lainnya. Aamiin…
“See You Next Time…”
