Oleh : Nur Aqilah Salim

Betapa malang nasib manusia itu
Memeluk lutut di sudut pikirnya
Merangkul setumpuk derita
Memikul sederet tanda tanya

Bibir terkunci dan mata sayu
Seakan gambarkan sesuatu
Mungkin batinnya sedang kacau
Namun, ia lebih memilih diam
Memendam dalam-dalam

Bagaimana tidak begitu?
Kala berlari ia terjatuh
Berjalanpun tak lagi mampu
Bingung kemana harus mengadu

Dibalik diamnya ada teriakan
Yang tak sanggup disuarakan
Padahal ia sangat layak ceritakan
Perasaannya yang berkecamuk

Benaknya sedari tadi diisi
Tanda tanya besar
Haruskah jadi dewasa
Agar suara kita didengar?
Tapi semakin dewasa
Hidup semakin sangar

Haruskah jadi petinggi
Agar lebih disegani?
Tapi nanti malah tak sanggup
Pikul beban sendiri
Dan masih banyak lagi

Tapi percayalah
Segala perih akan segera pulih
Perlahan membaik kembali
Kepada si manusia diam
Yang sebenarnya layak teriak!

Watansoppeng, 28 Januari 2022

(Visited 50 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *