Oleh : Nayla Basam
Hai, perkenalkan namaku Azara Mahestra. Panggil saja Zara, gadis biasa yang sangat menyukai kopi, hujan, dan sajak. Dulu aku sering berpikir bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menyeduh secangkir kopi sembari membaca bait-bait sajak ketika sedang hujan. Namun nyatanya, ada hal yang lebih menyenangkan dari itu. Ini kisahku, pahit manisnya alur percintaan yang aku alami dahulu.
Malam ini, dentingan jam cukup terdengar lebih jelas dari hari-hari sebelumnya. Sunyi, tak ada suara yang menerobos masuk dipendengaranku.
Aku merebahkan diri di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Aku diam beberapa saat hingga akhirnya air mataku menetes membasahi pipi yang kering ini. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, tanpa aba-aba.
Ah, sial sekali. Rindu itu menyerangku kembali. Mengingat bagaimana aku dan kamu yang begitu bahagia dahulu. Ya, dahulu. Seribu kenangan indah di masa lampau mengingatkanku kembali tentang kisah kita yang tertunda. Atau mungkin, sudah berakhir? akupun tak tahu.
Aku kadang tersenyum sendiri seperti orang tak waras ketika mengingat mu. Kakak kelas yang terkenal dengan kepintarannya, ketampanannya, juga… dinginnya.
Flashbacks on..
Orang-orang berkata, jika dia menatapmu lebih dari 5 detik, itu artinya ada dua kemungkinan. Dia menyukaimu, atau membencimu. “Kak, minta id card boleh?” tanyaku. Dia menatapku. Lebih dari 5 detik. Aku sangat takut. Sampai akhirnya dia memberiku satu id card lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. “Dasar dingin, pantes gak ada yang deketin”, ucapku dalam hati.
Hari-hari berlalu, aku masih memikirkan cuplikan kisah kita beberapa hari yang lalu. Hari dimana kamu menatapku lebih dari 5 detik, awalnya aku mengira mitos-mitos yang diceritakan oleh orang-orang di sekolah tentang kakak kelas itu hanyalah omongan belaka. Tetapi aku tidak tahu, pikiranku sudah terlalu penuh akibat pelajaran yang menjengkelkan pagi tadi, ditambah bayang-bayang kakak kelas yang dingin itu. Ah, menjauhlah! Aku mohon.
Terkadang aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri. Mengapa setiap kali kita bertemu, aku selalu lari bersembunyi seperti anak kecil yang dikejar badut? Mengapa ketika kamu menyapaku, pipiku serasa panas bak habis dibakar? Juga, ketika aku melihat pesan masuk yang memperlihatkan nama kontakmu… selalu terukir senyum indah dari wajahku. Aneh ya jika dipikir-pikir aku menyukaimu? Tapi maaf saja, kurasa itu memang benar adanya.
Aku sering merutuki diriku sendiri karena telah menyukaimu dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat ini. Mengingat kenyataan bahwa banyak gadis yang menyukaimu di sekolah, bahkan lebih baik dariku. Jika dipikir-pikir, tidak ada celah yang bisa kamu beri untukku, bukan? Kita hanyalah sepasang kakak dan adik kelas yang berada dalam organisasi yang sama.
Terkadang ketika rapat, aku hanya memperhatikanmu mencatat segala hal penting di papan tulis dan tidak mendengarkan kakak -kakak yang berbicara didepan. Sebenarnya aku tidak ingin mengabaikan mereka, tetapi rupa mu yang sangat indah membuatku tidak bisa berpaling.
Sampai ketika akal sehatku hilang, dan tanpa pikir panjang aku mengutarakan isi hatiku kepadamu lewat chat. Aku sangat takut menunggu balasan darimu, bagaimana jika kamu menolakku mentah-mentah? bagaimana jika kamu menjauh dariku begitu saja? atau bagaimana jika kau jijik dan menganggapku tidak ada nantinya? pertanyaan-pertanyaan buruk mulai bermunculan dipikiranku sekarang.
Senyum di wajahku terukir ketika membaca responmu yang cukup baik. Jika kalian bertanya apakah dia mengutarakan perasaannya juga atau langsung mengajakku kehubungan yang lebih serius, jawabannya tidak. Dia hanya merespon pesanku, bukan perasaanku. Apa sudah tiba saatnya aku digantung kali ini? ah sudahlah, aku sudah terlalu lelah untuk menambah beban pikiran lagi.
Hubungan kami sekarang baik-baik saja, tidak ada satu atau dua belah pihak yang menjauh. Nyatanya sehabis aku menyampaikan isi hatiku, kita malah semakin dekat. Dengan kamu yang mulai menunjukkan sisi lembutmu, tidak ada lagi sisi kakak kelas yang dingin itu.
Sering sekali aku mendengar cakap-cakap orang yang berlalu lalang di sekolah sambil memperbincangkan perihal hubungan kita sekarang. “Mereka pacaran?” atau “Kak Rafi kok bisa luluh gitu sih? keren deh ceweknya”, kurang lebih seperti itu. Dan sekarang aku pun ikut bertanya-tanya, “Kita ini apa? hanya teman tetapi terlihat layaknya pasangan?” tidak ada seorang pun yang sanggup menjawabnya, bahkan semesta pun rasanya ikut terdiam ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutku tadinya.
Hari ini terasa sangat panjang, dengan tugas yang tak henti-hentinya mendatangiku, terik matahari yang sangat panas bahkan kulitku sekarang seperti sedang terbakar karenanya, serta Kak Rafi yang hilang tiba-tiba dan belum membalas pesan yang kukirimkan sejak tadi pagi. Aku sudah muak dengan tugas-tugas yang berlarian di otakku. Apa lebih baik jika aku pergi menenangkan diri sebentar di cafe dekat sini, ya? Ah, sepertinya begitu.
Aku mulai melangkahkan kaki menuju La Buana Cafe & Resto. Cafe yang terkenal dengan menunya yang enak enak. Sangat menggugah selera jika dibayangkan. Aku memasuki cafe tersebut sembari sibuk mencari cari meja yang kosong dan cocok ditempati untuk menghilangkan rasa stress. Sekian lama memutari se isi cafe aku pun memilih untuk duduk di meja no. 07 yang berada tepat di sudut cafe tersebut. “Aduh, kenapa tidak dari tadi”, pikirku.
Aku menyantap hidangan dengan lahap karena memang sudah lapar dari tadi namun aku selalu saja mengurungkan niat karena tugas-tugas menyebalkan yang sudah menghantuiku. Aku menatap sekeliling lalu tak sengaja menangkap sosok yang familiar. “Kak Rafi?” aku menajamkan penglihatanku dan benar saja, itu dia. Tapi, siapa perempuan yang sedang bersamanya? Aku mengutak-atik tas lalu mencari dimana Handphoneku berada. Kubuka roomchat yang memperlihatkan nama Rafi disana. Aku mulai mengetikkan sebuah pesan singkat kepadanya, “Kak, lagi dimana?” lag-i lagi dia tidak membalas pesanku. Aku tetap memperhatikan mereka saat itu, lalu.. apa ini?! Perempuan itu berdiri sembari memeluk Rafi, sebuah cuplikan yang cukup membuat hatiku semakin pedih. Ditambah lagi, ternyata perempuan tersebut adalah teman dekatku.
Berhari-hari aku mengabaikan pesannya, mengabaikan semua hadiah yang ia kirimkan padaku, aku sudah cukup runtuh mengingat kejadian tempo lalu yang akhirnya membuatku sadar bahwa kita memang tidak pernah MEMULAI dan wajar saja jika sekarang kita telah USAI. Tidak ada hubungan yang mengikatkan kita sejak dulu. Kita hanyalah sebagian kisah yang hampir bersama. Memaksa lupa bahwa kita pernah ada dalam satu tujuan yang sama.
Flashbacks off.
Kamu kembali menyapa namun bukan menghadirkan kata cinta, rasanya sudah tidak sama. Tak ada lagi harap untuk kembali melanjutkan cerita di antara kita, dua manusia yang dulunya pernah mencinta. Membiarkan alur kisah yang pernah ada menjadi memori tentang rasa.
Aku yang buta makna dibuat terpikat olehmu yang mahir mainkan metafora, sampai-sampai karena rasa aku melupa, jika kita hanyalah sepasang kalbu dalam objek nyata yang terasa fatamorgana sebab temu tak direstui semesta. Namun meskipun begitu aku harap kamu tahu, bahwa setiap pair jantungku akan selalu menjadi milikmu.
— Zara, 7/08/19
