Kala itu, Bianca sedang berjalan dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak, pagi-pagi dia harus menonton drama yang diperankan oleh ibu tiri dan saudari tirinya.

“BIANCA! PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU UNTUK BICARA YANG TIDAK SOPAN PADA ORANG TUA!”

Teriakan, pukulan,cacian, semua telah menjadi sahabatnya ketika orang yang berperan sebagai ibu pergi meninggalkan dunia yang kejam ini.

“Sudahlah, namanya juga anak anak. Jangan dibentak, kasian…” kata Viona, ibu tiri Bianca.

Perempuan itu selalu saja bersikap baik pada dirinya dan hanya berlaku ketika Papa ada. Jika Papa tidak ada, sikap manis itu lenyap entah ke mana.

“Kasihan? Anda masih sempat bilang kasihan sama saya? Setelah semua yang saya punya Anda rebut?” Bianca sudah muak dengan sikap manis Viona.

“BIANCA, KELUAR DARI RUMAH! ATAU PAPA YANG SERET KAMU?”

“Tanpa Papa minta, Bianca juga akan pergi dari rumah ini.

“Lima belas menit kesempatan Bianca untuk lari dari kata terlambat,” kata perempuan itu lalu pergi melangkahkan kakinya.

“Bianca, lo tuh bego atau gimana sih? Tiap hari lo dikasarin sama nyokap tiri lo, dan lo kenapa ga record? Gue yakin kalau lo punya bukti yang kuat, bokap lo pasti percaya!”

Sudah berkali-kali Bianca melaporkan ibu tirinya kepada Papanya. Namun, sikap manis perempuan itu selalu dia munculkan, bersikap seolah-olah dia adalah korban.

“Percuma, Dev… Viona terlalu banyak sandiwara,” kata Bianca pada Deviana yang tengah asyik menyeruput es jeruknya.

Bianca menghabiskan waktu istirahat bersama teman sebangkunya yang tak lain adalah Deviana, orang yang selalu siap siaga mendengar curhatan hatinya.

Terdengar helaan napas berat yang meluncur dari mulut gadis itu.

”Kalau Tante Viona bisa bersandiwara, kenapa lo ga bisa?”

Tidak ada ide lagi yang menyangkut di otak kecil Deviana. Ide ini mungkin satu-satunya yang dapat dilakukan untuk menangkap basah perlakuan Viona.

“Gak bisa, Dev. Gue udah pernah coba. Bukannya berhasil, gue malah kena tamparan Bokap.”

Sikap papanya berubah seratus delapan puluh derajat setelah ketika mamanya meninggal. Papa yang dulunya baik, perhatian, bijak, sabar, tidak pernah marah, justru sekarang berbanding terbalik dengan sifatnya.

“Segitu jahatnya Bokap lo?”

“Lo tau sendiri lah gimana Viona kalau di depan Papa.”

“Gue berharap lo ga pernah mundur sama dunia. Gue yakin lo bisa buktiin ke Bokap lo kalau Tante Viona bukan ibu yang baik buat lo.”

Of course. Mungkin hari ini gue bilang iya, dan gue ga tau gimana lagi sama hari esoknya.”

Percakapan mereka ditutup dengan bel yang nyaring berbunyi, menandakan bahwa siswa akan segera memulai pelajaran kembali.

“Udah masuk nih, ayo ke kelas?” langsung saja Bianca mengikuti Deviana dari arah belakang.


Sebenarnya, tiga jam yang lalu Bianca sudah pulang sekolah. Namun, sekarang dia baru tiba di rumah karena menghabiskan waktunya di rumah Deviana.

“Bagus, ya? Mentang-mentang papanya pulang malam, kerjanya main keluyuran. Dari mana saja kamu?”

Belum juga Bianca mengucapkan salam, dia sudah dikagetkan oleh suara Viona, diiringi dengan tepuk tangan dan senyum licik yang selalu dia tampilkan.

“Peduli apa Anda sama saya?” Bukannya menjawab, Bianca justru bertanya balik kepada Viona.

“Kamu itu masih syukur saya peduliin”

“Gak butuh!” Potong Bianca.

Dengan cepat dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun, langkah kakinya tertahan.

“BERANI KAMU, YA?!” Pekik Viona menjambak rambut Bianca.

Bianca hanya mampu menutup matanya merasakan sensasi dari jambakan Viona. Kali ini, Bianca tidak menolak. Dia hanya berharap papanya datang dan melihat kejadian ini. Viona merasa tertantang dengan sikap diam Bianca.

Plak!

Kali ini Viona kembali menampar pipi kiri Bianca.

Diperlakukan seperti itu, sontak Bianca mengangkat pandangannya menatap dengan tajam ke arah Viona.

“Salah apa saya sama Anda?”

“Masih nanya salah kamu apa?”

“Anda sudah hampir dua tahun tinggal di sini. Saya tidak pernah main fisik sama Anda, meskipun Anda selalu bermain fisik sama saya,” kata Bianca semampunya.

Pipinya terasa panas akibat tamparan Viona. Sakit di kepalanya belum usai dan sekarang pipinya lagi yang jadi korban.

“Kamu memang tidak pernah main fisik sama saya. Tapi kamu tahu apa salah kamu?”

Bianca hanya menggeleng karena memang faktanya dia tidak tahu.

“Karena sikap pintar kamu! Anak saya harus menanggung sakit untuk belajar demi mendapatkan kasih sayang dari Papa kamu!”

“Saya tidak pernah suruh anak Anda untuk belajar agar pintar seperti saya. Saya juga tidak pernah merasa bersaing dengan Anak anda!”

“Banyak bicara kamu!” Viona kembali ingin melayangkan tamparannya pada Bianca. Namun, belum sempat tangannya melayang, Bianca sudah lebih dulu menamparnya. Membuat dirinya sedikit terhuyung ke belakang.

“BIANCA!” Bertepatan dengan itu suara laki-laki familier menggema di ruangan.

“Pa-pa,” Bianca hanya bisa kaget.

Bagaimana bisa saat dia menampar Viona, papanya sudah datang.

Semesta seolah-olah tak ingin memberikan kebenaran kepada Bianca. Mati-matian Bianca menahan sakit, dia tidak melawan demi menunggu papanya datang untuk membuktikan bahwa di sini yang jahat Viona, bukan dirinya. Namun, mengapa saat kesabarannya sudah habis dan membalas ke arah Viona, papanya justru hadir. Semesta, jika Bianca dilahirkan untuk kesalahan, maka pulangkan Bianca dengan kebenaran.

Plak!

Tamparan keras kembali mendarat di pipi Bianca, ini lebih keras dari tamparan Viona membuat sudut bibirnya sedikit robek.

“PAPA CAPEK BIANCA! CAPEK! Tiap hari lihat tingkah kamu terlalu kasar sama Mama Viona. Kapan kamu terima Mama Viona jadi ibu kamu?”

Bianca hanya menggeleng mendengar itu. Lagi dan lagi papanya selalu membela perempuan itu,

”Sampai Mama kembali, baru Bianca akui dia.”

“Sadar, Bi! Mama kamu sudah meninggal sudah tidak bisa kembali.”

“Mama meninggal karena dia!” Habis sudah kesabaran Bianca. Dia kembali menunjuk Viona dan menatapnya dengan horor.

“BIANCA, STOP!”

“Sampai kapan Papa mau bela dia? Sampai Bianca mati? Asal papa tau, di sini Bianca yang jadi korban. Bianca, Pa! Sebelum Papa datang, dia nampar Bianca, jambak Bianca!” adu Bianca.

“Bohong dia. Mas!” elak Viona.

“Loga usah bolak-balikin fakta,” kata Bianca tak terima.

“Stop Bianca, stop! Keluar!”

Bianca yang mendengar itu hanya tertawa hambar diiringi dengan air mata yang sudah berjatuhan dari pelupuk matanya.

Fine, kalau itu yang Papa mau.”

Detik itu Bianca angkat kaki dari rumah. Dia tidak tahu mau ke mana lagi. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Semesta terlalu kejam menyiksanya.

“Jika ini yang terbaik, maka Bianca akan lakukan.”

Pipp-pipppppp

Sebuah mobil truk besar menabrak tubuh mungil Bianca, tepat Bianca berada di depan pagar sekolahnya. Orang-orang yang lalu lalang sontak memberhentikan aktivitasnya. Semua mata tertuju pada gadis yang tepental di jalanan aspal. Sedangkan pelaku dengan segera melarikan dirinya sebelum orang-orang datang menghakiminya.


Suara langkah memenuhi ruangan gelap gulita. Di bawah alam sadarnya, dia diberi pilihan bertahan untuk memperbaiki semuanya atau pergi untuk mengakhiri semuanya.

Satu jam yang lalu, Ibrahim—ayah Bianca—mendapatkan telepon mengenai bencana yang menimpa putri tunggalnya. Dia menyesal atas perbuatan yang dia lakukan barusan. Bahkan, belum genap 24 jam dia memaki putrinya, sekarang putrinya justru tertimpa musibah yang menganaskan.

Ibrahim hanya mampu menangis berdoa agar putrinya diselamatkan. Dia berjanji tidak akan mengasari Bianca lagi dan menuruti semua kemauannya, termasuk berpisah dengan Viona.

“Keluarga pasien?” Seseorang dengan jas putihnya keluar dari ruangan itu.

“Saya ayahnya,” Ibrahim dengan segera menghampiri dokter itu.

”Bagaimana keadaan putri saya?”

“Pasien ingin bertemu. Silakan masuk,” kata dokter itu.

“Pa-pa,” dengan separuh tenaganya Bianca memanggil Ibrahim, ketika merasakan usapan lembut di punggung tangannya.

“Iya, ini papa. Bianca baik-baik aja, kan? Bianca harus sembuh,”

Bianca hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.

“Tiap hari Bianca ga baik-baik, Pa.”

Ibrahim diam sejenak mendengar ucapan putrinya. Apa selama ini dia terlalu jahat?

“Maaf, Papa minta maaf sama Bianca,” Ibrahim hanya menundukkan kepalanya, tak berani menatap putrinya.

“Papa ga salah, kok. Bianca yang salah. Bianca keras kepala,” mati-matian Bianca menahan rasa sakit yang menyerang dadanya.

“Bianca ga salah. Di sini Papa yang terlalu keras sama Bianca.”

Seperti kata pepatah, penyesalan selalu datang di akhir. Sepertinya Ibrahim sedang merasakan itu.

“Semua itu demi kebaikan Bianca juga, Pa,” ucap Bianca dengan napas yang tersengal-sengal.

Before i go, Bianca mau lihat Papa senyum,”

Mendengar itu, Ibrahim menggeleng kuat. Sudah cukup istrinya meninggalkannya karena ulahnya. Putrinya tidak boleh mengulanginya itu.

No, you can’t go!

“Jika Bianca dihadirkan untuk luka, maka Bianca juga akan pergi bersama luka itu. Pa-pa- ha-ru-s b-a-ha-gi-a,” tepat saat itu suara monitor di samping brankar menggema di ruangan itu.

Tutt…tutt

“Binca jangan tinggalin Papa!” Pupus sudah harapan Ibrahim. Belum cukup satu jam dia mengucapkan maaf, anaknya sudah pergi meninggalkannya.

Peri kecilnya mengaku kalah dengan dunia yang telah menyiksanya.

Akan ada penyesalan di balik perbuatan yang telah diperbuat. Ada kesedihan di balik amarah yang selalu di tampilkan. Ada rasa iba di balik sifat kejamnya.

Hadir bersama luka dan akan kembali bersama luka.

Before it’s all over, ada luka yang sempat singgah dan selalu hadir di setiap jamnya hingga akhirnya luka itu yang membawaku pergi. Luka itu menyuruhku untuk mundur melawan semesta. []

(Visited 198 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *