Oleh: Nurul Saadah*
Setiap pagi, Lila berdiri di depan cermin dalam waktu yang lama. Ia berdiri di sana bukan untuk memastikan rambutnya rapi atau pakaiannya serasi, melainkan untuk meyakinkan dirinya bahwa ia siap menjalani hari. Namun, cermin yang setiap hari digunakannya jarang sekali bersikap ramah. Cermin itu selalu memantulkan hal-hal yang membuat Lila ragu: senyum yang terasa terlalu canggung, serta mata yang tampak kurang percaya diri.
Di sekolah, Lila selalu menunduk. Ia merasa suaranya terlalu pelan untuk didengar dan mimpinya terlalu besar untuk orang sepertinya. Ketika teman-teman sekelasnya tertawa lepas, Lila bertanya dalam hati, “Apakah aku layak berada di sini?”
Setiap pujian terasa seperti kebetulan, sementara setiap kesalahan menjadi bukti bahwa dirinya tidak cukup baik. Lila menyimpan semua perasaan itu sendirian, menumpuknya seperti debu di sudut hati. Ia takut orang lain melihat isi pikirannya. Ia yakin, jika semua orang tahu tentang dirinya, mereka akan sepakat dengan semua ketakutannya.
Hingga suatu sore, saat hujan turun membasahi setiap sudut sekolah, Lila duduk sendiri di kelas ketika teman-temannya sedang istirahat. Ia membuka buku diarinya dan menemukan tulisan kecil yang pernah ia buat: “Aku ingin berani.” Kalimat itu sederhana, tetapi terasa hangat, seperti suara dirinya di masa lalu. Dirinya yang belum terlalu jauh mengembara dalam keraguan.
Untuk pertama kalinya, Lila mencoba melawan rasa tidak amannya. Ia mulai menerima kenyataan bahwa merasa ragu bukan berarti lemah. Pelan-pelan, Lila belajar berdamai dengan bayangannya sendiri.
Keesokan harinya, Lila kembali berdiri di depan cermin. Kali ini tidak lama. Ia masih melihat kekurangannya, tetapi juga melihat seseorang yang sedang berusaha. Dan itu cukup membuatnya merasa percaya diri kembali tidak lagi terjebak dalam rasa insecure.
Watansoppeng, 0 Januari 2026
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.5
