Oleh: Almira Khalila Laiqa*

Awalnya, aku dan dia tidak berencana bertemu malam itu. Taman kota sudah dipenuhi orang-orang yang datang untuk menonton acara kala itu. Lampu-lampu kota menyala terang, menghiasi malam. Suara musik dan tawa bahagia orang-orang bercampur menjadi satu. Aku sendiri berada di tengah keramaian, namun justru merasakan sepi dan asing di tempat itu.

Seiring berjalannya waktu, aku masih berdiri di sana ketika ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk, sebuah pesan darinya. Kami saling bertanya kabar hingga akhirnya dia menanyakan, “Posisi kamu lagi di mana sekarang?” Percakapan itu memang sangat singkat, tetapi di hatiku muncul rasa lega sekaligus gugup, karena akhirnya kami sepakat untuk bertemu malam itu.

Waktu terus berjalan, hingga tiba saat aku melihatnya di antara banyaknya manusia. Mataku langsung tertuju padanya. Dia berjalan perlahan, semakin mendekat ke arahku, hingga akhirnya kami berdampingan. Orang-orang berlalu-lalang mencari tempat, membuat jarak kami semakin dekat. Cahaya lampu malam itu menerangi wajahnya yang tampan, dan tanpa sadar aku memperhatikannya untuk pertama kalinya dari jarak yang begitu dekat.

Kami menonton acara itu sambil berdiri bersebelahan. Banyak orang mengelilingi kami, tetapi rasanya taman kota seakan mengecil, seolah hanya ada aku dan dia. Kami saling merangkul, bercanda, hingga tertawa bersama. Malam itu terasa hangat, tenang, dan begitu nyaman.

Watansoppeng, 9 Januari 2026

(Visited 66 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *