Oleh: Adit Anugrah Pratama
Malam ini sunyi, terlalu sunyi untuk hati yang masih sibuk berdialog dengan kenangan.
Aku menatap langit lama sekali bukan untuk mencari bintang, tapi untuk mencari alasan mengapa semuanya harus berakhir seperti ini.
Dulu, langit selalu jadi saksi tawa kita. Kita berbagi cerita di bawahnya, tentang mimpi, masa depan, dan hal-hal kecil yang membuat kita bertahan. Tapi kini, aku sendirian, menatap langit yang sama… hanya saja tanpa kamu di sebelahku.
Aku mencoba mengingat suara tawamu, cara kamu menatap dengan tenang, dan semua hal sederhana yang kini terasa begitu jauh. Aku pikir waktu akan menyembuhkan, tapi ternyata waktu hanya mengajarkanku cara menutupi luka dengan diam.
Kadang, aku ingin marah pada takdir yang memisahkan kita, tapi di sisi lain aku tahu — beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk selamanya. Ada cinta yang datang untuk mengajarkan arti kehilangan, bukan kepemilikan.
Aku mendongak, menghela napas panjang, dan berbisik pelan,
“Semoga kamu bahagia di bawah langit yang sama, meski aku bukan lagi alasannya.”
“Langit malam selalu sama, hanya saja orang yang menatapnya kini berbeda. Tapi rasa… masih tinggal di tempat yang sama.”
Watansoppeng, 7 Oktober 2025
