Oleh: Andi Annisa
“Hubunganku dengannya berakhir hanya karena jarak yang terlalu jauh memisahkan kami,” ucapku dulu. Namun, kini aku baru tahu alasan sebenarnya mengapa hubungan itu bisa berakhir begitu saja.
Hubungan yang kuperjuangkan hampir empat tahun lamanya. Seseorang yang selalu kupertahankan, yang selalu kubela mati-matian ternyata tega membohongiku selama ini. Saat aku memberikan seluruh perhatianku padanya, ternyata di saat yang sama ia justru memberikan waktunya untuk perempuan lain. Perempuan itu bahkan telah hadir dua tahun sebelum aku mengenalnya.
Aku sama sekali tidak menyalahkan perempuan itu. Ia tidak tahu apa-apa. Begitu pun denganku, aku tidak pernah menyangka akan ada kisah seabsurd ini.
Awalnya, semua terasa baik-baik saja. Hati ini begitu tenang sejak aku memutuskan untuk mengikhlaskannya. Aku belajar menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan, meresapi makna sejati dari kata ikhlas. Bahkan, semuanya terasa begitu sempurna. Aku tak lagi peduli dengan segala bentuk ketidak-hormatan yang pernah kuterima darinya. Satu per satu kekecewaan yang kupendam selama bertahun-tahun akhirnya luluh oleh rasa ikhlas yang mulai memenuhi relung hatiku.
Namun, suatu ketika kekecewaan kembali datang, menghantam perasaanku dengan lebih keras. Kekecewaan kali ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan semua luka yang pernah kualami sebelumnya. Rasa sakit itu seakan menguasai seluruh jiwa, meninggalkan luka yang sulit sekali terhapus.
Layaknya tinta yang jatuh di atas kain putih tak peduli seberapa besar usahaku untuk membersihkannya tetap saja ada noda yang tertinggal. Begitulah luka ini.
Kali ini caranya sungguh terasa begitu sadis bagiku. Setiap hari aku merenung, bertanya-tanya: apakah aku pernah berbuat salah hingga ia tega melakukan semua ini? Tidakkah ia melihat cinta tulus yang kuberikan selama hampir empat tahun lamanya? Selama itu pula ia menutupiku dengan kebohongan, seolah-olah benar-benar menyayangiku.
Dan bodohnya, aku begitu mudah mempercayai semua kata-kata manis darinya.
Kini aku hanya bisa meyakini, mungkin Tuhan sedang menyiapkan kejutan indah untukku. Sesuatu yang lebih berharga, yang membuat semua luka ini akhirnya terasa masuk akal. Sebab rasa sakit yang kuterima sekarang… sungguh, begitu sadis.
Watansoppeng, 25 Agustuas 2025
