Oleh Andi Annisa*
Waktu aku masih kelas 4 SD, aku mempunyai kakak kelas yang sangat kukagumi. Namanya Vero Vabioashta Varuello. Kak Vero sangat berprestasi. Aku sudah mengaguminya sejak aku berusia 9 tahun, hingga sekarang aku berumur 15 tahun. Kak Vero bukan hanya berprestasi, tapi dia juga seorang pekerja keras. Bayangkan saja, sejak kelas 4 SD sudah harus menggantikan peran sosok ayah dan ibu untuk adiknya. Kedua orang tuanya telah tiada sejak dia berusia 8 tahun dan adiknya masih 4 tahun. Masih sangat kecil dan masih butuh perhatian dari ayah dan ibu.
Kak Vero tidak pernah mengeluh. Dia selalu berusaha tersenyum di depan semua orang seolah sangat bahagia. Meski begitu, aku tetap tau kalau dia sedang ada di situasi yang sangat butuh pelukan dari kedua orang tuanya. Sampai semua sudah lulus SD, dia memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya karena perekonomian yang tidak memungkinkan. Dia lebih memilih menyekolahkan adiknya yang pada saat itu sudah berusia 6 tahun. Aku sangat ingin membantu Kak Vero pada saat itu. Akan tetapi aku juga masih bergantung pada kedua orang tuaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa memandangi Kak Vero dari kejauhan, dan sesekali memberikan adiknya makanan tanpa sepengetahuannya. Aku memilih diam-diam karena aku tau kalau mengetahui hal itu, dia akan merasa kalau dirinya dikasihani, dan dia tidak itu. Aku takut hanya gara-gara itu tidak bisa melihat Kak Vero.
Kak Vero sangat tampan. Saking tampannya, dia jadi incaran banyak cewek. Tinggi badan serta berat badan yang ideal membuatku semakin terpesona kepadanya. Rambut yang lurus dan berbentuk seperti mangkok membuat ketampanannya semakin terpancar. Kak Vero memiliki hidung yang mancung, alis yang cukup tebal, mata yang bulat sempurna berwarna hitam kecoklatan semakin menambah ketampannya. Bibirnya yang tipis berwarna merah seperti darah, dan juga warna kulitnya yang seputih salju. Sangat sempurna di mataku. Betapa bahagianya aku ketika melihat senyumannya yang begitu manis. Suaranya sangat candu di telingaku, dan tatapan khasnya membuatku semakin tergila-gila. Sayangnya, aku hanya bisa memandangi Kak Vero dari kejauhan.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.2
