Oleh: Andi Annisa Nayla Rafeyfa*

Hai semuanya, ini adalah kisah Velly dan Kevin.
Dahulu kisah kita begitu indah. Kisah kita hanya ada canda dan tawa, tak ada setetes pun air mata yang membalutnya. Begitu bahagianya diriku saat bersamamu. Namun, kebahagiaan itu tidaklah berlangsung lama sampai ketika engkau mengatakan bahwa ingin pindah negara dikarenakan urusan orang tua. Awalnya aku sangat berat untuk melepaskanmu, sampai suatu ketika kau mengatakan ini kepada,” Aku tidak akan lama, aku hanya pergi 7 hari, setelah itu aku akan kembali ke sini lagi dan kita akan menghabiskan waktu bersama lagi”.

Setelah engkau mengatakan hal itu, perasaanku pun mulai terasa lega, tapi entah kenapa di sisi lain seperti ada yang mengganjal di hatiku. Entah kenapa aku sangat sulit untuk melepaskanmu, seolah perasaanku berkata bahwa aku akan kehilangan untuk selamanya. Tentu saja aku tidak ingin hal itu terjadi. Namun, aku tidak boleh egois, aku tau kau juga tak ingin meninggalkanku, bukan? Setelah merenung cukup lama, kau meyakinkanku lagi dengan nada suaramu yang begitu lembut lalu berkata, “Aku berjanji padamu, aku tidak akan lama, aku juga tidak ingin jauh darimu. Namun, keadaan yang mengharuskan aku melakukan ini, aku sangat mencintaimu. Percayalah aku akan pulang”. Aku pun luluh dengan ucapannya lalu berkata, ” Baiklah, aku percaya padamu. Aku yakin kau pasti menepati janji. Aku akan mengantarmu ke bandara, boleh kan? ” Dia menjawab, “Tentu saja boleh sayang, aku akan lebih bahagia jika kamu yang mengantarku ke bandara (sambil menatapku dengan senyuman yang begitu tulus).”

*Keesokan harinya saat di bandara
Tangisku pecah saat melambaikan tangan kepadanya dan mengucapkan kalimat perpisahan. Akan tetapi, temanku menenangkan dengan mengelus kepalaku lalu berkata, ” Jangan menangis, kekasihmu hanya pergi 7 hari, dia akan kembali, tenanglah.”
*Waktu malam pun tiba
Aku mencoba menghubunginya dengan penuh harap dapat mendengar kabar baik tentangnya. Namun tak ada jawaban, handphonenya tidak bisa dihubungi. Seketika perasaanku mulai tidak enak. Aku mencoba menghubungi keluarganya, tapi sama saja tak ada jawaban. Tapi, aku tidak pernah menyerah, aku selalu berusaha untuk menelponnya sampai suatu ketika, telponku dijawab. Waktu aku mulai berbicara, ternyata Ibunya yang mengangkatnya lalu berkata, “kau tak usah menghubungi anakku lagi,. Anakku sudah hidup bahagia di sini bersama pilihannya, dan pilihannya itu bukan kau!!!.”

Alangkah kagetnya aku mendengar perkataan Ibu dia barusan. Ibu yang selama ini sudah kuanggap seperti Ibu kandungku sendiri, aku sangat tidak mempercayai apa yang kudengar tadi. Aku mencoba menguhubunginya lagi, dan ternyata semua sosial mediaku sudah diblokir. Aku tidak dapat menghubunginya. Akan tetapi aku mengenal kekasihku. Dia tidak seperti itu. Aku berpikir bahwa ini hanyalah sebuah leluconnya saja, jadi aku memutuskan untuk mengikuti permainannya dan berharap 7 hari ke depan ia akan memberikan kejutan, di mana kejutannya itu adalah kehadirannya di sini.

*7 hari pun berlalu
Aku tak mendengar kabarmu selama ini. Begitu hampa hidupku tanpamu. Kau di mana? Apakah kau baik-baik saja? Aku akan selalu menanti kedatanganmu, bahkan sampai bertahun-tahun pun aku akan tetap menanti dirimu. Jika tidak denganmu, maka tidak dengan siapa pun itu.
Hari demi hari berlalu, tahun-tahun pun mulai berganti.

*7 tahun pun berlalu
Aku masih di sini menanti dirimu lalu berkata kepada diriku sendiri,” Kesalahan apa yang kulakukan sehingga aku mendapatkan ini semua? 7 tahun yang lalu dia berjanji akan kembali dalam waktu 7 hari. Namun pada kenyataannya? Ini sudah 7 tahun, tapi sampai sekarang dia tak kunjung datang.” Aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Sesampainya aku di sana, aku melihat seorang wanita yang sangat tidak asing bagiku, lalu aku mendekatinya. Dan ternyata, orang itu adalah Ibu dari kekasihku. Aku berkata kepadanya, “Ibu, ini aku Velly, kekasih anakmu 7 tahun yang lalu. Apakah kau masih mengingatku?.” Sang Ibu menjawab, “Iya nak,tentu saja ibu mengingatmu, sudah sangat lama yah kita tak berjumpa.” Aku menjawabnya lagi, “iya bu, aku sangat merindukanmu, dan juga anak ibu. Kevin di mana bu? Aku sangat ingin bertemu dengannya.” Ibu kevin menghela napas lalu berkata, “Kevin sudah meninggal 7 tahun yang lalu nak. Kami mengalami kecelakaan pesawat. Ibu dan Ayah berhasil selamat, namun Kevin meninggal saat sampai di rumah sakit. 7 tahun yang lalu saat kamu menelpon Kevin dan Ibu yang mengangkatnya, semua yang Ibu katakan di telpon itu terpaksa nak. Sebelum Kevin meninggal, ia menitipkan pesan kepada Ibu bahwa jangan memberitahukan kejadian ini semua kepadamu. Kevin tidak ingin melihatmu sedih..”

Seketika tangisku pecah. Aku menangis tersedu- sedu sambil memeluk Ibu Kevin dan berkata,” Selama ini aku selalu menanti kehadiran Kevin. Aku menolak berbagai hati karena percaya bahwa Kevin akan kembali dan kita akan bisa bersama-sama lagi. Tapi? Kevin meninggalkanku bu.” Ibu Kevin menjawab dengan nada suara yang tersedu-sedu, “Maafkan Ibu nak. Maaf karena Ibu merahasiakan ini semua sama kamu.”

Inilah akhir dari kisah Velly dan Kevin. Akhir yang tak bahagia, bukan? Tak apa, setidaknya 7 tahun yang lalu kisah Velly dan Kevin terbalut canda dan tawa serta kebahagiaan.

Watansoppeng,13 Juni 2024

*Penulis adalah siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.2

(Visited 150 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *