Oleh: Andi Annisa
Cerita ini berkisah tentang seorang anak perempuan yang sangat cantik, ceria, dan cerdas. Akan tetapi anak itu bernasib sangat malang. Anak perempuan itu bernama Kania Lizabira Layla Hendrawan, biasa dipanggil dengan sebutan Kania. Kedua orang tua Kania telah tiada sejak ia berusia 7 tahun. Disaat anak seusia itu sedang sangat asyik bermain, sekolah, dan menikmati kasih sayang dari kedua orang tua mereka, Kania justru harus berjuang untuk mencari uang dan memikirkan kira-kira besok dia bisa mendapatkan makan atau tidak. Tak ada satu pun dari keluarga ayah dan ibunya yang mau mengasuhnya. Jadi, ia harus menjadikan kolong jembatan sebagai tempat tinggalnya.
18 tahun lamanya telah ia lewati. Kini, Kania sudah menjadi pengusaha muda yang sangat sukses. Sekarang Kania sudah berusia 25 tahun. Di usianya yang segitu, ia sudah memiliki perusahaan di berbagai kota. Namanya sudah dikenal di mana-mana. Meski begitu, Kania tidak pernah sombong. Ia tumbuh dewasa dengan sikap yang dermawan, ramah kepada semua orang, dan juga disiplin serta mandiri. Sekarang ia juga sudah mempunyai kekasih yang bernama Rafi yang berprofesi sebagai fotografer. Rafi anak tunggal dari keluarganya. Hidupnya sangat sederhana jika dibandingkan dengan hidup Kania yang sekarang bisa dibilang sangat berkecukupan. Tak jarang Kania memberikan bantuan kepada keluarga Rafi berupa uang yang nominalnya tak terkira. Meski begitu, Kania tidak pernah merasa perhitungan kepada Rafi dan keluarga Rafi. Kania sangat mencintai Rafi, begitupun sebaliknya. Rafi juga sangat mencintai Kania. Hubungan mereka terbalut dengan keharmonisan, canda, dan tawa.
Sampai suatu ketika…
Mereka berdua mengalami kecelakaan yang sangat parah. Rem mobil mereka tiba-tiba saja blong dan menabrak trotoar, sehingga menyebabkan mobil mereka hancur. Untung saja ada warga sekitar yang dengan sigap menelpon ambulance untuk segera membawa mereka ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, mereka segera ditangani oleh dokter. Kania mengalami patah tulang dibagian tangan sebelah kiri dan mengalami luka-luka di bagian wajah, sedangkan Rafi didiagnosa mengalami gagal ginjal serta patah tulang di bagian kedua kakinya. Rafi membutuhkan pendonor yang bersedia mendonorkan satu ginjalnya untuk Rafi. Dokter dengan cepat memberitahukan hal ini kepada pihak rumah sakit dan keluarga Rafi. Beberapa saat kemudian, Kania telah siuman. Wajahnya dibalut dengan perban. Kania yang pada waktu itu mendengar informasi tentang sang kekasih yang sedang membutuhkan donor ginjal, seketika khawatir dan panik. Tanpa berpikir lama, Kania segera memberitahu dokter bahwa ia bersedia untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk sang kekasih. Pada awalnya keluarga Rafi menolak akan hal itu. Tapi melihat kondisi Rafi yang kritis, mereka akhirnya mengiyakan ucapan Kania.
Syukur operasinya berjalan dengan lancar. Kini Rafi telah siuman dan berhasil melewati masa kritisnya berkat sang kekasih. Rafi yang mengetahui bahwa ginjal sang kekasih ada pada tubuhnya seketika terkejut dan menangis. Rafi segera meminta keluarganya untuk membawanya ke ruang ICU untuk menemui Kania. Sesampainya di ruangan ICU, ia melihat kekasihnya yang masih tertidur dengan perban yang memenuhi wajahnya. Rafi menggenggam tangan Kania dan tak henti mengeluarkan air mata dan berkata, “Mengapa kamu melakukan semua ini? (dengan nada suara yang tersedu-sedu). Tiba-tiba, suara yang lembut menjawab pertanyaan Rafi, “Karena aku mencintaimu. Jika engkau sampai kenapa-kenapa, kau akan membuat sedih banyak orang yang tentunya mencintaimu termasuk aku. Sedangkan aku? Aku mati sekali pun tak akan ada yang peduli.” Ternyata itu suara Kania yang sudah terbangun dari obat biusnya. Rafi yang mendengar hal itu terkejut dan menjawab perkataan Kania, “kamu tidak boleh berbicara seperti itu, di sini ada aku sayang. Kalau sampai kau kenapa-kenapa, aku akan sangat sedih dan membenci diriku sendiri. Karena aku penyebab yang paling utama atas kepergianmu kalau sampai hal itu terjadi.” Kania tak mampu menjawab perkataan Rafi yang menatapnya dengan penuh ketulusan itu.
Beberapa saat kemudian Kania dan Rafi memutuskan untuk tidur. Rafi tidur dikursi rodanya sambil menggenggam tangan Kania. Kania tiba-tiba terbangun karena mendengar suara notifikasi dari HandPhone Rafi. Dengan pelan-pelan tapi pasti, Kania melepaskan genggaman Rafi dan mengambil HandPhone Rafi yang terletak pas di sampingnya. Kania pun membaca semua pesan itu sambil menangis dan berusaha untuk sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara. Ternyata, isi dari pesan itu adalah bukti perselingkuhan Rafi dan sahabat Kania. Rafi dan sahabat Kania itu ternyata sudah berselingkuh sejak dua bulan yang lalu. Dan yang lebih parahnya lagi diam-diam ternyata Rafi dan sahabat Kania itu sudah melakukan hal yang tak senonoh. Sahabat Kania mengirimkan foto yang berisi hasil tes kehamilan. Dan tes itu menyatakan bahwa selingkuhannya Rafi alias sahabat Kania hamil!!! Hati Kania seketika hancur berkeping-keping. Setelah semua apa yang ia berikan untuk Rafi, ia malah membalas itu semua dengan penghianatan. Kania merasa putus asa. Dengan cepat Kania menulis sebuah pesan perpisahan di Handphone Rafi menggunakan satu tangan, lalu bergegas pergi ke roftop rumah sakit.
Singkat cerita, Kania sudah sampai di roftop dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara lompat dari atas gedung rumah sakit itu. Orang-orang yang ada di bawah sangat terkejut melihat hal mengerikan itu. Saat warga yang lewat memeriksa keadaan Kania, Kania sudah berlumuran darah dan sudah tak bernyawa. Seketika malam itu heboh. Rafi yang terbangun dengan perasaan kaget karena tidak melihat sang kekasihnya pun berteriak memanggil suster. Akan tetapi, ia melihat HandPhonenya terbuka dan menyadari bahwa ada pesan yang tertulis di HandPhone nya itu. Ia dengan cepat membaca pesan itu. Pesan yang merupakan kalimat perpisahan yang di ketik oleh Kania sebelum Kania memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Rafi langsung menyesali semua kesalahan yang telah ia lakukan terhadap Kania. Namun, penyesalan itu sudah tak ada gunanya. Kania telah pergi meninggalkan semuanya dan tidak akan mungkin untuk kembali lagi. Kini, Kata-kata yang bisa keluar dari mulut Rafi hanyalah “Menyesal, menyesal, dan menyesal.”
TAMAT . . .
Dari kisah Kania inilah kita belajar bahwa cintailah seseorang sewajarnya dan percayailah seseorang itu dengan sewajarnya saja. Jangan karena engkau sangat mencintainya, kau mau menyia-nyiakan hidup serta waktumu hanya untuknya!
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas IX.2
