Oleh: Aisyah Nur Adhayani*

Terang, menerangi gulita malam yang dingin dan misterius.
Ingin aku, sangat ingin mendekap engkau, wahai bulan.

Langit malam punya angin, tapi ia hanya menumpang untuk lewat.
Langit malam punya bintang, tapi bintang terlalu banyak sehingga kesulitan untuk memilih.
Langit malam punya hujan, tapi hujan akan lebih memilih pergi.

Kemudian didatangkan bulan untuknya, pasangan tepat untuk tuan malam.
Pada hari itu, udara menusuk kulit, dingin menyelimuti tubuh.
“Bulannya indah bukan?” kata pengagum rahasia.
Diingatnya bagaimana ia bisa menaruh rasa pada ratu cahaya, pikiran kemudian berputar, seperti arah jarum jam.

Mungkin lebih indah jika aku mencintai lebih dalam.
Niat itu ada, dan selalu ada.
Tetapi kuakhiri dengan logika yang ada di benakku
“Bulan yang indah dengan cahaya menyelimutinya, apakah dia akan menyukai kegelapanku?”

Pada hari itu aku katakan,” Aku tidak ingin benar-benar mengagumi bulan”, kataku berbohong.
Kenyataannya, bulan yang tak ingin dicintai oleh orang sepertiku.

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 8.3

(Visited 41 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *