Oleh: Madeline Cinta Fitriadi+
Langit malam tanpa bintang bersemangat memperlihatkan dirinya kali ini. Bintang yang biasanya bersembunyi jauh dari pandangan mata, kini mengintip para penunggu yang sudah sekian lama menanti kehadirannya. Antusias kulihatkan kepada sang penguasa langit malam ini. Mataku tak henti melihat pancaran cahaya yang menerangi gelapnya sang nabastala. Hawa dingin menusuk tubuhku yang hanya diselimuti oleh kaos pendek dan tak mampu membendung serangan yang diberikan oleh angin. Duduk di atas rumput nan hijau sambil menikmati suasana malam adalah caraku untuk menceritakan sebuah kisah. Tak dapat ditebak apa cerita yang akan kukisahkan kali ini. Sederhana, namun gaya bahasa sedikit membuatnya bermakna.
”Jadi sandaran ternyaman saat ku lemah, saat ku lelah” begitu alunan nada yang keluar melalui imajinasi yang kuciptakan sendiri. Kita semua tahu bahwa setiap orang punya titik kelemahan masing masing. Tak semua orang bisa bertahan dan menjalani segala ketetapan yang sudah ditentukan. Perkara mengeluh? sudah pasti disertakan. Tapi apa pernah kita menyerah?. Tak ada kata menyerah dalam kamus para pejuang. Kita semua berjalan di bawah langit yang sama dan kita rata dalam satu pandangan.
Aku ingat saat ada yang bercerita kepadaku sambil mengeluarkan air mata. Ia tampak rapuh, runtuh, pasrah menanti apa yang akan menimpanya nanti. Aku iba, aku merasakan betapa sakit saat ia bercerita dan berbicara mengenai masalah yang dialaminya. Tak henti ia berkata, dalam tiap kalimatnya selalu terselip isak tangis dan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Ingin aku mengusap punggungnya agar ia sedikit tenang, tapi aku tak mampu.
Teman yang baik, aku ingin mendengar ceritanya sampai ia berhenti melantunkan kata. Beberapa menit berlalu, ia diam membisu. Melihatku dengan tatapan kosong, lalu menghela napas pasrah. Aku tak gila ketika berbicara sendiri melalui cermin, kan?.
Teringat kata asing yang dalam maknanya saat aku mendengar ceritanya dengan seksama. Ia bilang, ”tak ada yang berpihak padaku di dalam dunia ini. Kanvas tempatku berjalan yang seharusnya diisi dengan karya seni dari tiap pengalaman yang aku alami, kini bertukar fungsi menjadi sebuah hutan lebat yang menakutkan. Kau tau pola pembentuk ilustrasi dari sebuah pohon?. Begitu aku menggambarkan isi pikiranku pada saat ini. Titik yang bersambung membuat sebuah garis, namun tak lurus.”
Aku melihatnya dan ingin bertanya apa yang sedang ia alami, tapi tak jadi. Ketika belas kasih ingin aku tunjukkan, ia melihatku dan menangis kembali seraya berkata ”tak ingin kulihatkan sisi lelahku padamu, cukup sekali ini dan kau harus menyimpan rahasiaku. Aku percaya padamu”. Aku terlarut dalam kalimatnya yang menidurkan batinku.
Insecure. Aku rasa ia mengalami itu ketika kalimat terakhir yang ia ucapkan, ”Aku jelek, tak ada yang suka berteman dengan orang jelek.” Kita ini adalah remaja yang ingin didengarkan. Tak semua orang bisa menjadi apa yang kita inginkan. Carilah tempat di mana kita bisa diterima dengan baik. Menjalani hari hari dengan damai dan tenteram, siapa yang menolak itu?. Tak ada orang yang mau mendengar segala kata yang tak diinginkan mengalir di ruang telinganya.
Lirik akhir dari lagu ini berkata, ”Tapi mungkin inilah jalannya, harus berpisah”. Apa itu berpisah?. Kini tak dapat kuartikan tiap kata umum namun asing bagiku dengan kritis. Bahkan untuk pertemuan saja aku takut. Bagaimana aku akan menghadapi sebuah perpisahan?.
”Pantaskah?”. Itu yang selalu kupikirkan di saat mengalami sebuah kesenangan. Aku tertawa, di saat bahagia pun aku tetap dihantui oleh rasa takut yang didukung oleh kejadian sebelumnya. Aku sendirian. Aku punya jawaban dari setiap masalahku, namun begitu susah untuk melakukannya. Inilah hukum dari memanglah mudah untuk sekadar bicara, karena itu bukan apa-apa jika tidak ada perbuatan yang mengiringinya. Bahkan ilustrasi foto yang menjadi cover cerita ini tak pantas untuk kugambarkan. Tak ada orang lain, hanya aku seorang dalam cerita ini. ”Berharap suatu saat nanti, aku temukan sisi baik dari ceritaku sendiri”. Ucapku mengakhiri kisah ini.
*Penulis adalah siswa SMAN 1 Nan Sabaris Padang
