Mereka membawa Fiki ke ruangan yang diperintahkan oleh pria itu kemudian mendudukkan tubuh Fiki ke sebuah kursi putih yang berada tepat di tengah ruangan yang menghadap ke arah kaca, lalu mengikat kaki dan tangan Fiki ke kursi.

Setelah mengikat Fiki, mereka berjalan keluar dari dalam ruangan dan tak lupa mengunci pintu dan berjaga di luar pintu.

Di tempat lain,

Jerry di bawah ke sebuah ruangan di mana setiap bingkai foto yang terpasang di dinding potret di atasnya sangat mirip dengan wajahnya. Saat masih memperhatikan foto-foto tersebut, tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya hingga ia terbatuk dan memuntahkan darah.

Saat merasakan sakit di kepalanya, Jerry sudah dapat menggerakkan tubuhnya dan memuntahkan darah.

Sakit yang dirasakan oleh Jerry akibat beberapa memori yang tiba-tiba masuk ke kepalanya serta kilas balik ingatan-ingatan yang ia tidak tau.

“Sepertinya kau sangat kesakitan, adikku,” ucap pria yang tadi pagi ditemui oleh Jerry yang sedang duduk di sofa tidak jauh dari tempat Jerry.

“Kau lagi. Apa yang kau lakukan padaku? Siapa orang-orang itu?” tanya Jerry tentang orang-orang yang muncul di ingatannya.

“Mengapa kami semua mirip?” Tanya Jerry lagi

“Kebenarannya hanya satu, karena kita semua saudara,” ucap pria yang keluar dari mobil tadi.

“Kalian, apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Jerry yang semakin bingung dengan hal yang ia lihat di depannya.


“Kak, sulit untuk menjelaskannya. Biarkan aku perkenalkan diri dulu. Aku Ortega dan dia Luis. Biarkan kuperlihatkan apa yang sebenarnya kau alami,” ucap Ortega berjalan ke arah Jerry lalu meletakkan jari telunjuknya ke dahi Jerry kemudian seberkas cahaya muncul.

Flashback on

7 tahun yang lalu,

Di sebuah laboratorium

“Serangan musuh! Lindungi anak-anak!”

Dor… dor dor

Suara tembakan menggema di seluruh laboratorium. Anak-anak yang sedang berada di ruangan khusus masih bermain dengan gembira tanpa tahu bahwa bahaya sedang mendekat ke arah mereka.

Tak lama, terdengar suara ledakan keras diikuti pintu ruangan tempat anak-anak itu hancur. Sekelompok prajurit bersenjata masuk ke dalam ruangan dan mengelilingi ruangan itu.

“Huaaa. Kak Luis, kami takut…” ucap Anak-anak itu sambil memeluk Luis.

“Tenang saja, Kak Rafa dan Ortega ada disini” ucap Rafa.

“Siapa kalian, di mana profesor Defron?” tanya Rafa.

“Bocah, boleh juga nyalimu. Bagaimana kalau kau ikut denganku,” ucap pria berjubah hitam yang melangkah memasuki ruangan dengan membawa tubuh Profesor Defron dan membuangnya di hadapan Rafa.

“Beraninya kalian membunuh Profesor. Tidak akan kumaafkan,” ucap Rafa yang penuh dengan amarah.

Tak lama, ruangan itu bergetar hebat. senjata musuh lepas kendali dan melayang di ikuti puing-puing bangunan di luar ruangan yang berkumpul di langit-langit ruangan. Rafa mengangkat tangannya ke atas, tepat di mana barang- barang itu beterbangan.

Rafa kemudian menggerakkan tangannya, barang-barang tersebut seketika remuk dan menyatu membentuk tombak runcing. Kemudian, Rafa kembali menggerakkan tangannya dan tombak-tombak buatannya melesat ke arah para prajurit. Dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata, para prajurit tersebut tewas terkena tombak.

“Kemampuan yang mengerikan. Bergabunglah denganku dan kita akan menguasai dunia” ajak pria itu.

“Tidak akan. Aku tidak ingin pergi dengan orang sepertimu. Matilah” ucap Rafa lalu menyerang pria itu dengan sisa tombaknya.

“Sungguh bodoh. Kau pikir hanya kau yang memiliki kekuatan,” ucap Pria itu mengarahkan tangannya ke depan untuk menghadang tombak yang datang.

Tinggal beberapa meter jarak tombak dan pria itu, tombak itu malah terhenti dan hancur seketika.

“Tidak mungkin. Matilah” ucap Rafa yang menyatukan kembali puing-puing itu menjadi tombak yang sangat besar dan mengarahkan lagi ke pria itu.

Namun, seperti serangan sebelumnya, tombak tersebut terhenti dan hancur.

“Apakah cuma seperti ini kemampuanmu,” ujar pria itu.

“Jangan terlalu sombong,” ucap Ortega yang mulai menyerang pria itu dengan kemampuan ilusinya.

“Matilah dengan mengerikan” Maki Ortega.

“Heh… ilusi yang sangat lemah,” ucap Pria itu yang dengan sekali kibasan tangannya ilusi yang diciptakan Ortega menghilang dan membuat Ortega terpental.

“Gravity” ucap Pria itu.

Tiba-tiba, Rafa yang tadinya berdiri langsung berlutut di tanah akibat tekanan gravitasi yang sangat kuat begitu pun dengan para saudaranya. Pria itu berjalan maju ke arah Rafa.

“Bergabunglah denganku, maka akan melepaskan saudara-saudaramu” ucap Pria itu.

“Jangan percaya padanya Rafa,” teriak Luis.

“Diam!” ucap Pria itu yang membuat tekanannya semakin kuat dan membuat mereka batuk darah.

“L-lepaskan mereka. Aku akan ikut denganmu,” ucap Rafa yang tidak tega melihat saudara-saudaranya menderita.

“Rafa! teriak Luis.

“Bagus. Kemarilah,” ucap pria itu yang melepas tekanan di sekitar Rafa.

“Rafa, Jangan pergi” ucap Luis.

“Sekarang lepaskan mereka,” ucap Rafa yang sudah ada di hadapan pria itu.

“Baiklah,” ucap Pria itu.

Setelah berkata seperti itu, suara teriakan terdengar di telinga Rafa sehingga ia berbalik arah ke saudara-saudaranya. Saat berbalik, Rafa melihat saudara-saudaranya meregang nyawa dengan tubuh tertusuk benda tajam.

“Aakh…. Luis, Ortega. Semuanya” Ucap Rafa yang langsung terduduk di lantai.

“Me-mengapa kau membunuh mereka,” ucap Rafa dengan perasaan hancur sambil mengucurkan air mata.

“Lupakan mereka. Aku akan membawamu pergi,” ucap Pria itu memegang lengan Rafa.

“Tidak. Lepas. Lepaskan” ucap Rafa meronta.

“Menyusahkan,” ucap Pria itu lalu memukul punggung leher Rafa dan membuat Rafa pingsan lalu membawa Rafa dari tempat itu.

Flashback off

“Itulah yang sebenarnya terjadi. Tapi pria itu tidak tahu bahwa kami belum kehilangan nyawa. Awalnya kami kira akan meninggal tetapi siapa sangka kekuatan Farel dan Abel bangkit. Dengan kemampuan mereka berdua, kami berhasil bangkit kembali,” ucap Ortega.

“Yang dikatakan Ortega benar. Setelah kami bangkit kembali, kami selalu berlatih untuk memperkuat kekuatan dan mencarimu” ucap Luis.

“Rafa, kami menyambutmu kembali”, ucap Luis.

“Kak Rafa, kami selalu mencarimu. Selama belasan tahun kami selalu mencarimu. Kami hampir putus asa mencarimu, tapi untunglah tahun lalu aku dan Dafa melihatmu di Australia. Dengan data-data itu kami berhasil menemukan lokasimu di sini. Tapi kami tidak berani karena pria itu selalu di dekatmu,” ucap Ortega.

“Ortega, Luis… dimana yang lain?” tanya Jerry alias Rafa

“Kalian kemarilah Rafa sudah ingat semuanya” ucap Luis

“Tidak… menjauh darinya… dia bukan Rafa… teleport” sebuah suara menggema di dalam ruangan serta seberkas cahaya menyilaukan muncul di bawah kaki Rafa dan Rafa pun menghilang diikuti Ortega dan Luis ke suatu padang rumput yang luas.

“Siapa kau?… mengapa kau menyamar menjadi Kak Rafa?… Apa tujuanmu?” selidik Murphy kepada Rafa yang sudah terlilit tanaman merambat

“Murphy… lepaskan Rafa…” ucap Luis

“Dia bukan kak Rafa… walaupun ia sudah meniru kak Rafa bahkan auranya dia tidak bisa meniru ikatan ku dan Rafa” ucap Murphy

“Aish… sepertinya aku sudah ketahuan… mau bagaimana lagi… aku juga sudah bosan menyamar menjadi dia…” ucap Rafa

Setelah berkata seperti itu, tanaman merambat yang melilit tubuhnya langsung layu.

“Biar kuperkenalkan diri. Aku adalah False yang asli, salah satu dari 5 pilar draken” Ucap False membuka topeng yang ia kenakan.

Dibuat oleh Muh. Irwan ali dari SMAs Haji Agus Salim katoi

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *