Oleh: Amara Nasifa*

Awalnya, daerah Gowa terdapat sembilan kelompok komunitas masyarakat yang masing-masing bernama Tombolo, Parang Parang, Lakiung, Data, Agangjene, Bissei, Saumata, Sero, dan Kalili. Kesembilannya dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera). Bate Salapang ini kemudian bersatu menjadi pusat kerajaan Gowa.

Pemimpin pertama kerajaan Gowa adalah Tumanurung yang kekuasaannya berkisar pada abad ke-14 (sekitar tahun 1300). Pada awal abad ke-16, raja kerajaan Gowa ke-9 yang bernama Tumapa’risi Kallonna, melakukan banyak perubahan dalam sistem pemerintahannya. Tumapa’risi Kallonna menyatukan wilayah kerajaan Gowa dengan Tallo menjadi sebuah kesatuan kerajaan besar.

Bangsawan kerajaan Gowa pertama yang memeluk agama islam adalah penguasa dari Tallo yang bernama Karaeng Katangka. Setelah menganut agam islam beliau bergelar Sultan Abdullah Awwal Al Islam. Menguatnya pengaruh agama islam terhadap corak pemerintahan di kerajaan Gowa-Tallo, meningkatkan pula pengaruh kekuasaannya atas kerajaan lain di Sulawesi Selatan.

Pada abad ke-17 datanglah bangsa Eropa ke wilayah timur. Kerajaan Gowa-Tallo dengan sultan hasanuddin sebagai rajanya membentuk kerjasama dan pertahanan dengan tiga kerajaan di wilayah nusantara. Bangsa Eropa kemudian menancapkan kekuasaan dengan potensi bangsa Belanda dan mengawalinya dengan mendirikan kongsi dagang yaitu Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC).

Sistem dagang monopoli menyebabkan ketiga kerajaan besar tidak senang, sehingga timbullah perlawanan balik terhadap pihak belanda. Monopoli tersebut jelas ditentang oleh Sultan Hasanuddin. Belanda mencari sekutu untuk memperkuat diri, dan terus berusaha mendesak pasukan Sultan Hasanuddin. Pasukan Gowa bertahan dengan berani dan pertempuran tersebut berlangsung cukup lama.

Pada tahun 1669, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri, ia menyerahkan mahkotanya kepada putra yang bernama Sultan Amir Hamzah. Namun, Sultan Amir wafat tidak lama kemudian dan digantikan oleh saudaranya yang bergelar Sultan Ali. Sultan Hasanudsin sendiri wafat pada tahun 1670. Meskipun wafat, tapi keberanian Sultan Hasanuddin mengobarkan semangat juang para pengikutnya.

Sumber: Buku Sejarah Indonesia

*Penulis adalah siswi SMPN 2 Lilirilau

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *