Tok… tok… tok…
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam… eh Ris… ngapain ke sini malam-malam?” ucap Kevin setelah membuka pintu rumah.
“Oh… aku disuruh nenek nemenin kamu” ucap Aris
“Astaga… padahal aku bilang gak perlu. Ya udah Ris masuk dulu..” ucap Kevin mempersilakan Aris masuk.
“Oke…”
“O iya Vin… aku dengar dari ayahmu kamu mau sekolah di sini ya, apa itu benar?” tanya Aris.
“Ya… itu benar… aku pindah ke sekolahmu, jadi kita bisa bareng” ucap Kevin.
“Eh… tapi kamu yakin mau pindah sekolah? Aku dengar sekolah di kota lebih bagus dari sekolah yang ada di desa” ucap Aris.
“Iya ris aku yakin… dan juga… kesehatan kakek menurun… jadi aku mau tinggal di sini dulu…” ucap Kevin.
“Gitu yah…”
“Oh iya Ris… ini udah malem banget, tiduran yuk. Kebetulan di kamarku kasurnya dua. Besok kan kita harus ke sekolah bareng, jadi harus bangun pagi-pagi” ucap Kevin.
“iya juga sih… ya udah deh” ujar Aris.
mereka berdua beranjak dari sofa dan berjalan ke kamar Kevin. Setelah merebahkan diri, mereka berdua pun terlelap.
Sekitar jam 1 malam, sebuah suara membangunkan Kevin dari tidurnya. Suara-suara tersebut terus menerus memanggil kevin.
‘Kevin….’
‘Kevin…’
‘Ish… kalian berisik tau gak… aku mau tidur’
‘Kevin… buruan keluar…’
‘iya… iya… aku ke sana.’
Tak lama, Kevin bangun dari tidurnya dan beranjak keluar dari kamar menuju ke dapur. Di dapur, Kevin berjalan ke arah pintu kayu dan membuka pintu tersebut.
Setelah pintu terbuka, beberapa sosok makhluk halus berdiri sambil menatap ke arahnya.
“Kalian ini. Aku baru nyampe… ngantuk nih, malah bangunin. Gimana sih” ujar Kevin kesal
“Ya maaf… habisnya kamu gak nyapa kami. Kamu malah nyapa Laina duluan… gimana sih” ucap seorang gadis berambut panjang dengan gaun putih dan mengambang di udara.
“Iya… Kevin jahat…” ucap seorang anak kecil yang hanya mengenakan popok.
“Iya… itu benar” ucap mereka secara bersamaan.
“Kalian ini…. eh kunti… yul… cong… ngapain kalian ke sini? Bukannya aku udah nugasin kalian di bukit yah. Berani kalian lawan perintah hah? dan kalian semua?…. kalian itu siape?…” ucap Kevin.
“Mereka itu anggota baru Vin” ucap kunti.
“Sudahlah. Kalian segera kembali ke bukit. Kalau kalian masih ingin bebas berkeliaran dan tidak merepotkanku” ucap Kevin.
“Maaf… kami akan kembali” ucap mereka lalu menghilang.
“Dasar hantu-hantu ngeselin… orang mau tidur juga malah gangguin” ucap Kevin menutup pintu tak lupa menguncinya lalu berbalik.
“Astagfirullah…. Ris. Kamu ngagetin aja” ucap Kevin yang melihat Aris.
“He he… maaf.”
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Kevin
“Ambil minum” ucap Aris sambil memegang sebotol air mineral.
“Kamu sendiri ngapain ke sini?”tanya Aris.
“Mau tau aja… Udah. Balik ke kamar gih” ucap Kevin meninggalkan Aris.
“Aneh…” gumam Aris.
Mereka berdua pun kembali ke kamar lalu melanjutkan tidur. Sekitar jam setengah lima, mereka berdua terbangun ketika Adzan Subuh sudah berkumandang. Mereka berdua bergegas bangun, lalu mengambil air wudhu dan bergegas ke masjid. Karena Masjidnya tidak terlalu jauh, mereka berdua memilih berjalan ke sana.
Setelah selesai salat, mereka berdua berjalan kembali. Namun, di tengah perjalanan Aris baru sadar akan sesuatu.
“Vin, aku balik ke rumahku yah. Kamu ke rumah kakek aja.”
“Lah… kenapa Ris?”
“Aku lupa kalau seragam sekolahku di rumah.”
“Jadi gitu. Ya udah. Oh iya… kamu ke sekolah duluan aja. Nanti aku nyusul. Aku mau ke rumah sakit dulu jenguk kakek.”
“Okelah….”
Setelah pembicaraan singkat itu, mereka pun berpisah. Kevin berjalan sendirian menuju ke rumah kakeknya. Namun, saat Kevin berjalan melewati sebuah pohon besar, ia kemudian berhenti di bawah pohon itu lalu menengadah ke atas
“Defan, ngapain di atas? Dari tadi ngikutin gak nyapa. Ngak seneng yah aku datang ke sini?”
“Cih… bukan gitu…” ucap Defan yang tiba-tiba muncul di hadapan Kevin
“Lah terus kenapa?”
“Aku ngambek aja… soalnya kamu lebih suka di temenin panji… lah aku… di suruh tinggal disini…”
“Yah… kamu kan tau Fan… kamu gak boleh jauh dari sini. Kalau kamu pergi dari sini dia akan muncul kembali.”
“Aku tau… tapi aku gak suka aja tinggal di desa ini terus…”
“Sudahlah… kalau aku lebih kuat lagi aku akan membawamu pergi dari sini… bersabarlah sedikit… Laina juga sudah menyerap kekuatannya secara perlahan…”
“Baiklah … iya Vin… kamu harus hati-hati sama orang-orang itu mereka itu sangat licik…”
“Aku tahu… kamu jangan khawatir”
***
Di sekolah
“Aris… aku dengar kakekmu masuk rumah sakit yah… kabarnya gimana sekarang?” ucap Doni teman sebangku Aris
“Kalau sekarang kakek udah baikan… ” ucap Aris sambil meletakkan tasnya di atas meja
“Emangnya Kakek sakit apa Ris?” tanya Doni
“Hanya lelah saja…” ucap Aris
Tak lama, bel pelajaran pertama berbunyi. Setelah bel berbunyi, para siswa bergegas kembali ke kelas sambil menunggu guru masuk kekelas.
Setelah beberapa menit, setiap guru sudah berada di dalam kelas yang mereka ajar kecuali guru dari kelas Aris belum masuk kedalam kelas. Hal ini membuat para siswa di kelasnya bertanya-tanya
Sambil menunggu guru masuk kedalam ruangan, beberapa gadis mulai ber gosip.
“Putri… Rini… aku punya berita terbaru nih” ucap Deby
“Berita apaan Deb?” ucap Putri penasaran
“Tadi… pas bel bunyi kan… aku dari kantin tuh… pas aku jalan kembali ke kelas aku denger suara motor masuk ke halaman sekolah tuh… pas aku nengok ke asal suara… aku lihat ada anak cowok uang baru aja markirin motornya” ucap Deby
“Terus tu cowok ganteng gak?” tanya Rini
“Nah itu… kan dia pake Helm jadi aku gak liat tampangnya… tapi pas dia buka helmnya… wush… meleleh aku…” ucap Deby
“Benarkah?… wah pasti dia murid pindahan… dia nanti di kelas mana yah?” pikir Putri
Beberapa saat kemudian, guru pun masuk ke dalam kelas
“Maaf anak-anak, bapak terlambat masuk karena ada beberapa urusan…” ucap Hendra wali kelas di kelas Aris yang baru saja masuk ke dalam kelas
“Iya pak gak apa-apa kok” Ucap Sarah Gadis cantik, baik hati dan cerdas
“Dan bapak juga punya kabar bagus untuk kalian. Pasti kalian suka” ucap Hendra
“Kabar apaan pak?” tanya Salsa teman Sarah.
“Bapak punya kabar bahwa kalian bakalan dapat teman baru. Ayo masuk” ucap Hendra yang di iringi suara langkah sepatu yang menuju ke dalam kelas
“Anak-anak ini Kevin… nak Kevin silahkan perkenalkan diri” ucap Hendra
“Hai… aku Kevin… saya dari bandung… karena beberapa hal… jadi saya pindah ke sini… semoga kita bisa berteman baik” ucap Kevin
“Astaga… itu dia… ” ucap Deby
“Wah Deb… ganteng banget… ” ucap Putri
Setelah perkenalan singkat dari Kevin, beberapa wanita di kelasnya ricuh. Melihat hal itu, Kevin tidak bisa berkata-kata
“Nak Kevin… silahkan duduk di bangku yang kosong”
“Baik pak” ucap Kevin berjalan ke arah bangku yang kosong sembari melihat kearah Aris, lalu menyimpan tasnya tepat di bangku sebelah kanan Aris sambil melirik ke arah Aris.
“Ris… tu murid pindahan ngapain liatin kamu dari tadi?” bisik Doni
“Sudahlah… pelajaran akan di mulai kamu fokus saja sama pelajarannya” ucap Aris
Setelah kelas kembali tenang, peroses pembelajaran pun berlangsung hingga bel pergantian pelajaran hingga bel istirahat.
“Hai aku Putri”
“Kevin…” ucap Kevin
“Apa aku bisa memanggilmu Vin?” tanya Putri
“Terserah…” ucap Kevin acuh
“Oiya Vin kita ke kantin yuk… aku yang traktir” Ajak Putri
“Benarkah?” ucap Kevin sedikit antusias
‘Sangat tampan jika dia bersikap seperti ini’ batin Putri
“Iya aku beneran” ucap putri
“Tapi aku gak tertarik” ucap Kevin yang langsung mengubah ekspresinya dan membuat Putri sedikit kecewa
“K..kalau begitu aku pergi dulu… maaf mengganggumu” ucap Putri berjalan meninggalkan Kevin
“Ris…. tu murid pindahan sombong banget sih… kasian tuh si Putri” bisik Doni
“Don… namanya Kevin… dia belum terbiasa mungkin” ucap Aris lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Kevin
“Vin… gimana kabar kakek?” tanya Aris
‘Lah kok Aris nanyain kakeknya ke si Kevin sih?’ batin Doni
“Kakek udah baikan… hari ini kakek sudah bisa pulang kok…” ucap Kevin
“Ris kalian saling kenal?” tanya Doni
“Iya… dia sepupu dari ibu aku” terang Aris
“Pantesan…” ucap Doni
“Nama kamu Doni kan?” tanya Kevin
“Iya… kenapa?”
“Aku saranin kembalikan gantungan kunci yang kamu dapat di jalan kemangi… ” ucap Kevin sambil menunjuk gantungan kunci yang terpasang di ransel Doni
“Loh… kok kamu tau kalau aku nemu ini di jalan kemangi?” Tanya Doni
“Bukan apa-apa… sebaiknya kamu buang saja gantungan kunci itu kembali ke jalan kemangi… kalau gantungan kunci itu masih di tanganmu kau akan mengalami mimpi buruk itu secara berulang ulang” ucap Kevin
“Vin kamu ngomong apaan sih… kayak tu gantungan kunci ada penunggunya aja” ucap Aris
“Emang ada…. Temanmu aja sudah ngalamin mimpi buruk itu selama seminggu”
“Lah Ris… sepupumu tau loh…” ucap Doni terkejut
“Ris… kamu gak ngajakin aku ke kantin nih… aku lapar” ucap Kevin
“Tadi di ajak sama putri gak mau… eh malah nawarin ke aku lagi” ucap Aris
“Sudahlah Ris… kita bertiga ke kantin aja aku juga dah laper nih” ucap Doni.
