Di malam itu, beraneka ragam suara kicauan burung dan suara-suara serangga menemani mereka hingga terlelap. Tanpa waspada, mereka tertidur pulas, tanpa menyadari bahwa di kedalaman hutan, ada puluhan pasang mata yang mengintai, dengan air liur yang terus menerus menetes dari mulut mereka.

Di antara mereka, Kyle tidak bisa tidur karena merasakan rasa haus darah dari puluhan pasang mata itu. Karena kondisi khususnya, Kyle lebih waspada karena malam itu akan terjadi bulan purnama.

Pada bulan purnama, kekuatan Kyle akan melemah hingga separuhnya. Karena itu, Kyle lebih waspada jika penghalang yang ia pasang berhasil ditembus oleh makhluk-makhluk itu. Kyle hanya cemas terhadap adiknya jika para makhluk itu berhasil menembus penghalang tersebut.

Tepat tengah malam, langit bersih tanpa gumpalan awan. Cahaya bulan purnama menyinari seluruh hutan dan mulai melemahkan kekuatan Kyle. Saat proses itu berlangsung, Kyle merasa sedikit sesak dan berusaha mengontrol kekuatan miliknya.

Tak lama kemudian, suara gemuruh yang sangat keras terdengar di dalam hutan. Suasana yang awalnya hening tiba-tiba berisik dengan suara-suara hewan dan burung yang beterbangan di langit malam, seolah menandakan malapetaka. Suara gemuruh membuat mereka yang tertidur pulas terbangun karena terkejut.

Mereka duduk bersimpuh di dalam tenda, mencoba mengumpulkan kesadaran. Tiba-tiba, suara bising itu lenyap dan keadaan kembali sunyi. Beberapa saat kemudian, suara cekikikan yang melengking, khas milik sosok wanita bergaun putih dengan rambut panjang terurai, terdengar menggema di hutan. Bukan hanya satu, tapi banyak sosok wanita tersebut membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.

Tak lama kemudian, suara gemuruh dalam hutan kembali terdengar, membuat tanah di sekitarnya bergetar. Mereka yang bersembunyi di dalam tenda segera keluar. Setelah keluar, udara dingin menembus tubuh mereka.

“Apa yang terjadi? Sangat dingin,” ujar seorang pria bernama Ryan sambil menabur garam di tanah membentuk lingkaran yang sangat luas.

“Ryan, apa yang kau lakukan?” tanya Nolan.

“Aku menabur garam. Kalian masuk ke dalam lingkaran,” jawab Ryan.

“Tapi apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Siska gemetar.

“Kita sudah diincar oleh makhluk-makhluk di sekitar sini. Kita aman sementara karena pelindung yang dipasang Kyle. Tapi itu tidak akan bertahan lama. Aku melihat bahwa pelindung itu semakin melemah,” jelas Ryan.

“Kyle tidak ada di sini. Dia pasti masih di tenda. Kita harus membawanya ke sini atau dia dalam bahaya,” ucap Naya, lalu bergegas pergi, tetapi ditahan oleh Ryan.

“Berhenti! Pelindungnya ditembus. Jangan keluar dari sini. Aku yang akan menahan mereka,” kata Ryan.

“Tapi apakah kau bisa, Ryan?” tanya Siska.

“Yah, aku yakin aku bisa menahannya, karena aku keturunan pengusir hantu. Sudah tugasku membasmi mereka yang menjadi roh jahat,” ujar Ryan sambil melangkah keluar dari lingkaran garam yang ia buat.

“Kekkeke… Manusia berani juga melawan kami, hahahaa. Aku mencium bau yang paling kami benci dalam tubuhmu,” ucap sosok berbadan besar dengan tampilan mirip kera serta rambut lebat di sekujur tubuhnya. Dia adalah sosok jin bernama Genderuwo.

“Dasar jin terkutuk,” ujar Ryan, disusul munculnya seekor harimau putih di sampingnya.

“Wah, lihat di samping Ryan. Harimaunya bersih banget,” ujar Weni.

“Wen, kita lagi ketakutan ini. Jangan ngelawak,” tegur Jeni.

“Tau nih. Kalau mau ngelawak, lihat situasi. Itu tuh jin tau,” ujar Dela.

“Kenapa pada debat sih,” bentak Naya.

Di sisi lain, kondisi Kyle semakin melemah. Di tengah kesakitan, sebuah suara tiba-tiba terdengar, diikuti oleh munculnya sosok yang dikelilingi asap tebal di depannya.

“Mau kubantu Kyle?” ujar sosok itu sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya serta warna mata merah menyala.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *