Pada malam harinya, Jerry duduk di kursi meja belajar dekat dengan jendela. Terlihat pemandangan malam hari dari balik jendela. Lalu, Jerry mengambil sebuah foto dari dalam laci meja
“Sebentar lagi semuanya akan selesai, Kak. Semoga kamu bisa tenang di sana,” ucap Jerry sambil memandangi foto kakaknya
Flasback
“Kak, udah… Geli tau!” ucap Jerry.
“Kamu nakal, Ya? Hemm…” ucap Jefry, kakak Jerry.
“Oke, aku gak bakalan jahil lagi, hahaha…!” ucap Jerry menahan tawa.
Jefry pun menghentikan aksinya menggelitiki Jerry.
“Kak, aku kangen ayah sama bunda,” ucap Jerry lalu memeluk kakak lelaki satu-satunya.
“Kakak juga kangen sama mereka. Bagaimana kalau besok kita ke makam ayah dan bunda?” ucap Jefry.
“Iya, Kak, Jerry mau!” ucap Jerry.
“Ya udah, besok kita ke sana,” ucap Jefry.
Keesokan harinya, mereka berdua menempuh perjalanan ke makam mengendarai sebuah mobil peninggalan ayah mereka.
Di tengah perjalanan, mereka berdua dihadang oleh beberapa orang. Jefry kemudian turun dari mobil. Di dalam mobil, Jerry melihat kakaknya sedang berbicara dengan mereka.
Setelah lama berdebat, Jefry dipukuli hingga jatuh ke tanah. Melihat hal itu, Jerry langsung keluar dari dalam mobil dan berlari menghampiri kakaknya.
“Kalian siapa? Kenapa pukul kakak saya?” ucap Jerry.
“Berisik banget, sih!” ucap salah satu dari laki-laki itu lalu menendang Jerry.
Jerry yang masih berumur 13 tahun meringis menahan sakit di bagian perutnya.
“Jangan sakiti adikku!” ucap Jefry. Lalu, dia bangkit dan mencoba melawan mereka.
Tetapi karena kalah jumlah, Jefry kembali dipukuli. Salah satu dari mereka menusuk Jefry menggunakan sebuah pisau tepat di bagian perut.
“Kak…!Kakak…!” teriak Jerry melihat kakaknya tertusuk pisau.
Mereka semua panik melihat Jefry bersimbah darah. Lalu, mereka memasukkan tubuh Jefry ke dalam mobil. Demi menutupi kejadian itu, mereka kemudian mengikat Jerry dan memasukkannya ke dalam mobil bersama kakaknya.
Setelah merasa lega, mereka mendorong mobil itu ke tebing yang berhubungan langsung dengan laut. Mobil itu, yang berisi Jefri dan Jerry, meluncur ke laut.
Melihat bukti dan saksi lenyap bersamaan, mereka pun berbalik dan mengendarai motor lalu pergi. Tanpa mereka ketahui seseorang sedari tadi menyaksikan kejadian itu dari jauh.
Saat mereka pergi, orang itu melompat ke laut. Dia mengangkat tubuh Jerry dan Jefry. Sayangnya, karena kehilangan banyak darah, Jefry idak dapat tertolong.
***
Saat mengingat kejadian itu, Jerry kembali menggertakkan giginya. Tak lama, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Setelah melihat notifikasi itu, Jerry mengulum senyum yang mengerikan
Di tempat lain, Lude membuka matanya dan sedikit terkejut. Dia melihat kesegala arah.
“Apakah aku sudah mati?” ucap Lude.
kemudian, sebuah suara mengejutkannya.
“Kau belum mati. Tidak akan kubiarkan kau mati dengan mudah!” ucap Jerry.
Lude lagi-lagi dikejutkan dengan kehadiran Jerry. Lude berusaha menjauh. Tetapi, dia sudah diikat di atas tempat tidur dengan infus yang terpasang di wajahnya. Lude tidak dapat pergi.
“Sstt… Jangan banyak gerak. Lukanya belum sembuh loh…” ucap Jerry yang membuat Tubuh Lude bergetar ngeri.
“Mau kamu apa, hah? Belum puas?” ucap Lude.
“Iya, aku belum puas nyiksa kamu. Dan jangan pernah berpikir bisa keluar dari tempat ini!” ucap Jerry.
Tak lama, seorang laki-laki berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan.
“Tuan muda, bos besar memanggil Anda,” ucapnya.
“Baiklah, aku akan ke sana,” ucap Jerry.
“Dan juga tolong awasi domba kesayangan ku ini, jangan biarkan dia macam-macam,” ucap Jerry. Laki-laki itu pun mengangguk.
“Lude, sampai ketemu lagi!” ucap Jerry sebelum berjalan ke luar ruangan.
Jerry berjalan menuju ruangan lain dan membuka pintunya.
“Iya, Ayah… Apa kau memanggilku?” ucap Jerry.
Seorang laki-laki duduk di sebuah kursi membelakangi pintu. Kemudian, dia pun berbalik.
“Putraku,” ucap laki-laki itu.
Pria di hadapan Jerry mempunyai bekas luka di wajahnya. Usianya sudah tidak muda lagi. Walaupun begitu, fisiknya masih terlihat sangat kuat.
“Aku punya misi untukmu,” ucap laki-laki yang dipanggil ayah itu. Dia menyodorkan sebuah foto pada Jerry.
“Bukankah ini…?” ucap Jerry.
“Iya, seperti yang kau duga, Fiki dalam bahaya. Aku ingin kau selalu mengawasinya,” ucap laki-laki itu.
“Baiklah, Ayah, aku akan mengawasi Fiki. Tidak akan kubiarkan terjadi apa pun pada Fiki,” ucap Jerry sambil bersiap-siap meninggalkan ruangan itu.
Laki-laki itu tersenyum. “Baiklah, aku percayakan Fiki padamu.”
“Iya, Ayah. Aku tidak akan mengecewakanmu. Sudah cukup aku kehilangan keluargaku. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Kalau begitu, Ayah, aku pamit dulu…” ucap Jerry. Laki-laki yang dipanggil ayah itu membalasnya dengan anggukan.
Pagi harinya, Jerry berangkat ke sekolah seperti biasa. Tiba di sekolah, Jerry langsung menuju ke arah perpustakaan.
Penulis : Muh.Irwan Ali
Asal sekolah : SMA Haji Agus Salim Katoi
Kelas : 10
Kab : Kolaka Utara
