Oleh: Izz Zayani

Ada seseorang yang akhir-akhir ini sering membuatku percaya bahwa mimpi memang memiliki caranya sendiri untuk memperkenalkan diri.

Kadang-kadang, ia muncul dalam bentuk sebuah unggahan ulang: sebuah medali, nama sebuah perlombaan, foto seseorang yang berdiri di atas panggung dengan sesuatu yang berkilau di dadanya, atau sekadar kalimat tentang belajar lebih giat, berprestasi lebih banyak, dan menjadi seseorang yang kelak dapat dikenang karena sesuatu yang telah diperjuangkannya.

Aku melihat semua itu dari seseorang yang kukenal.

Ia menyimpan banyak keinginan di tempat-tempat kecil di layar telepon genggamnya, misalnya. Pada unggahan-unggahan yang mungkin bagi orang lain hanya sekadar gambar yang lewat, baginya barangkali adalah cara paling sederhana untuk berkata kepada dunia: aku ingin sampai ke sana.

Entah mengapa, setiap kali melihatnya, aku merasa bangga.

Bukan bangga karena ia telah memenangkan sesuatu. Belum. Bahkan mungkin perjalanan menuju ke sana masih panjang dan penuh kemungkinan untuk tersandung. Aku hanya bangga karena ia memiliki sesuatu yang tidak semua orang berani miliki: keinginan yang cukup besar untuk dikejar.

Pernah suatu kali ia mengatakan bahwa aku adalah pembangkit rasa ambisinya.

Aku menyimpan kalimat itu lebih lama daripada yang mungkin ia kira.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika mengetahui bahwa kehadiran kita, sekecil apa pun, pernah membuat seseorang ingin membuka buku lebih lama, belajar lebih sungguh-sungguh, atau memandang masa depannya sedikit lebih jauh. Namun, semakin aku mengenalnya, semakin aku sadar bahwa aku bukanlah alasan utama di balik ambisi itu.

Aku mungkin hanya seseorang yang kebetulan menyalakan lampu di ruangan yang sebenarnya sudah lama ia miliki.

Sebab, api itu memang ada di dalam dirinya.

Aku melihatnya bahkan pada hari ketika sebuah angka membuat matanya basah. Enam belas. Hanya dua digit yang dicetak di atas kertas, tetapi aku tahu ada harapan yang ikut jatuh bersamanya. Ada usaha yang terasa seperti tidak terbayar. Ada malam-malam belajar yang mendadak terasa sia-sia.

Namun, bukankah manusia memang sering kali begitu?

Kita terlalu mudah mengira bahwa satu kegagalan adalah akhir dari sebuah perjalanan, padahal ia barangkali hanya satu halaman buruk dari buku yang masih sangat panjang.

Maka, aku berharap ia tidak berhenti di sana.

Aku berharap suatu hari nanti, ketika ia kembali melihat semua hal yang pernah ia unggah ulang, ia tidak lagi menemukannya sebagai sesuatu yang ingin dimiliki, melainkan sesuatu yang pernah berhasil ia perjuangkan.

Medali yang dahulu hanya menjadi gambar di layar, semoga suatu hari menjadi dingin di telapak tangannya.

Perlombaan yang dahulu hanya berupa nama, semoga suatu hari menjadi tempat ia berdiri dengan jantung yang berdebar.

Dan semua keinginan yang hari ini masih berupa ingin, semoga perlahan berubah menjadi pernah.

Aku ingin melihatnya sampai sejauh itu.

Bukan karena aku ingin membuktikan bahwa aku pernah menjadi seseorang yang menghidupkan ambisinya, melainkan karena aku ingin melihat apa yang dapat dilakukan seseorang ketika ia benar-benar percaya bahwa dirinya mampu.

Barangkali kelak ia akan lupa bahwa pernah ada masa ketika ia menangis karena nilai enam belas.

Barangkali ia akan lupa pada hari-hari ketika sebuah medali masih terasa begitu jauh.

Barangkali ia bahkan akan lupa pada semua unggahan yang pernah ia simpan sebagai daftar keinginan.

Tidak apa-apa.

Sebab, ada hal-hal yang memang tidak perlu diingat oleh seseorang yang telah berhasil melewatinya.

Biarlah aku yang mengingatnya:

bahwa dahulu, pernah ada seseorang yang memiliki begitu banyak mimpi, tetapi belum tahu akan membawanya ke mana;

bahwa dahulu, ia pernah kecewa, pernah menangis, pernah merasa belum cukup.

Namun, ia tetap menatap ke depan.

Tetap belajar.

Tetap berharap.

Tetap berjalan.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah prestasi yang paling ingin kusaksikan darinya: bukan sekadar ketika namanya tercetak di antara para pemenang, melainkan ketika suatu hari ia menoleh ke belakang, melihat dirinya yang dahulu, lalu tersenyum dan berkata,

“Ternyata, aku benar-benar sampai.”

Watansoppeng,25 September 2026

(Visited 5 times, 5 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *