Oleh: Nur Indah
Bab I: Tentangku
Perkenalkan, namaku Nur Indah, atau biasa dipanggil Indah. Itulah nama akrabku di sini, tepatnya di Desa Katoi tercinta, tempat tinggalku. Desa Katoi adalah desa yang masih kurang dikenal. Desa Katoi berada di Provinsi Sulawesi Tenggara, sebuah desa yang damai dan indah. Aku selalu merasa bahagia tinggal di desa ini.
Aku adalah putri pertama dari ayah yang bernama Salanuddin dan seorang ibu yang bernama Hartati. Ayahku adalah seorang petani yang tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya. Walaupun begitu, aku dan ayahku memiliki karakter yang tidak jauh berbeda, berbeda dengan adikku yang memiliki sikap tertutup.
Berbeda dengan ayahku, ibuku adalah sosok malaikat bagiku, sosok penenang, dan sosok yang selalu mengerti keadaanku. Walaupun aku sering membuat ibuku marah, ibu tetap menyayangiku. Aku memiliki adik perempuan bernama Hilda yang berusia 13 tahun.
Dengan keluarga yang masih lengkap, hidupku terasa lebih bahagia ketika dapat berkumpul bersama mereka, terutama di kala aku lelah karena berbagai aktivitas. Adikku masih duduk di bangku SMP kelas III, sedangkan aku duduk di bangku SMA kelas III. Aku dan adikku memang tidak seumuran, tetapi kebanyakan orang mengatakan bahwa aku dan adikku seperti anak kembar karena tinggi badan kami hampir sama.
Ayah dan ibuku tidak pernah menuntut nilai yang sempurna dari aku dan adikku. Ayah dan ibu hanya berharap agar aku dan adikku bersekolah dengan sungguh-sungguh. Walaupun ayah dan ibuku tidak menuntut nilai sempurna dari kami, aku dan adikku tetap berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik dan menjadi juara satu.
Pendidikan terakhir ayahku hanya sampai Sekolah Dasar (SD), begitu pula dengan ibuku. Namun, kedua orang tuaku tidak pernah gagal dalam mendidikku. Mereka mengajarkanku cara berbakti kepada orang yang lebih tua dariku dan mengajarkanku banyak hal tentang nilai-nilai kebaikan.
Aku dan ayahku sangat dekat, begitu pula dengan ibuku, padahal aku sudah remaja dan berusia 16 tahun. Kata teman-temanku, aku sudah tidak seharusnya terlalu dekat dengan kedua orang tuaku karena aku sudah memasuki usia remaja. Namun, aku menolak hal itu karena menurutku, semakin kita beranjak remaja, semakin kita harus mendekatkan diri kepada orang tua. Sebab, orang tua akan selalu merindukan anak-anaknya.
Walaupun aku sering membuat kedua orang tuaku khawatir dengan keadaanku, mereka tetap menyayangiku dengan tulus dan selalu menginginkan yang terbaik untukku. Ayah dan ibuku juga tidak pernah membatasi pertemananku. Aku diperbolehkan berteman dengan siapa saja. Ayah dan ibuku memiliki prinsip yang sama tentang diriku, yaitu membolehkan aku berteman dengan siapa pun, asalkan aku tahu batasanku.
Aku tidak merasa tertekan sama sekali. Justru, aku merasa bahagia karena kedua orang tuaku selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan pergaulanku.
Kolaka Utara,6 Oktober 2026
