Oleh: Adit Anugrah Pratama

Rak-rak sepatu itu berjajar rapi, seolah memamerkan keanggunan dan kepercayaan diri. Cahaya lampu toko yang terang memantul di kulit sepatu, membuat setiap pasang tampak seperti bintang di panggungnya sendiri. Raka berdiri terpaku di depan deretan sepatu Adidas itu, matanya berbinar seperti anak kecil melihat kembang api.

Sejak kecil, Raka menyukai sepak bola. Tapi ia bukan anak dari keluarga kaya. Sepatu bola pertamanya adalah pemberian pamannya, sepatu lusuh dengan sol yang sudah menipis. Namun, bagi Raka kecil, itu bukan sepatu bekas itu adalah “senjata sakti” yang menemaninya berlari mengejar mimpi di lapangan desa.

Kini, setelah bertahun-tahun, Raka akhirnya menjejakkan kaki di kota besar untuk mengikuti seleksi tim sepak bola profesional. Dan di sinilah dia, berdiri di toko sepatu yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat poster di dinding warung.

“Boleh saya coba yang ini, Kak?” tanyanya pelan kepada pegawai toko, menunjuk sepasang sepatu putih dengan tiga garis hitam klasik.
“Tentu, tunggu sebentar ya,” jawab pegawai itu dengan senyum ramah.

Ketika Raka mengenakan sepatu itu, rasanya dunia berhenti sejenak. Solnya empuk, pas di kaki, dan ringan. Ia berjinjit, lalu berlari kecil di dalam toko. Seakan sepatu itu diciptakan khusus untuknya. Namun saat melihat label harga, senyumnya perlahan pudar. Harganya setara dengan tabungan hasil kerja paruh waktunya selama tiga bulan.

Ia berdiri di depan cermin toko, memandangi bayangannya sendiri. Di satu sisi, ia ingin membelinya sekarang juga. Di sisi lain, ia tahu uang itu seharusnya digunakan untuk biaya makan dan transportasi selama seleksi berlangsung.

Tiba-tiba, ia teringat perkataan ayahnya, “Sepatu bagus tidak membuatmu hebat, Nak. Tapi langkahmu yang penuh tekad, itulah yang akan membawamu jauh.”

Dengan napas panjang, Raka melepas sepatu itu perlahan. Ia mengembalikannya pada pegawai toko sambil tersenyum. “Terima kasih, Kak. Mungkin… bukan sekarang.”

Beberapa minggu kemudian, kabar besar datang. Raka lolos seleksi tim sepak bola profesional. Dan sebagai hadiah, pelatih memberinya sepasang sepatu Adidas baru—persis model yang ia coba hari itu. Bedanya, kali ini bukan ia yang membeli sepatu itu… tapi sepatu itu yang “datang” untuknya setelah perjuangan panjang.

Raka menatap sepatu barunya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, mimpinya tidak dimulai dari sepatu, tapi dari langkah kecil yang tak pernah berhenti.

“Impian tidak selalu bisa dibeli, tapi bisa digapai dengan tekad dan kesabaran. Kadang, waktu yang tepat akan mengantarkanmu pada apa yang dulu hanya bisa kau pandangi.”

Watansoppeng, 10 Oktober 2025

(Visited 24 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *