Oleh: Aisya Ichsan*
Awal masuk SD, aku tidak punya teman. Aku masih merasa asing dengan lingkungan baru itu. Tapi saat itu ada seorang yang bernama Alya yang menyapa aku. Aku merasa dia orang yang baik. Kami pun menjadi teman. Ke mana dan di mana pun dia, aku selalu bersamanya. Dia selalu membantuku saat dalam kesulitan, begitu pula sebaliknya. Saat kelas 3, kami masing-masing sudah mempunyai teman baru, jadi kami jarang bersama lagi. Tak berapa lama, Alya juga bergabung bersama kami, dan bisa bermain bersama lagi.
Lama kelamaan karena kami selalu bersama, aku pun sudah menganggapnya sebagai sahabat. Saa libur, kami bermain bersama,berenang, masak-masak, bersepeda bersama, dan masih banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Kami bersahabat sampai kelas 6 SD.
Hari kelulusan tiba. Awalnya Alya akan bersekolah di SMP Negeri 1 Watansoppeng, tapi dia tiba tiba memberitahu kami bahwa dia tidak jadi bersekolah di situ. Aku sangat sedih karena berpisah dengannya. Dia akan bersekolah di pondok pesantren.
Esok hari Alya sudah akan berangkat ke pondok. Saat malam tiba, aku berkunjung ke rumahnya. Kami makan malam bersama sambil bercerita santai. Kami merasa sangat sedih karena harus berpisah. Namun perpisahan itu demi untuk kebaikan bersama.
Itulah hari terakhir aku dan Alya bertemu. Meskipun begitu, kami tetap berkomunikasi dan bisa bertemu lagi saat Alya libur dan pulang dari pondokan.
Sahabat, mari kita gapai cita-cita bersama. Mari belajar dengan baik untuk menjadi generasi emas bangsa.
