Oleh: Amara Nasifa*
Kau tahu?
Apa yang membuat manusia-manusia seperti kita selalu merasa kurang bahagia?
Apa itu?
Kita banyak meminta, tapi lupa caranya bersyukur dengan apa yang kita punya. Kita terlalu sibuk pada keinginan, impian, fokus membuat begitu banyak list permintaan, sampai tidak menyadari jika banyak pemberian Tuhan yang belum sempat dinikmati, terlewat begitu saja.
Memangnya apa yang kita cari dalam dunia ini?
Kita hidup di desa, kita merindukan kota.
Kita hidup di kota, kita ingin tinggal di desa
Kalau kemarau kita tanya kapan hujan turun?
Kalau musim hujan, kita tanya kapan ia berhenti?
Diam di rumah, ingin pergi keluar
Sekalinya keluar, mengeluh lelah dan ingin pulang ke rumah.
Waktu lagi libur, ingin cepat masuk sekolah
Masuk sekolah, tidak sabar menunggu hari libur.
Ketika masih kecil, mengeluh ingin cepat dewasa, sudah dewasa, mengeluh karena banyaknya masalah, kemudian berangan ingin kembali menjadi anak kecil yang tidak tau apa-apa. Lalu kebahagiaan apa didapatkan jika hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah dimiliki. Bersyukur, hidup yang sebenarnya itu adalah waktu yang dipinjamkan dan harta kita punya itu adalah berkat yang dipercayakan.
Masih banyak di luar sana yang hidupnya tidak layak. Tidur di bawah jembatan, mengorek sampah berharap mendapat makanan sisa, dan parahnya lagi putus asa sampai meminta-minta di pinggir jalan. Anak kecil yang seharusnya belajar harus turun ke jalan menjadi pemulung. Mereka lelah, tapi tidak ada cara lain untuk mereka bertahan selain itu, sedangkan kita yang hidup dengan layak masih sempat-sempatnya mengeluh.
Konsep bersyukur itu, seperti burung yang mampu mengudara tapi tak pernah lupa caranya mendarat. Kurang ajar sekali jika kita mengeluh. Membandingkan diri kita dengan orang lain di saat kita sendiri belum cukup mengenal diri sendiri. Lihat kelebihan yang dimiliki, lihat apa yang sedang kita gunakan, bernapas saja itu sudah nikmat besar. Tuhan itu menciptakan manusia dengan kelebihannya masing-masing.
Manusia itu makhluk yang jenuh dan mudah bosan, tidak bisa menerima keadaan tanpa membenci kenyataan. Padahal hidup yang dikeluhkan terkadang apa yang orang lain inginkan. Ada quote yang mengatakan “Setiap hari adalah indah bagi orang yang bersyukur” dan itu nyata adanya. Bahagia sesungguhnya itu ada dalam diri manusia yang pandai bersyukur.
*Penulis adalah Siswi SMPN 2 Lilirilau Watansoppeng
