Oleh : Ryan Hidayat
“Dalam kehidupan kita tidak bisa menghindari yang namanya masalah dan kesalahan”
Pada hari itu hari terakhirku di sekolah karena keluargaku akan pindah ke desa dan otomatis saya juga akan pindah sekolah. Di sekolah sebelumnya aku sudah memiliki banyak teman. Mereka semua respect terhadap saya. Inilah salah satu yang membuat saya bingung saat orang tuaku menyampaikan kepada saya bahwa kita akan pindah ke desa. Keraguan saya untuk pindah desa semakin meningkat setelah saya mulai berpikir,” Apakah saya mampu untuk bersaing di sekolah baru saya nantinya..?
Akhirnya, dengan berat hati saya harus pindah ke desa lain demi mengikuti kedua orang yang ingin merantau untuk perbaikan taraf hidup kami. Di sekitar rumahku yang baru ternyata banyak teman yang seumuran denganku dan aku sudah mendaftar di sekolah baru yang berada tak jauh dari rumah baruku.
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah dan hari itu adalah hari pertamaku masuk di sekolah itu dan aku belum mempunyai teman. Di sekolah yang baru, aku bertemu sepupuku. Sepupu yang selama ini tak pernah aku jumpai lagi setelah berpisah di bangku sekolah dasar. Kebahagiaanku mulai kembali setelah berjumpa dengan sepupu yang selama ini memang aku rindukan.
Hari-hari kulewati bersama sepupuku dan dia mulai memperkenalkan satu persatu temannya di sekolah yang baru. Berkat sepupuku yang memperkenalkanku dengan teman-temannya., Alhamdulillah di sekolah baruku aku kembali memiliki banyak teman. Aku pun sebagai seorang siswa baru tak memilih dan memilah lagi teman. Hari berganti, bulan berlalu, aku telah selesai mengikuti ujian semester ganjil. Hari penerimaan rapor tiba, dan aku dinobatkan sebagai salah satu anak yang berprestasi di sekolah baruku ini.
Aku pulang kerumah dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan. Kupikir ini akan menjadi prestasi awal di sekolah baru tetapi hari demi hari aku baru tau sepupuku ternyata orang yang paling nakal di sekolah ini.
Hari itu, tepat 7 bulan aku di sekolah baruku dan ada teman setingkatku yang mengajak untuk ke kantin dan pada saat itulah aku mendapati sepupuku yang merokok bersama teman-temannya.
Teman sepupuku memanggilku dengan nada yang keras, lalu aku yang agak takut pun menghampiri teman mereka. Dia memaksaku untuk merokok. Namun, aku yang tidak suka merokok dan memang dilarang oleh orang tua untuk mencoba barang itu. Tetapi sepupuku juga memaksa untuk mencobanya.
Aku terpaksa mencobanya dan setelah hari itu aku tidak lagi dipaksa tetapi aku yang memaksanya untuk memberikanku karena aku yang sudah kecanduan rokok dan sering bolos. Aku sudah tidak memikirkan prestasiku sebelumnya lagi. Semua seakan-akan tak berarti lagi. Belakangan aku baru menyadari setelah guru favorit kami di sekolah menjelaskan tentang dampak dari salah pergaulan. Katanya “kesalahan pergaulan bisa merenggut masa depan”. Aku tak mau hal itu terjadi padaku.
Akhirnya aku memutuskan untuk banyak berdiskusi dengan guruku yang senang nongkrong di bawah pohon ketimbang harus duduk di kantor. Kini, berkat dia saya mulai menyibukkan diri untuk gabung di organisasi seperti OSIS dan Pramuka.
“Bergaul itu baik tapi salah pergaulan hilang tujuan”
