“Pak… Kyle menemukan tempat yang bagus untuk membangun tenda dan dia meminta kita kesana…” ucap Siska.
“Kalau seperti itu kita ke sana saja. Apakah kamu tahu tempatnya?” tanya pak Jared.
“Tempatnya di dalam hutan pak… kalau lebih jelasnya saya tidak tau… tapi nanti Naya akan mengantar kita kalau kita sudah di sana” ucap Siska.
“Kalau begitu kamu tunjukkan jalan bapak akan mengarahkan teman kelasmu” ucap Jared.
“Iya pak”.
“Perhatian semuanya… kumpulkan barang-barang kalian! Kita akan pergi ke tempat perkemahan” ucap pak Jared.
“Jadi bukan di sini pak… kirain di sini” ucap Nolan.
“Sudah… sebaiknya kita bereskan kembali barang kita…” ujar Devan.
“Apakah barang kalian sudah lengkap?… kalau sudah kita berangkat kesana” ucap Pak Jared berjalan di depan dengan Siska di sampingnya.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya mereka sampai di pinggiran hutan. Setelah sampai di sana, Siska melihat Naya bersandar di pohon menunggu kedatangan mereka.
“Sis… kok lama banget sih… capek tau nunggunya” ucap Naya pada Siska yang berjalan menghampirinya.
“Iya… iya.. maaf.. terus kita kemana lagi?” tanya Siska.
“Kita langsung masuk saja… ikuti aku” ucap Naya lalu berjalan ke dalam hutan diikuti yang lainnya.
Di tengah perjalanan, Leon melihat sebuah tali berwarna merah yang terikat di pohon kemudian mendekatinya.
‘Ini apa?’ batin Leon.
“Sebaiknya jangan melewati pohon dengan benang merah yang terikat di sana… kalau kau tidak ingin terjadi sesuatu yang mengancam hidupmu” ucap Kyle dengan nada datar kepada Leon.
Leon berbalik dan mendapati Kyle berdiri di depannya dengan beberapa macam buah di tangannya.
“Apa maksudmu?” Tanya Leon.
“Kau mau?..” ucap Kyle menawarkan buah mangga yang sudah berwarna kuning kepada Leon.
“Di mana kau mendapatkannya?” tanya Leon.
“Di sekitar sini, dan sebaiknya kau mengikutiku karena kau sudah tertinggal dari rombongan” ucap Kyle berbalik dan berjalan pergi.
“Dasar…” ucap Leon.
Leon berjalan mengekori Kyle karena ia sudah tertinggal jauh dari rombongan teman-temannya akibat rasa penasaran dengan tali merah itu.
Di tempat lain, rombongan itu telah sampai. Kemudian, satu persatu dari mereka meletakkan barang bawaannya dan mengeluarkan handphone mereka untuk memotret pemandangan di sana.
“Wah… pemandangannya sangat bagus… tidak kusangka di dalam hutan ada tempat terbuka seperti ini” ucap Siska kagum.
“Lihat… ada danau juga” ucap Maya.
“Perhatian… karena kita sudah sampai sebaiknya kalian segera membangun tenda kalian…” ucap Pak Jared.
“Baik pak” ucap mereka.
Mereka satu persatu mengeluarkan tenda yang mereka bawa dan membangunnya bersama-sama
“Dev… Leon mana?” Tanya Nolan.
“Eh… kukira dia ada di belakang kita” ucap Devan.
“Apakah anak itu tersesat?” ucap Nolan.
“Kalau begitu sebaiknya kita mencarinya” usul Devan.
“Kalian tidak perlu mencarinya… dia bersamaku” ucap Kyle berjalan melewati mereka disusul dengan munculnya Leon.
“Leon kau dari mana saja? dan dimana kau dapat mangga itu?” tanya Nolan.
“Aku tadi tersesat… untung ada Kyle.. dan mangga ini dari Kyle” ucap Leon meletakkan barang bawaan.
“Mungkin mangga itu sudah di beri racun” ucap Nolan.
“Nolan… kau mungkin tidak menyukai Kyle… tapi jangan berpikiran seperti itu… bagaimana mungkin Kyle memasukkan racun ke dalam mangga itu… sudahlah sebaiknya kita membangun tenda saja” ucap Devan
“Terserah kau Devan” ucap Nolan.
Disisi lain, Devan berjalan kearah Siska dan Naya sambil membawa kantong plastik hitam berisi buah-buahan.
“Naya… tadi aku kehutan dan dapat buah di sana… kalian bisa memakannya… aku akan kembali ke tendaku” ucap Kyle menyerahkan kantong plastik tersebut ke Naya lalu pergi dari sana.
“Kyle itu susah di tebak yah…” ucap Siska.
“Begitulah… wah… ada mangga matang… juga ada rambutan… lihat ada langsat juga” ucap Naya melihat isi kantong plastik itu.
“Benarkah… aku akan mengambil pisau dan piring… sebaiknya kita juga membaginya pada yang lain… buah ini kan juga banyak” ucap Siska.
“Ide bagus.. aku akan memanggil Erika dan yang lainnya” ucap Naya bangkit dari duduknya
***
Pada malam harinya, mereka semua berkumpul mengelilingi api unggun yang sudah menyala sambil bernyanyi dan tertawa tidak lupa dengan hidangan-hidangan yang mereka persiapkan.
“Nay.. kenapa kau tidak mengajak Kyle ke sini?… lihat dia… di sendirian di sana” ucap Siska menunjuk Kyle yang sedang duduk bersandar di sebuah pohon jauh dari keramaian..
“Aku akan coba mengajaknya ke sini…” ucap Naya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Kyle.
“Kyle… mengapa kau tidak bergabung dengan yang lain?” tanya Naya lalu duduk di samping Kyle.
“Aku hanya tidak terbiasa Nay… kau tahu kan sudah berapa tahun aku tidak berinteraksi dengan orang lain…” ucap Kyle.
“Mengapa kamu tidak mencobanya sekarang?” ucap Naya.
“Rasanya aneh Nay…” ucap Kyle.
“Apakah kau tidak menyukai mereka?” tanya Naya.
“Bukan seperti itu… sudahlah jangan bertanya lagi… kalau kau datang kesini untuk mengajakku kesana sebaiknya kau kembali saja… aku lebih nyaman disini” ucap Kyle.
“Mengapa kau suka menyendiri?”
“Aku tidak sendirian… Fedi dan yang lainnya sedang di sini. Mereka bersamaku jadi kamu tenang saja,” ucap Kyle.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali ke sana” ucap Naya lalu bangkit dari duduknya.
“Satu lagi Nay… ingatkan mereka untuk tidak pergi terlalu jauh ke dalam hutan kalau tidak mereka akan menimbulkan masalah,” ucap Kyle.
“Apa kau mencemaskan mereka,” tanya Naya.
“Aku bukan mencemaskan mereka aku hanya mencemaskanmu. Kalau mereka dalam masalah pasti kau akan terjun langsung ke masalah itu,” ucap Kyle.
“Baiklah… aku akan memperingati mereka. Aku pergi dulu,” ucap Naya berjalan meninggalkan Kyle.
“Kyle… kau sangat menyayangi adikmu…” ucap Fedi.
“Diam kau… kau harus mengawasi Naya. Jangan sampai dia dalam masalah,” ucap Kyle.
“Kau ini… Baiklah… Tapi ada satu hal lagi…”
“Apa itu?… Katakan.”
“Sepertinya mereka sudah menyadari keberadaan kalian, dan kebanyakan dari mereka itu adalah makhluk yang haus akan darah…” ucap Fedi.
“Kalau itu aku sudah tau… Maka dari itu aku sudah memasang lima lapis penghalang di hutan ini… Mereka tidak bisa memasukinya kecuali ada orang yang merusak penghalang yang kubuat. Namun, itu mustahil karena inti penghalang itu ada di dalam sini jadi mereka tidak bisa menghancurkannya,” ucap Kyle bangkit dari duduknya.
“Kau mau ke mana?”
“Aku ingin kembali ke dalam tendaku… Aku mau tidur…” ucap Kyle berjalan ke arah tendanya.
“Kau ini… Kau seperti anak gadis yang harus tidur cepat,” ucap Fedi yang mengikuti Kyle.
“Diamlah… Kerjakan tugasmu. Jika terjadi sesuatu, bangunkan aku,” ucap Kyle memasuki tendanya lalu menarik resleting tenda hingga tenda tertutup.
“Bagaimana aku membangunkanmu kalau kau menutup tendamu,” ucap Fedi.
“Dasar bodoh…. kau ini hantu bodoh” ucap Kyle dengan nada sedikit tinggi.
***
Penulis : Muh. irwan ali
Nama pena : Tinta merah
Asal sekolah : SMAs Has katoi
Kelas : XI
Kec. katoi
Kab. kolaka utara
