Oleh: Sinar

Pagi itu sangat cerah, mentari pagi muncul memancarkan sinarnya. Sama denganku, hari ini adalah hari ulang tahun orang yang sangat aku kagumi bahkan kucintai. Semua sudah aku persiapkan termasuk kue ultah serta kadonya.

Aku masuk ke kelas dengan hati gembira dan bibir tersenyum-senyum sendiri. Kakiku melangkah tepat di depan pintu masuk kelas dan disambut ceria oleh sahabat-sahabatku, Syarif dan Renata.
Yups! hampir lupa, aku Sherly kepanjangan dari Sherlyna Rantika Putri. Cewek manis berkumis tipis yang kini sedang dilanda asmara.

“Ciee yang senyum-senyum sendiri, kenapa? Sakit?” ucap Renata sambil menekan tangannya ke jidatku.
“Apaan sih Ren, emang aku gila” ucapku (sambil memanyungkan bibir).
“Ya mungkin, ya gak Rif?” ucap Renata melirik Syarif.
“Betul, kenapa kamu Sher?” ucap Syarif.
“Hari ini tuh hari spesial banget. Aku mau bikin suprise buat Si kodok,” ucapku panjang lebar sambil bayangin apa yang akan terjadi nantinya.
Si kodok? Ya, Si kodok adalah cowok yang aku kagumi selama ini. Aku julukin Si kodok karena dia super duper takut sama kodok, namanya Tara.

Bel waktu istirahat pun tiba. Siswa siswi berbondong-bondong ingin memanjakan lidah dan juga perutnya yang dari tadi demo minta makan.
“Hy guys, doain aku ya. Semoga rencana ini sukses, berjalan mulus, semulus jalan tol, aamiin,” ucapku.
“Oke, tuh ada Tara kebetulan banget deketin, gih”, ucap Syarif.
“Sukses ya say,” ucap mereka berdua serentak serta kepala dimiringkan ala-ala Rita Sugiarto penyanyi dangdut.

Aku berjalan dengan pedenya sampai gak lihat ada batu di depanku. Untungnya gak jatuh, kalau jatuh malu dong sama pangeran cecakku.

Setelah melewati lorong-lorong kelas, aku melihat Tara lagi berduaan sama Lyla, cewek yang paling aku benci karena gayanya yang kecentilan, sok cantik, sombong, pokoknya aku ill feel banget deh sama dia. Tanpa sadar, kue dan kadonya jatuh ke lantai. Aku berlari secepat mungkin sambil menangis.

Aku melihat ekspresi Renata dan Syarif kebingungan dengan tingkahku yang awalnya ceria berubah drastis menjadi duka membara.
“Sherly, kamu kenapa?” ucap Renata sambil memelukku.
“Tara sama Lyla berduaan, mereka mesra banget”, ucapku terbata bata.
“Udahlah, cari yang lain, masih banyak kok,” ucap Syarif.

Sepulang Sekolah, kurebahkan tubuhku di kasur empuk milikku. Kutatap langit biru kamarku. Pikiran itu selalu terngiang-ngiang di memori otakku. Kubangkitkan tubuh ini menuju meja belajar.
Pena menari-nari amat lambat di atas kertas polos putih. Kutulis kata puitis yang berisi isi hatiku.

Kenangan.

Kuukir namamu dalam hatiku
Agar hati ini tak dalam kekosongan.
Meskipun kau telah menodai hati ini,
Akan kuhapus dengan sejuta air mata.

Aku bagaikan sebuah pohon yang telah di potong.di sakiti berkali-kali, tetapi masih bisa bangkit

(Visited 28 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *