Mama dengan Depresinya
“PERGI KAMU, PERGI! Jangan pernah datang di hadapan saya lagi,” kata perempuan setengah baya itu.
“MAMA!” teriak gadis itu menghalangi sang ibu yang akan memecahkan gelas di meja di hadapannya.
Raisa Putri Cantika atau sapaan akrabnya Ica, gadis malang yang tak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mama papanya berpisah saat dirinya masih berumur lima tahun. Di saat kedua orang tuanya berpisah, mamanya mengidap penyakit gangguan jiwa, sedangkan papanya sekarang sudah memiliki kehidupan baru.
“Pergi kamu! Kamu bukan keluarga saya. Kamu itu anak jahat. Pergi, jangan mendekat,” kata Mama berteriak.
“Ma, ini Ica, ini Ica anak Mama. Mama tenangin diri Mama dulu yah,” kata Ica mengusap usap punggung tangan sang Mama.
“Jangan sentuh saya,” bentaknya.
Ica sudah biasa dibentak oleh Mama. Bahkan, mendengar suara teriakan dan suara tangisan sudah menjadi bahan pendengaran Ica setiap harinya. Ica sangat tidak tega melihat Mama dalam kondisi seperti itu, tetapi dia juga tidak mau bila Mama dirawat di rumah sakit. Dia yakin dengan rawat jalan dan bantuan Bi Inem yang merawat, Mama bisa kembali seperti dua belas tahun yang lalu.
“Bi Inem,” panggil Ica kepada asisten rumah tangganya, sekaligus orang yang membesarkan Ica dan merawat Mama.
“Iya Non, ada apa?”
“Tolong bawa Mama istirahat ke kamar yah. Kalau masih ada gelas sisa air Mama, tolong bawa keluar yah. Kayaknya depresi Mama kumat,” jelas Ica menatap Mama dengan iba.
“Baik, Non,” jawab Bi Inem lalu langsung mendorong kursi roda Mama.
“Kapan sih Mama bisa sembuh? Ica pengen banget main bareng Mama lagi, cerita bareng Mama lagi,” kata Ica meratapi kepergian Mama.
Hal yang pertama Ica lihat saat memasuki kamar adalah foto keluarganya dua belas tahun yang lalu. Di foto itu Mama masih baik-baik saja dan Papa juga masih tersenyum. Namun, hal itu lewat, kan? Tidak mungkin terjadi lagi.
“Papa, apa kabar? Papa udah ga pernah nengokin Ica lagi yah. Apa karena Mama Ica penyakitan? Makanya Papa udah ga pernah nengokin Ica lagi?” Kata Ica mengusap figura itu.
Sudah cukup Ica menyimpan rasa rindunya ke Papa. Sekarang Ica sudah tidak mau lagi. Dirinya kecewa dengan Papa yang tidak pernah menengoknya.
Tringgg… Tiringggg…
Ica merogoh saku rok seragam sekolahnya saat handhpone berdering.
“Halo?” kata Ica memulai pembicaraan.
“Halo Ica, ini Diva. Nanti jadi kan ke Gramedia?”
“Jadi dong. Jam 4 tapi yah? Ga papa kan?”
“Aman lah. Ya udah, sampai jumpa nanti.”
Tut…
Ica merebahkan badannya. Andai bisa dirinya lenyap sekarang juga, dia sudah tidak kuat mendengar suara Mama yang kembali berteriak. Semesta tidak adil. Dia punya harta yang banyak, namun tidak dengan kasih sayang. Semesta tidak adil, dari kecil dia tidak merasakan bagaimana rasanya disayang oleh kedua orang tua.
Ica bangkit membuka layar laptop. Di sana ada banyak foto masa kecilnya bersama kedua orang tuanya. Sungguh, andai waktu bisa diputar, ingin rasanya dia kembali ke masa kecilnya. Dunia terlalu menyiksanya dengan kenyataan.
“Dulu gue ternyata sebahagia ini ya? Waktu kecil, gue selalu berpikir bahwa runtuhnya hubungan dalam rumah tangga itu mustahil. Ternyata pikiran gue itu nihil,” kata Ica mengusap layar.
“Non, non, non!” panggil Bi Inem dari luar.
“Iya Bi, kenapa? Masuk aja, ga dikunci kok,” kata Ica mengusap sudut matanya.
“Non, gawat! Nyonya lukain dirinya,” kata Bi Inem dengan ekspresi yang sangat susah diartikan.
“Astagfirullah, Mama!” kata Ica panik lalu berlari ke kamar Mama.
“Mama!” teriak Ica dan langsung saja memeluk tubuh lemah Mamanya.
“Mama kenapa lukain tangan Mama?” Tanya Ica panik. Tanpa sadar, air matanya ikut jatuh.
“Non, sebaiknya Nyonya dibawa ke rumah sakit. Takut luka di tangannya tambah parah,” saran Bi Inem.
“Eh iya, Bi. Kalau gitu minta tolong teleponin Raka yah?” kata Ica lalu membersihkan darah Mama yang berhamburan.
Raka adalah salah satu teman Ica dari kecil. Hari-harinya selalu ditemani Raka. Namun, saat mereka duduk di bangku SMA, hubungan persahabatannya dan Raka merenggang ketika Raka sudah memiliki hubungan spesial dengan teman kelas Ica.
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Raka sudah berada di depan pintu kamar Mama. Jujur saja, kondisi Ica sangat sangat tidak baik, tidak tau mau meminta pertolongan pada siapa lagi. Hanya Raka yang mungkin bisa membantunya.
“Ica?” panggil Raka.
Ica menyadari kedatangan Raka dia menoleh ke arah pintu.
“Raka, please banget tolong anterin Mama ke rumah sakit yah. Dokternya Mama lagi di Singapura,” jelas Ica memohon kepada Raka.
“Ayo!” jawab Raka sambil mendekat ke arah Mama yang sudah tidak berdaya lagi.
“Bentar yah, gue ambil kunci mobil dulu,” kata Ica lalu berlalu.
Di rumah sakit, Ica benar-benar sangat takut. Saking takutnya, dia tidak bosan bolak-balik dari depan pintu ke tempat ruang tunggu.
“Ca, Tante Cantika ga papa kok,” kata Raka pada Ica.
“Gak ada orang yang baik-baik aja udah lukain dirinya, Ka…”kata Ica.
“Semuanya akan baik baik aja kok, Ca…” Raka kembali meyakinkan Ica.
“Apa lo jamin?” kata Ica menoleh cepat.
“Keluarga pasien?”
“Saya anaknya, Dok!”
“Bisa ke ruangan saya sebentar?”
“Baik, Dok.”
Kemudian, Ica mengikuti langkah jenjang dokter itu.
Sepergian Ica, Raka tidak tahu dirinya harus melakukan apa. Langkah kakimembawa dirinya ke dalam ruangan tempat mamanya Ica dirawat.
Selang infus terpasang manis di punggung tangannya. Tubuh kurus kerempengnya terbaring lemah di brankar. Kelopak mata yang hitam menandakan bahwa Mama sangat jarang merasakan nikmatnya tidur.
“Assalamualaikum, Tante…” Raka berbisik di samping telinga Mama.
“Raka datang menjenguk Tante. Udah setahun lebih yah Raka nggak nengokin Tante. Raka minta maaf banget. Tetapi Raka bersyukur karena hari ini bisa ketemu lagi sama Tante. Jaga diri baik-baik. Tante itu kuat dan Tante pasti bisa sembuh,” kata Raka lalu membalikkan badannya.
Di saat Raka ingin memutar kenop pintu, justru pintunya sudah terbuka duluan. Hal yang pertama Raka lihat adalah wajah kacau Ica.
“Ica, gimana?” tanya Raka.
“Keadaan Mama semakin memburuk,” lirih Ica.
“Ca, lo harus kuat. Tante Cantika ga bakalan kuat tanpa lo,” kata Raka menepuk pundak Ica.
“Gue selalu kuat, Ka. Dua belas tahun gue selalu dengar Mama teriak-teriak. Setiap teriakan Mama selalu menyakitkan, seolah-olah semua penghuni rumah adalah Papa,” kata Ica menunduk.
“Gue paham keadaan lo sekarang. Dan lo harus bisa bangkit. Bangkit Ca, ada gue di sini,” kata Raka memberi semangat.
“Tanpa lo suruh, gue juga bakalan bangkit, Ka. satu-satunya tujuan hidup gue adalah Mama.”
“Masuk temuin Tante Cantika gue tunggu diluar,” kata Raka melanjutkan langkahnya.
Lima belas menit berada di dalam ruang Mama, akhirnya Ica memutuskan untuk keluar dan menemui Raka yang berada di kursi tunggu.
“Eh, udah ketemunya?” kata Raka saat menyadari kedatangan Ica.
“Udah, kok. Lo belum balik?”
“Jalan ke taman kota, yuk?”
Bukannya menjawab, Raka malah mengajaknya. Raka tahu sahabatnya ini butuh refreshing. Keadaan dan pikirannya sekarang tidak sejalan. Raka tahu pasti sahabatnya ini butuh sandaran. Sudah satu tahun lebih dirinya menghilang, tidak menemani hari-hari kusam Ica.
“Ga usah, Ka. Lo pasti capek habis latihan futsal, kan?”
“Udah ga usah nolak, Ca.” Raka langsung menarik tangan Ica.
“Eh tapi, Ka… Nanti Fani marah,” kata Ica menahan tangan Raka. Dia mengingat saat Fani marah ketika melihat Raka pulang bersama Ica. Meskipun Fani tahu bahwa Ica itu teman kecil Raka, dia tetap saja marah.
“Fani tuh cuman pacar gue. Dia ga berhak larang larang gue. Ga usah dipikirin!” Kata-kata Raka membuyarkan lamunan Ica.
Senja sore di taman kota menyaksikan senyuman indah menghiasi wajah gadis malang itu. Alun-alun kota menjadi saksi bisu betapa bahagianya gadis malang itu.
Bisa saja hari ini semesta membuatnya bahagia. Namun, tidak ada yang menjamin bagaimana dengan harihari ke depannya.
Terkadang, serangkai kata yang kita ucapkan, semesta bisa membenarkannya. Namun, terkadang juga beribu-ribu kata yang kita rangkai, tak ada yang sesuai dengan ekspektasi.
“Makasih yah udah mau gue repotin seharian ini. Gue mau masuk dulu, kasian Bi Inem dari siang jagain Mama,” kata Ica pamit pada Raka saat mereka sudah berada di lobi rumah sakit.
“Siap. Salam sama Tante Cantika yah? cepat sembuh,” kata Raka yang diangguki oleh Ica.
Ica membuka pintu ruang inap Mama. Ica melihat Mama yang merintihkan air matanya.
“Assalamu’alaikum, Mama.”
“Keluar! Kamu bukan suami saya lagi,” teriak Mama.
“Mama, ini Ica…” kata Ica mendekat.
“Keluar kamu. Saya bilang keluar!”
Ica semakin mendekat, mendekap tubuh Mama yang begitu kurus. Sejak sakit, Mama sangat susah makan. Semakin meningkat kondisi stres Mama, semakin kurus juga tubuh Mama.
“Mama, ini Ica. Ini Ica anak Mama,” kata memeluk Mama.
Apa pun yang Ica katakan, Mama tidak akan menjawabnya dengan benar. Bahkan, Ica seperti berbicara pada sendiri. Perkataan Ica memang kadang dijawab. Namun, jawaban yang diberikan bukan jawaban untuk Ica, melainkan jawaban untuk Papa. Setiap orang yang mendekati Mama, dianggapnya Papa.
“Permisi,” kata perawat membawa nampan. Bisa dipastikan itu makanan Mama.
“Anaknya ibu Cantika?”
“Iya, Sus, kok tau?”
“Saya sering lihat di ruang Dokter Karin.”
“Dokter Karin kapan balik, Sus?”
“Sekitar tiga hari lagi mungkin udah balik.”
Pagi ini, Ica kembali bersekolah setelah meliburkan dirinya selama tiga hari. Tiga hari ke belakang, dia menemani Mama di rumah sakit. Sebenarnya, hari ini dia masih malas untuk bersekolah. Tetapi, karena Bi Inem tidak habis-habisnya mengoceh, jadilah dia menurut.
“Selamat pagi, Ica!”
“Pagi juga, Dev.”
“Kemana aja, kok baru datang sih?”
“Mama masuk rumah sakit.”
“Hah, kok bisa?”
“Depresi Mama kumat lagi. Kemarin sampai mecahin guci terus ngegores ke tangannya.”
“Aduh Ca, yang sabar yah. Gue selalu ada kok. Kalau ada apa-apa, call gue aja, oke?”
Bangkitlah, banyak orang-orang yang selalu menyematimu. Jangan menyerah hanya karena satu kegagalan. Jadikan kegagalan itu sebagai bentuk motivasi untuk maju dan membuktikan bahwa aku bisa berdiri tanpa bantuan orang lain, pikir Ica.
“Siap lah Div,” kata Ica mengacungkan dua jempolnya. Mereka berdua memasuki kelas secara beriringan.
Ica sengaja memilih duduk di bangku belakang. Dia tidak suka menjadi pandangan pertama saat orang-orang memasuki kelasnya.
“Ica!”
“Kenapa, Fani?”
“Mama kamu masuk rumah sakit yah?”
“Iya Mama masuk rumah sakit. Eh, gue minta maaf yah kalau gue lancang minta bantuan Raka buat anterin Mama. Kemarin gue benar-benar ga tau lagi mau minta pertolongan ke mana.”
“Ga papa kok. Raka juga udah izin. Cepat sembuh yah buat Mamanya.”
“Kenapa Ca?” tanya Diva kepo.
“Nanyain kabar Mama.”
“Tumben amat, kadang juga judes amat.”
“Tau lah. Ayo belajar.”
Suasana kelas menjadi hening. Hanya ada suara guru yang menjelaskan materi pelajaran. Mulailah belajar, untuk menuju kesuksesan. Tanpa belajar, sukses tidak akan berjalan dengan mulus.
“Shutt! Tugas woi,” kata Diva berteriak dengan suara yang sangat pelan.
“Tugas apaan?”
“Sejarah, cepatan!”
“Diva, Raisa! Sedang apa kalian?”
“Mampus! Kena marah Bu Gendut nih gue,” batin Diva sambil menepuk jidatnya.
“Keluar sekarang juga!”
“Lah, emangsaya ngelakuin apa, Bu?” kata Ica bertanya. Pasalnya, dia hanya menoleh dan berbicara beberapa kata doang. Itu juga tidak mengundang kegaduhan.
“Masih nanya kamu? Apa kamu tidak sadar tadi kamu ngobrol sama Diva!”
“Apa ibu tau apa yang saya bicarakan dengan Diva?”
“Ngegibah, kan?”
“Sayangnya tebakan ibu sangat salah. Diva minta tugas saya Bu. Masa iya saya diamkan.”
“Diva, keluar sekarang juga!”
“Kalau Diva keluar, saya juga akan keluar!”
“Klarissa!”
“Cukup diam dan ajarkan yang terbaik untuk teman-teman saya,”pesan Ica sebelum melangkah keluar pintu.
Sungguh pagi ini mood-nya sangat hancur. Tetapi, dia berusaha untuk tetap kuat, seolah-olah dirinya sedang baik-baik saja.
“Oi, Ca! Kok lo keluar juga sih? Kan yang salah gue?”
“Kalau lo salah gue, juga harus salah. Kalau loh dikeluarin, gue juga harus keluar.”
“Tapi ka…”
“Ica!” Pembicara Diva terpotong kala seseorang memanggil sahabatnya.
“Apa?” kata Ica berbalik ke arah sumber suara itu.
“Gue boleh ngomong?”
“Ngomong ajah.”
“Ikut gue sekarang,” katanya langsung menarik tangan Ica.
Sekarang Ica berada di taman sekolah bersama Raka. Ya, orang yang memanggil Ica tadi adalah Raka.
“Tadi Fani ngomong apa sama lo?”
“Ngomong apaan? Ga ada kok.”
“Ca, jangan bohong!”
“Gue serius, Ka.”
“Bahas gue kan, pasti?”
“Ngaco lo, dia cuman mastiin kalau Mama benar-benar sakit.”
“Kalau Fani ngomong yang macam-macam, bilang ke gue yah?”
“Iya iya…”
“Ya udah, gue mau ke kelas dulu.”
“Ke kelas mah ke kelas aja, ga usah pamit kali. Kayak gue emaknya ajah,” cibir Ica.
“Ica!” sebelumnya Ica akan berbalik, suara itu menahannya.
Plak!
Tidak ada kata satu pun. Hanya ada satu tamparan keras yang mendarat lembut di wajah Ica.
“Berani banget yah lo ketemu sama Raka di taman sekolah! Apa lo lupa kalau gue udah bilang jauhin Raka?” kata Fani menggebu-gebu.
“Gue ga dekatin Raka. Tadi Raka yang ajak gue ngomong,” kata Ica memegang pipi bekas tamparannya.
“Omong kosong loh! Ingat yah gadis malang, jangan pernah deketin Raka lagi!” kata Fani lalu pergi. Sebelumnya, dia sempat mendorong tubuh Ica.
“Ngeri juga tuh pacarnya Raka. Dikira gue apaan sampai ditampar kayak gini,” kata Ica geleng-geleng lalu pergi.
Sepulang sekolah, Ica tidak langsung ke rumah. Dia mampir ke rumah sakit tempat Mama.
“Assalamu’alaikum, Mama,” salam Ica saat masuk ke dalam ruangan Mama.
“Mama, apa kabar? Cepat sembuh yah?” Ica berbicara kepada Mama yang sedang tidur.
“Maafin Ica. Tadi Ica ga ikut satu pelajaran. Gurunya keluarin Diva. Jadi, Ica juga ikut keluar. Soalnya Diva kan teman Ica.”
Ica bercerita kepada Mama. Tidak ada jawaban, hanya ada dengkuran halus dari Mama.
“Mama, cepat sembuh yah? “
“KELUAR KAMU!”
Ica kaget dengan Mama yang berteriak tiba-tiba.
“Ma, ini Ica, Ma…”
“Keluar kamu! Jangan pernah dekati saya lagi! Kamu bukan suami saya lagi!”
Sudah belasan tahun Ica mendengar kata-kata itu. Ica semakin yakin bahwa Papa sangat menyakiti Mama.
“Ma, ini Ica, Ma…”
“Inem, keluarkan dia. Dia bukan suami saya lagi. Keluar kamu, keluar!”
Sebegitu sakitkah luka Mama sampai Ica saja dilihat sebagai Papa.
“Permisi, Adek bisa keluar sebentar? Biar kita tangani Ibu Cantika dulu,” kata Suster dan diangguki oleh Ica.
Ica menyandarkan dirinya pada dinding rumah sakit. Dia tidak tahu sampai kapan dirinya akan bertahan. Tetapi, dia ingin dirinya bertahan sampai Mama bisa menyebutnya “Ica Anak Mama”. Kata-kata yang belasan tahun Ica tunggu keluar dari bibir Mama.
“Gimana Tante Cantika?” suara itu membuat Ica mengingat kejadian tadi siang.
“Mama di tangani dokter. Untuk sementara waktu Mama ga bisa diganggu, biar depresinya ga kumat lagi,” jelas Ica tanpa menoleh.
Cukup lama diam sampai akhirnya Ica memutuskan dirinya untuk bangkit dari duduknya itu.
“Lo mau kemana?” kata Raka menahan tangan Ica.
Perlahan Ica melepaskan genggaman tangan itu.
“Mau balik ke rumah,” kata Ica melanjutkan langkahnya.
“Gue anter.”
“Ga usah, Ka. Gue udah pesen Grab,” kata Ica menolak dengan halus. Dia tidak ingin Fani kembali salah paham kepada mereka yang berujung pada pertengkaran antara Raka dan Fani.
“Kan bisa di-cancel, Ca?”
“Kasian abang Grab-nya kalau gue batalin,” kata Ica lalu benar-benar berlalu dari hadapan Raka.
“Kenapa Ica kayak ngehindarin gue gitu?” kata Raka menatap punggung tegap Ica yang hampir ditenggelamkan oleh jarak.
Ica terus berjalan di sekitaran rumah sakit. Dia ingin menikmati keindahan taman rumah sakit sebelum kembali ke rumah. Ica terus mengitari taman rumah sakit hingga matanya menangkap sosok anak kecil yang sepertinya sedang mencari sesuatu.
“Halo Adek, lagi cari apa?” kata Ica menyamakan tingginya dengan anak laki-laki tersebut.
“Aku lagi cari mainan aku. Kakak liat, ga?” katanya.
“Emang mainan Adek apa? Mobil-mobilan?”
“Bukan, Kak. Mainan aku itu pesawat terbang warna putih. Kakak liat ga?”
“Em… Kakak ga liat. Tapi, ayo Kakak bantu cari.”
“Boleh, kak. Ayo!”
Akhirnya, Ica dan anak kecil itu kembali berjalan mengitari taman untuk mencari mainannya. Ica sangat suka dengan anak kecil. Dia ingin sekali mempunyai seorang adik. Namun, apalah daya,dipanggil anak saja Mama tidak bisa, apalagi punya adik.
Tetapi, Ica selalu berpikir bahwa anak-anak yang di bawah umur Ica itu adalah adik Ica juga. Itulah salah satu alasan kenapa Ica sangat lemah lembut pada adik kelasnya. Prinsip Ica, “Kamu baik saya lebih baik. Kamu jahat saya hanya lihat kejahatan kamu. Sesungguhnya ada Allah yang alan membalas semuanya.”
“Warnanya putih ya?”
“Iya, Kak. Putih ada gambar…”
“Ical!”
Suara itu? Suara itu seperti sangat familiar bagi Ica. Suara yang sangat-sangat dirindukannya. Suara yang meninggalkan bekas luka bagi Ica.
Ica membalikkan badannya ke arah suara tersebut. Sosok itu sosok yang rindukan oleh Ica. Ke mana saja dirimu sejak dua belas tahun belakangan ini? Kau tidak pernah menampakkan dirimu.
“Papa!” girang anak laki-laki itu kepada bapak-bapak yang memanggilnya tadi.
“loh, Ical ngapain di sini? Dari tadi Papa cariin Ical loh,” katanya pada anak laki laki yang ditemani Ica.
“Mainan Ical hilang. Terus Ical cari dan dibantuin sama kakak ini,” kata anak itu menunjuk Ica.
“kakaknya mana?”
“Kakak cantik ini.”
“Kamu?”
“Papa?”
“Loh, Ical ngapain di sini?” kata perempuan yang tiba-tiba muncul dan Ica yakin kalau perempuan itu adalah Ibu dari anak yang bernama Ical.
“Ical, Mama, ayo pulang. Papa ada meeting dadakan.”
“Kakak cantik, Ical balik yah?”
Meski sudah diseret oleh sang ayah, anak kecil itu tetap masih menyempatkan diri pamit pada Ica.
Ica mengangukkan kepalanya dan melambaikan tangannya pada anak kecil itu.
Ica tidak buta dan penglihatan Ica juga masih normal. Ica yakin kalau orang tadi itu adalah Papa. Apa jangan-jangan anak laki-laki itu adalah anak Papa? Berarti anak itu adik Ica juga? Jika iya, maka Ica ingin bertemu lagi.
~Semesta selalu mengajarimu untuk menggapai apa yang kamu inginkan. Maka, kejarlah sampai perjuanganmu membuahkan hasil.~
