Seorang anak gadis duduk termenung sendiri di tangga rumahnya seperti menunggu seseorang. Sesekali ia membuang pandangannya jauh menembus batas cakrawala. Di kanvas langit biru di atas sana, ia melukis wajah seseorang yang sangat dirindukannya.
Butiran-butiran kristal bening tanpa terasa jatuh satu per satu membentuk anak sungai di pipinya. Semakin lama makin deras mengalir menelusuri urat nadinya hingga tenggelam di muara rindunya.
Betapa rindunya kepada sosok malaikat tak bersayap yang dia panggil mama masih tersimpan rapi dalam memori. Gadis kecil itu kehilangan dunianya tatkala harus melihat jasad ibunya terbaring lemah kaku tak berdaya.
Anak bungsu dari empat bersaudara, dari kecil ia tak pernah pisah lama dengan ibunya. Namun, ketika ia duduk di bangku kelas IX SMP seminggu sebelum ujian, ibunya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Dunianya seakan hancur, hanya keluarga yang dapat menguatkannya. Tak ada satu pun teman yang bisa dikatakan sahabat yang ada di saat-saat terpuruknya.
Ia berusaha bangkit ketika melihat ayahnya yang juga mulai sakit-sakitan. Yah, dia masih memiliki seorang ayah yang harus ia banggakan. Dia juga gadis yang mempunyai begitu banyak mimpi. Walau terkadang diejek oleh teman-temannya, ia tetap berusaha membuktikannya.
Terkadang ia bersedih ketika melihat teman-temannya masih memiliki kedua orang tua yang sehat. Saat teman-temannya menceritakan tentang ibu mereka, ia hanya diam dan menyembunyikan kesedihannya. Ia juga tak kuasa menahan air matanya jika teringat masa-masa bahagia bersama ibunya.
Gadis kecil yang kini beranjak remaja itu adalah aku. Betapa aku selalu memupuk rindu untuk ibu. Kuingin ibu ada disaat aku sukses nanti, namun tuhan berkata lain. Ibu pergi disaat aku belum siap untuk kehilangan. Jika ibu pergi ke suatu tempat pasti ibu akan kembali, tetapi ibu pergi menghadap ke Sang Pencipta dan tak akan pernah kembali lagi. Ibu aku rindu belaianmu, kasih sayangmu, nasehatmu.
Pesan untuk teman-teman, jangan sesekali membantah perintah orang tua dan manfaatkanlah waktu untuk membahagiakan ayah bunda. Lukislah selalu senyum di wajah ibu dengan prestasi yang membanggakan mereka.
Nama : Ulva Mega Puspita
Kelas : XII
Asal Sekolah : SMAs Haji Agus Salim Katoi
Kabupaten : Kolaka Utara
