Oleh : Nur Aqilah Salim

Namanya Jingga Nirmala, seorang tunanetra yang hidup sederhana berdua bersama sang ayah di satu rumah kayu yang mulai rapuh. Ibunya telah berpulang tepat di hari jadi Jingga yang ke-sepuluh, tujuh tahun yang lalu.

Jingga mengenyam pendidikan di sekolah tempat anak berkebutuhan khusus hingga suatu hari ia mendapat tawaran bea siswa dari salah satu sekolah negeri paling ternama, berkat nilainya yang jauh di atas rata-rata, tentu diterimanya dengan senang hati karena itu adalah cita-citanya dari lama.

Hari ini, hari pertama Jingga menjadi siswi di SMA Negeri. Setelah menghadap ke ruang guru, Jingga diarahkan oleh Bu Tinna selaku wali kelas menuju ke ruang kelasnya. Baru juga di depan ruangan sudah terdengar kerusuhan para pelajar yang sedang bermain lempar-lemparan kertas di dalam kelas.

Suasana berubah senyap ketika Bu Tinna dan Jingga memasuki ruang kelas, semua siswa terdiam menatap gadis tunanetra yang digandeng oleh Bu Tinna. Ya, tanpa Jingga tahu, saat itu seluruh pasang mata sedang tertuju padanya.

Bu Tinna mulai memperkenalkan Jingga, ditutup kalimat “semoga Jingga betah ya disini”. Kemudian, Jingga pun berjalan ke bangku kosong pada baris kedua paling kanan. Semua siswa masih terdiam sembari berpikir, “bagaimana bisa seorang anak tunanetra berada di sini? bagaimana caranya beradaptasi nanti?.”

Bel berbunyi, tanda tiba jam istirahat. Para murid berhamburan keluar kelas untuk menenangkan pikiran mereka yang lelah mencerna pelajaran. Namun, sepertinya penderitaan Jingga bermula di sini.

“Woi anak baru, ngapaiin bawa-bawa tongkat?” tanya salah seorang siswi dengan nada menghina. Mendengar pertanyaan tersebut membuat Jingga beranjak dari bangku untuk keluar dari ruang itu tanpa membawa tongkatnya tapi sang kaki malah menabrak meja, menjadikannya terjatuh di ubin yang dingin.

“Gak bisa ngeliat apa, meja segede itu kok ditabrak” ledek siswa lainnya. Terus terdengar hinaan yang diikuti gelak tawa, perlahan menggerus hati Jingga. Namun, tiba-tiba “hey bisa diem gak? Inget tuh kata pepatah, mulutmu harimaumu. Tongkat itu menuntun dia berjalan dalam gelap, dan kalau kalian gak bisa jadi penerang seenggaknya jangan menambah suram hari-harinya”.

Di tengah ledekan yang bersahut-sahutan, terdengar suara seorang siswi yang angkat bicara membela Jingga. Namanya Cahaya, perempuan menawan keturunan keluarga berkecukupan. Punya kehidupan yang serba ada nyatanya bukan tolak ukur kebahagiaan. Cahaya kadang mengeluh kesepian karena orang tuanya mencari nafkah di luar negeri.

Kaya raya dan punya hati seputih melati walau tinggal sendiri. Ia adalah murid paling disegani, jadi mendengar penuturannya membuat semua termenung, yah masih dengan wajah yang seolah tak bersalah. Memang benar, sekolah yang berkelas tidak menjamin etika semua siswanya juga berkualitas.

Di sisi lain Jingga belum juga bangkit dari lantai tempat ia terjatuh tadi. Cahaya segera menghampiri gadis malang tersebut seraya mengulurkan tangan, membantu Jingga berdiri diikuti perkenalan diri, lalu menuntun Jingga pergi ke luar kelas.

Sejak saat itu Cahaya dan Jingga menjadi teman baik, sangat baik. Semakin hari mereka semakin dekat, semakin dekat dan semakin melekat, seakan tak terpisahkan. Di mana ada Jingga di situ ada Cahaya, begitu pun sebaliknya.

Setiap hari mereka lalui bersama, baik di sekolah maupun di luar sekolah, bahkan Cahaya selalu menemani Jingga menghafal setiap ingin ujian lisan di saat siswa lain ujian tulisan. Jingga juga mengajarkan Cahaya banyak hal mulai dari abjad Braille hingga algoritme kehidupan. Bicara tentang huruf Braille, itu adalah sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh para tunanetra.

Tidak terasa satu tahun berlalu, sudah 12 bulan sejak hari pertama Jingga pindah sekolah, berarti telah ada kurang lebih 365 hari Jingga bersahabat dengan Cahaya. Tentunya mereka sudah layaknya saudara.

Pada suatu hari libur di bulan Desember, Jingga dan Cahaya menghabiskan waktu bersama seharian penuh. Mulai dari olahraga pagi hingga berdiskusi sembari menyeruput kopi di kala senja menanti.

“Jingga, arti nama kamu tuh apa sih?” tanya Cahaya membuka obrolan. “Kata ayah, Jingga itu warna kesukaan mendiang ibu, sementara Nirmala artinya bersih, suci, tanpa cela” jawab Jingga dengan senyum tipis. “Keren, ternyata benar di setiap nama ada terselip doa orang tua. By the way, bentar lagi kan kita lulus SMA, kamu rencana mau jadi apa nantinya?” tanya Cahaya sekali lagi.

“Dari dulu pengen banget jadi dokter tapi sadar sama kondisi yang kayak gini,” Jingga kembali menjawab tetapi kali ini dengan raut wajah yang sedikit sedih. “Optimis dong, kita kan gak tau ke depannya bakalan gimana”, Cahaya mencoba menyemangati dan merangkul tubuh Jingga.

“Oh iyya, sekarang gantian, aku yg nanya. Kenapa kamu mau temenan sama orang kayak aku?” kali ini Jingga yang balik bertanya. “Pertama, aku sadar kalau setiap manusia gak ada yang lahir sempurna, semua pasti ada kurangnya dan semua pasti pernah salah. Itulah gunanya kita hidup berdampingan, buat saling melengkapi bukan malah mencaci maki apalagi menjauhi. Kedua, karena bergaul sama kamu bawa banyak pengaruh positif, buat aku jadi lebih mensyukuri hidup, lebih menghargai waktu, lebih rajin, disiplin, dan masih banyak lagi”.

Jingga hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Cahaya barusan. Tidak ada yang dapat ia ungkapkan namun di lubuk hati yang terdalam, Jingga sangat bersyukur dipertemukan dengan teman sebaik Cahaya.

Senja segera berlalu, kedua gadis 18 tahun tersebut beranjak dari tempat duduk dengan niat kembali ke rumah mereka masing-masing. Malamnya ketika jam menunjukkan pukul 20.30 WIB, Cahaya berkendara sendirian untuk membeli beberapa kelengkapan sekolah, seperti biasa ia mengendarai mobil Alphard miliknya. Tak terduga, sebuah kejadian tragis terjadi.

Breaking news di televisi paginya
“Semalam sebuah mobil mewah kehilangan keseimbangan saat berpapasan dengan truk yang oleng di belokan tajam, alhasil mobil silver dengan plat nomor DD123CY tersebut menabrak sebuah pohon beringin dengan begitu dahsyat, sedangkan truk masuk ke jurang, diduga sopirnya habis mengonsumsi minuman keras” ujar seorang pembawa acara berita pagi itu.

Jingga mendengar plat nomor yang dibacakan persis dengan plat nomor yang pernah diberi tahukan oleh Cahaya, seketika Jingga berkeringat dingin dan sangat panik. Ia bergegas ke rumah Cahaya. Sesampainya di sana, air matanya tak terbendung mengetahui sang kawan terbaik telah pergi dan tidak akan bisa kembali lagi untuk selamanya. Maut menjadi satu-satunya yang berhasil memisahkan mereka.

Setelah pemakaman Cahaya, Jingga menerima kabar donor mata dari salah satu rumah sakit. Ternyata sebelum menghembuskan nafas terakhir, Cahaya sempat menitip pesan ingin mendonorkan kornea matanya untuk Jingga. Perasaan Jingga campur aduk, sedih, senang, terharu, dan kehilangan semuanya jadi satu.

Sehari sesudah operasi donor mata, ibu Cahaya menghampiri Jingga, beliau membawakan sebuah flashdisk berisi rekaman suara Cahaya sebelum dinyatakan tewas. Saat keadaan mulai membaik, Jingga memberanikan diri mendengar rekaman tersebut di tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Dengan suara terbata-bata, Cahaya berkata:

“Terima kasih Jingga, makasih udah bawa aku jadi orang yang lebih baik, makasih buat semua cerita kita selama ini, bersyukur banget rasanya bisa kenal dan akrab sama kamu walaupun dalam kurun waktu yang sangat singkat. Mungkin kalau kamu denger rekaman ini, aku udah gak lagi memijak bumi, tapi mungkin juga harimu udah jauh lebih baik dari sebelumnya.”

Ternyata Cahaya sudah lama memiliki niat baik untuk mendonorkan kornea matanya kepada Jingga karena penyakit leukimia yang telah lama menggerogoti raganya membuat Cahaya berpikir umurnya mungkin tidak lama lagi. Meskipun akhirnya bukan penyakit itu yang merenggut nyawanya.

Kini Jingga tak lagi berjalan dalam kegelapan meskipun tanpa Cahaya disisinya. Kini ia dapat menyaksikan birunya langit dan hijaunya dedaunan, namun sangat disayangkan Jingga belum sempat menyaksikan langsung wajah indah sahabatnya, Cahaya. Tapi Jingga berjanji kepada dirinya sendiri, akan menjaga dengan baik penglihatan yang dititipkan kepadanya. Jingga juga janji akan optimis memperjuangkan mimpinya seperti kata Cahaya.

Cahaya tidak redup, ia akan tetap hidup di dalam hati orang-orang yang disayanginya. Cahaya orang baik. Selamat beristirahat dengan tenang dalam keabadian. Selamat kembali ke pangkuan semesta menghadap yang Maha Kuasa. Semoga engkau bahagia di sana dan semoga segala kebaikanmu diterima. Doa Jingga menyertaimu selamanya.

Watansoppeng, 22 Oktober 2021

(Visited 35 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *