Oleh: Rere Theresia Besan Deona*
Aku sekolah di SDN 246 Tabarano, dan aku sangat senang sekolah di sana karena aku punya banyak teman. Kami gembira bermain bersama. Aku juga tinggal di Kabupaten Luwu Timur, tepatnya di Wasuponda. Aku dan keluargaku senang tinggal di sini karena banyak orang yang bisa kami temani. Kami juga senang bermain bersama di sini.
Aku bernama Rere Theresia Besan Deona. Aku selalu dipanggil Geo karena nama panggilanku ini berasal dari mama dan almarhum tanteku yang bernama Esi. Aku juga mempunyai banyak sepupu, terutama dari keluarga bapakku. Selain itu, aku mempunyai adik yang bernama Alenka Lorenza Deona.
Di sinilah kisah sekolahku dimulai. Pada suatu pagi, aku ingin pergi ke sekolah. Sekolahku lumayan dekat dari rumah, tetapi aku hampir terlambat. Saat ingin berangkat, aku panik dan berlari. Ketika sampai di sekolah, aku merasa lega karena teman-temanku belum masuk.
Aku pun masuk ke kelasku. Saat ingin masuk, aku melihat halaman sekolah sangat kotor dan di dalam kelas banyak sampah yang berserakan. Aku sedikit iri terhadap kelas lain karena kelas mereka sangat bersih dan halaman mereka sangat indah dipandang.
Aku pun berinisiatif mengajak teman-temanku untuk membersihkan kelas. Aku memanggil mereka, “Hei, teman-teman, ayo kita membersihkan kelas supaya kelas kita bersih, nyaman untuk belajar, dan halaman kita indah dipandang.”
Sebagian temanku berkata, “Ayo, aku juga sudah tidak tahan melihat kelas dan halaman kita kotor.”
Namun, ada juga temanku yang berkata lain, “Aku tidak mau ikut. Biar saja kelas kita kotor.”
Aku pun menjawab, “Tetapi, kelas kita banyak sampah yang berserakan dan halaman kita sangat kotor. Apakah kamu tidak malu terhadap kelas dan halaman kita ini?”
Ia pun menjawab dengan nada tegas, “Kalau aku tidak mau, jangan dipaksa. Kalian saja yang membersihkan. Lagian, kita juga tidak disuruh. Untuk apa kita membersihkan kalau tidak disuruh?”
Akhirnya, aku menyerah atas kelakuannya. Aku pun membersihkan kelas bersama teman-teman yang mau ikut denganku. Tiba-tiba, guruku datang dan berkata, “Rajin sekali kalian, tetapi mana teman kalian yang lain?”
Temanku pun menjawab, “Mereka tidak mau ikut membersihkan bersama kami, Bu.”
Guruku pun menghampiri teman-teman yang tidak mau ikut membersihkan dan menegur mereka, “Hei, mengapa kalian tidak ikut membersihkan bersama teman-teman kalian yang lain?”
Mereka pun menjawab, “Kami tidak mau, Bu. Ibu guru juga tidak menyuruh kami. Buat apa kami membersihkan kalau tidak disuruh?”
Guruku pun berkata, “Kalian seharusnya mau membersihkan tanpa disuruh, sebab kalian harus mandiri atas apa yang kalian lakukan. Jika kalian rutin membersihkan, kita akan mendapatkan penghargaan.”
Mereka pun menjawab dengan ekspresi kaget, “Hah, dapat penghargaan? Penghargaan apa, Bu?”
Guru menjawab, “Bulan depan akan diadakan pemberian penghargaan Lencana Bintang Kebersihan untuk kelas yang paling bersih.”
Mereka pun menjawab dengan gembira, “Baik, Bu! Kami akan rutin membersihkan supaya kita mendapatkan penghargaan Lencana Bintang Kebersihan itu!”
Mereka pun keluar dari kelas dan ikut membersihkan bersama kami. Saat datang, mereka meminta maaf kepada kami.
“Maafkan kami ya, teman-teman, atas kelakuan kami kepada kalian.”
Kami pun memaafkan mereka.
“Iya, kami maafkan kalian, kok. Tetapi jangan diulangi lagi, ya.”
Mereka pun menjawab, “Iya.”
Akhirnya, kami membersihkan bersama-sama.
Setelah selesai membersihkan, kami pulang untuk beristirahat. Keesokan harinya, setelah matahari menampakkan diri, teman-temanku pun berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, kami kembali belajar.
Saat istirahat kedua, kami semua dikumpulkan di lapangan karena ada pengumuman dari guru.
“Anak-anak, selamat pagi. Ibu guru meminta kalian berkumpul di sini karena besok setiap siswa harus membawa satu tanaman. Kita akan melakukan reboisasi. Silakan kalian kembali ke kelas masing-masing. Sekian, terima kasih.”
Setelah itu, kami kembali ke kelas dan melanjutkan belajar hingga pulang.
Keesokan harinya, saat matahari muncul, teman-temanku pergi ke sekolah sambil membawa satu tanaman masing-masing. Mereka menyimpan tanaman itu dengan rapi, lalu kembali belajar.
Saat istirahat kedua, kami melihat kelas kami semakin indah, begitu pula kelas-kelas lain. Suasana sekolah menjadi hijau dan asri.
Bulan depan pun tiba. Kami sangat gembira karena hari itu akan ada pemberian Lencana Bintang Kebersihan. Kami berkumpul di lapangan, lalu Ibu Kepala Sekolah berkata,
“Selamat siang, anak-anak. Hari inilah yang kita tunggu-tunggu karena hari ini akan ada pemberian penghargaan Lencana Bintang Kebersihan. Tanpa basa-basi, saya akan langsung mengumumkan kelas yang akan mendapatkan penghargaan ini, yaitu… Kelas Lima! Selamat untuk Kelas Lima atas penghargaan Lencana Bintang Kebersihan.”
Ketua kelas kami pun maju untuk mewakili kami.
“Terima kasih atas penghargaan Lencana Bintang Kebersihan ini. Saya banyak berterima kasih, dan kami berjanji akan menjaga kelestarian lingkungan kami. Sekian, terima kasih.”
Ketua kelas kami pun turun dari panggung dengan gembira.
Pentingnya kita menjaga bumi, sebab menjaga bumi bukan hanya tentang menyelamatkan planet yang besar ini, tetapi tentang bagaimana kita menjaga lingkungan dan tanah yang sudah kita pijak.
*Penulis adalah Siswa 246 Tabarano
