Oleh : Mir Atul Inayah*

Tahun 2025 menjadi salah satu bab terpenting dalam hidupku. Tahun ini bukan hanya tentang pelajaran di kelas, tetapi tentang bagaimana aku belajar bangkit di tempat yang sama sekali baru sebagai seorang anak pindahan. Memulai dari awal bukanlah hal yang mudah. Aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, wajah-wajah yang belum akrab, guru-guru dengan cara mengajar yang berbeda, serta tuntutan akademik yang terasa lebih menantang.

Di balik sikap tenang yang kutunjukkan, tersimpan rasa takut yang sering hadir takut tidak diterima, takut dianggap biasa, dan takut tidak mampu membuktikan kemampuan diri. Namun aku sadar, jika aku menyerah pada ketakutan itu, maka aku akan kalah bahkan sebelum benar-benar berjuang.

Langkah awal perjalananku dimulai dengan mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di bidang dongeng. Ajang ini menjadi titik awal bagiku untuk membangun kembali kepercayaan diri, mengekspresikan kemampuan berbahasa, serta berani tampil di depan umum sebagai siswa baru.

Tantangan akademik terbesar pertamaku di sekolah baru hadir melalui Lomba Cerdas Cermat Museum tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Ajang ini mempertemukan perwakilan terbaik dari berbagai kabupaten dan kota. Dari Kabupaten Soppeng, hanya satu sekolah yang dipercaya menjadi wakil, dan sekolahku mendapat kehormatan tersebut. Materi lomba mencakup sejarah dan kebudayaan dalam cakupan yang sangat luas, tersusun dalam banyak bab, mulai dari peninggalan sejarah, tokoh-tokoh penting, hingga nilai-nilai budaya daerah dan nasional. Proses persiapan yang panjang dan melelahkan menuntut ketekunan, kedisiplinan, serta daya ingat yang kuat.

Setelah melalui pengalaman di tingkat provinsi, aku kembali dipercaya mengikuti Lomba Cerdas Cermat SE BOSOWASIE yang diikuti oleh perwakilan dari Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, dan Enrekang, serta diselenggarakan di Kabupaten Wajo. Lomba ini mencakup berbagai mata pelajaran dan pengetahuan umum, sehingga menuntut kemampuan berpikir luas, cepat, dan tepat.

Perjalananku berlanjut hingga ke tingkat nasional. Di tahun yang sama, aku berhasil meraih Juara 2 Olimpiade Bahasa Indonesia tingkat nasional. Prestasi ini terasa sangat istimewa karena diraih di tengah proses adaptasi sebagai anak pindahan di sekolah baru.

Selain mengikuti lomba di luar sekolah, aku juga aktif mengikuti Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di SMPN 1 Watansoppeng. Pada ajang ini, aku mengikuti Olimpiade IPS dan lomba Tadarus Al-Qur’an. Persiapan kulakukan secara mandiri melalui latihan rutin, membaca, dan mengatur waktu belajar sendiri. Dari kedua cabang lomba tersebut, aku berhasil meraih Juara 2.
Keikutsertaanku dalam Porseni sekolah bukan hanya tentang meraih juara, tetapi juga tentang melatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepercayaan diri sebagai siswa di lingkungan baru.

Di bidang akademik, kesungguhanku dalam belajar membuahkan hasil ketika aku berhasil meraih Peringkat 1 kelas.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa anak pindahan pun mampu beradaptasi, bangkit, dan berprestasi melalui usaha dan kerja kerasnya sendiri.
Tahun 2025 memang dipenuhi dengan posisi juara dua. Ada rasa lelah, kecewa, dan keraguan.

Namun, aku menyadari bahwa juara dua bukanlah kegagalan. Ia adalah tanda bahwa aku sedang berada sangat dekat dengan kemenangan dan sedang dipersiapkan untuk langkah yang lebih besar.

Sebagai anak pindahan, aku belajar bahwa tempat baru memang penuh tantangan, tetapi selalu menyediakan ruang bagi mereka yang berani bertahan dan berjuang.

Watansoppeng, 22 Desember 2025

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas VIII.4

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *