Oleh : Jusnia Paseba
“Woi Han loh mau kemana?” Teriak Radit yang melihat Farhan melangkah pergi.
“Han Woi!” Bahkan Vito dan yang lainnya juga ikut teriak. Namun semua teriakan mereka tak digubris oleh Farhan. Farhan hanya buru-buru mengeluarkan motornya lalu menancapkan gas meninggalkan basecamp.
Tersirat rasa khawatir dan ketakutan yang menghampiri ketua geng SASTRA, dan Vito dapat merasakan itu dari raut wajah Farhan yang sangat panik.
Jalanan ibu kota yang sedikit tidak padat membuat Farhan mempunyai banyak kesempatan untuk sampai di tempat tujuannya.
Farhan mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang menegurnya. Sekarang fokus Farhan hanya satu ‘PAPA & MAMA’ sepertinya dia akan mendapatkan siraman rohani dari orang tuanya.
Tadi Papa mengirimkan pesan bahwa sekarang dia harus kembali ke rumah,tidak pakai lama. Dia sepertinya melakukan kesalahan yang begitu besar sampai pesan Papa sangat mengerikan menurut Farhan.
Sampai di rumah,hal pertama yang dilihat Farhan adalah—Papa yang mondar-mandir di ruang tamu.
Dengan sikap tegaknya perlahan Farhan melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
“Assa-“
“Dari mana saja kamu Han? Kenapa bolos di saat ujian?” Salam Farhan terpotong ketika Papa sudah dulu membuka suara.
“Pa!tadi Far-“
“Mau jadi apa kamu nanti Han?” Papa kembali memotong pembicaraan Farhan,tidak memberikan Farhan akses untuk berbicara.
“Pa dengarin Farhan dulu Pa.”
“Assalamualaikum,” bersamaan dengan Farhan berhenti berbicara,saudara kembarnya juga datang dengan seragam sekolahnya yang sangat terlihat rapi.
“Lihat Farhan, lihat!Abang kamu baru pulang sekolah,baru selesai menjalani ujian. Nama dia di sekolah masih bersih Han. Papa ga pernah dapat surat dari sekolah karena ulah dia.”
Firhan yang baru datang tak mengerti apa maksud dari mereka. Dia hanya diam membisu, menyimak pembicaraan yang tengah mereka bicarakan.
“Pa! Farhan tadi bolos karena teman – teman Farhan dikeroyok Pa,” kata Farhan berusaha membela diri. Dia yakin penyebab bolosnya membuat Papa marah kepadanya.
“Papa selalu dapat telpon dari sekolah kamu Han. Kamu sering buat ulah di sekolah. Selalu bolos. Apa itu karena teman- teman kamu juga?”
“Farhan ga lakuin itu semua,kalau mereka duluan ga gangguin kita pa.”
“Kamu masih jadi anak geng motor?” Enam kata yang keluar dari bibir Papa,mampu membungkam mulut Farhan.
Awalnya Farhan diberi kebebasan bermain dengan siapa saja,namun bukan berarti untuk bermain bersama geng motor. Papa tidak mengizinkan satu pun anaknya untuk menjadi anggota dari geng motor.
Yang namanya geng motor mustahil bisa tidak mempunyai musuh.
“Jawab Papa!” Bentak Papa karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Farhan.
Dengan helaan nafas yang panjang Farhan menganggukkan kepalanya.
Papa naik pitam dengan jawaban Farhan baru saja. Sudah berkali-kali dia peringatkan bahwa keluar dari geng itu,lantas kenapa sekarang masih gabung.
“Papa udah bilang Han! Keluar,kenapa kamu tidak keluar? Geng motor kamu itu tidak jelas Han! Hanya ugal-ugalan saja di jalanan-“
“Geng motor Farhan ga seperti apa yang Papa katakan.”
“Kamu yakin dengan jawaban kamu?” Tanyanya sambil geleng-geleng kepala.
“Kalau Papa tidak. Semenjak kamu gabung dengan geng motor,kamu pulang nya selalu larut malam,suka bolos di sekolah,suka berantem, ugal-ugalan di tengah jalan,” jelas Papa panjang lebar. Sedangkan Farhan hanya menunduk meresapi setiap perkataan Papa yang dia lontarkan untuk nya.
“Kapan kamu tinggal diam di rumah. Belajar kayak Abang kamu. Coba lihat Abang kamu meskipun dia pintar dia selalu tetap belajar tidak pernah buat masalah di sekolah. Lah kamu, udah ga pintar kerjanya main sama anak geng motor,suka buat ulah di sekolah.”
Farhan berdecak tidak suka mendengar omongan Papa. Dia rela di tonjok-tonjok asal tidak di beda-bedakan. Dia paling benci dengan perbedaan, SASTRA selalu mengajarkan bahwa kita ini sama,satu rasa,dan satu jiwa. Meskipun bentuk kita berbeda,tapi rasa kita tetap sama.
“Firhan emang pintar pa, nurut. Dan Farhan ga sepintar Firhan, ga sehebat Firhan. Tapi Papa harus tau,Farhan selalu berusaha buat gapai apa yang seharusnya Farhan dapat,” di luar pengawasan kedua orangtuanya Farhan selalu berusaha untuk menjadi terbaik. Namun,karena dia satu sekolah dengan geng sebelah membuat dia kadang tawuran karena mereka selalu memancingnya.
“Berusaha buat jadi jagoan di jalanan? Coba kamu sehari aja kayak Abang kamu tinggal,belajar-“
“Berhenti beda-bedain Farhan sama Firhan Pa. Karena sampai kapan pun Farhan ga bisa jadi Firhan. Kapasitas kepintaran Farhan sama Firhan beda Pa. Manusia diciptakan dengan imajinasi yang berbeda-beda,” kata Farhan lalu berbalik badan meninggalkan Papa dan saudara kembarnya yang sedari tadi diam mematung.
“FARHAN! MAU KEMANA KAMU?” Teriakan Papa menggema di seluruh ruang keluarga, namun sayangnya Farhan sama sekali tidak menggubrisnya. Dia tetap melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Saat Farhan menyalakan mesin motornya,terdengar suara teriakan dengan nafas yang tersengal-sengal, Farhan menoleh dan ternyata Abang kembarnya mengejarnya.
Jika kalian berpikir Farhan akan marah terhadap Firhan,karena Firhan selalu jadi bahan untuk dibanding-bandingkan dengan dirinya. Tidak! Farhan sama sekali tidak marah.
“Loh jalannya cepat banget,” kata Firhan mengatur nafasnya.
“Kenapa?”
“Loh mau kemana?”
“Pergi jauh.”
“Han. Please ingat balik yah. Loh jangan dengarin omongan bokap,jangan masukin ke hati. Tadi bokap ngomong gitu karena dia udah kalut sama emosi,” pesan Firhan pada adiknya.
Farhan hanya mencerna setiap ucapan Abangnya.
“Tadi Papa lagi ada meeting penting, tiba-tiba pihak sekolah nelpon karena loh bolos, dan kasus loh kemarin yang ninjuin anak kelas 10 belum kelar Han. Makanya pihak sekolah panggil bokap,di situ Papa benar-benar emosi karena di saat meeting pentingnya ada,masalah loh juga datang,” jelas Firhan.
“Gue gak papa kok santai ajah,” jawab Farhan berusaha tenang. Meskipun saat ini dia benar-benar kacau,tidak terima bila dirinya dibanding-bandingkan.
“Ya udah loh pergi tenangin diri loh. Hati -hati di jalan,” Firhan tidak pernah memberi batasan untuk adiknya, kemana pun dia pergi itu urusan dia yang terpenting dia tahu batasan.
Farhan ini anak laki-laki kalau di rumah terus pasti dia juga akan jengah. Firhan tidak mau samakan dirinya dengan adik nya,karena dia tau pemikiran orang beda-beda, seperti dirinya dan kembarannya. Firhan yang anak rumahan, dan Farhan yang anak tongkrongan. Sekeras apapun Firhan mengubah sikap adiknya, itu tidak akan berubah karena sikap manusia akan berubah jika dirinya sendiri yang mengubahnya,bukan orang lain.
Dengan kekesalan yang memuncak Farhan kembali mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sesekali dia memejamkan matanya memutar kembali memori di mana Papa membandingkannya dengan Abang kembarannya.
Papa kadang membandingkannya dengan Firhan tapi dengan nada candaannya dan menurut Farhan itu adalah hal biasa agar anggota keluarga tertawa dengan candaan itu,agar tercipta moment yang langkah di dalam keluarga.
Kali ini Papa benar-benar serius membandingkannya. Farhan hanya ada dua pilihan, mengubah dirinya atau menetap seperti ini,atau bahkan pergi?
“Woi Farhan, loh kenapa?” Tanya Vito menghampiri Farhan yang baru saja turun dari motornya.
“Emang kenapa?” Farhan berusaha baik-baik saja,dia tidak mau orang-orang tahu masalahnya sekarang. Baginya dirinya adalah pribadinya.
“Ga usah bohongin gue Han. Loh lagi ada masalah apa?” Vito yakin ketua gengnya ini sedang ada masalah. Tadi pergi dengan keadaan panik, sekarang balik dengan keadaan kacau dan dia dengan seenak jidat mengatakan bahwa tidak ada masalah?
“Sotoy luh. Udah ah gue mau tidur nih,” katanya pergi melewati Vito yang sedang berpikir keras.
Vito memandang punggung Farhan yang kian menjauh hampir tak terlihat karena ditelan oleh jarak.
“Mulut lo ngomong seolah-olah loh ga ada masalah Han, tapi mata loh ga bisa bohong. Di dalam tersirat rasa kekacauan yang bahkan loh ajah ga tau mau lari kemana,” gumam Vito sebelum pergi.
Pergi,menghilang,bukanlah solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah.
See you next part.
