Oleh: Adit Anugrah Pratama

Langit sore itu berwarna lembut campuran jingga, biru, dan sedikit abu yang menenangkan.
Di tepi danau yang sunyi, hanya ada dua orang: seorang lelaki dengan gitar di tangannya, dan seorang perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Ia menatap punggung lelaki itu lama sekali.
Setiap petikan senar gitar terdengar seperti percakapan yang tak pernah sempat mereka ucapkan.
Ada rindu yang berusaha bicara, tapi tenggelam di antara angin dan suara air yang menepi pelan.

Dulu, mereka sering ke tempat ini bersama.
Tertawa tanpa alasan, bernyanyi tanpa takut salah nada.
Tapi hari ini berbeda, tak ada tawa, tak ada lagu bersama, hanya kenangan yang perlahan dimainkan ulang dalam senja yang sama.

Lelaki itu mulai memetik gitar, memainkan lagu yang dulu pernah ia tulis untuknya.
Nada-nadanya masih sama, hanya rasanya yang berubah. Perempuan itu menutup mata sejenak, menahan air yang hampir jatuh dari matanya. Ia tahu, lagu itu bukan lagi tentang mereka, tapi tentang perpisahan yang akhirnya mereka terima dengan diam.

Setelah lagu berakhir, ia berbalik tanpa berkata apa-apa. Tak ada pelukan, tak ada ucapan selamat tinggal. Karena mereka sama-sama tahu yang indah tak selalu bisa dimiliki selamanya.
Kadang, cukup dikenang di antara senja dan bunyi gitar yang perlahan memudar.

“Beberapa lagu tak perlu dinyanyikan dua kali. Cukup sekali saat cinta masih ada, dan kenangan belum berubah jadi luka.”

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *