Oleh: Aprilia Harlina

Kita tidak pernah benar-benar paham bagaimana sebuah keluarga besar bisa terbentuk. Jika kalian mengira hal itu karena mereka memiliki banyak keturunan, kalian salah. Sebab, bukan itu yang kumaksud. Bukankah kalian tahu bahwa manusia memiliki sifat yang kompleks? Ada yang egois, penakut, pemarah, pendendam, penyabar, penurut, dan lain sebagainya. Jika kita berasumsi bahwa memperbanyak keturunan otomatis menghasilkan keluarga besar tanpa mempertimbangkan kompleksitas karakter manusia, maka yang tercipta bukanlah keluarga besar, melainkan sekadar patriarki dalam pohon keluarga.

Aku pernah menanyakan hal ini pada diriku sendiri. Aku mendiskusikan jawaban yang tepat sekaligus menyangkal berbagai kemungkinan yang bisa disangkal. Dari diskusi dengan diriku sendiri itu, aku mulai berpikir: bagaimana orang tua bisa sangat menyayangi anak-anaknya? Sementara terkadang anak-anak justru berbuat durhaka kepada mereka.

Untuk menjawab pertanyaan itu, aku mulai membaca berbagai buku. Buku pertama adalah buku sosiologi. Di dalamnya disebutkan bahwa keluarga adalah kelompok terkecil yang menjalankan fungsi afeksi, yaitu kasih sayang yang diberikan kepada keluarga inti. Aku setuju, tetapi tetap saja aku menyangkal karena teringat kompleksitas sifat manusia yang kusebutkan tadi.

Buku kedua yang kubaca adalah buku matematika. Mungkin terdengar aneh, sebab matematika hanya berbicara tentang rumus. Namun, dari dalil Pythagoras aku menemukan pemahaman baru: kuadrat dua sisi pendek akan menghasilkan kuadrat sisi panjang. Aku menafsirkannya begini: sisi panjang itu adalah orang tua, yang menjalankan fungsi afeksi. Sementara sisi-sisi lainnya adalah pendidikan dan perlakuan yang diberikan kepada anak-anak. Namun, aku kembali menyangkal. Bagaimana dengan nasib? Apakah anak selalu menerima nasib baik jika orang tuanya sudah memberikan afeksi yang cukup?

Aku lalu membuka buku biologi. Dari materi hereditas atau pewarisan sifat, aku menyimpulkan bahwa orang tua tahu apa yang dibutuhkan anak-anak mereka, sebab mereka pernah merasakan hal yang sama. Namun, lagi-lagi hatiku menolak. Sebab pada kenyataannya, anak-anak seringkali justru membuat orang tua cemas meskipun mereka sudah berusaha memahami.

Frustrasi pun kian menumpuk. Apalagi ketika aku membaca kisah-kisah kerajaan di masa lalu. Ada cerita tentang seorang raja yang lebih mementingkan pendidikan anak laki-lakinya dibandingkan anak perempuannya. Sebab, dalam sistem patriarki, laki-laki dianggap lebih layak menjadi pemimpin. Namun, ketika ratu dan putra mahkota terbunuh, garis suksesi takhta terpaksa jatuh ke tangan sang putri. Dan kau tahu apa yang membuatku frustrasi? Putri itu ternyata mampu memimpin dengan bijaksana, bahkan dikenang sepanjang sejarah. Dari kisah itu aku sadar: ternyata orang tua tidak selalu berperan besar dalam menentukan kesuksesan anak.

Pada suatu ketika, saat pikiranku masih sibuk diliputi frustrasi itu, aku membaca terjemahan Al-Qur’an. Aku lupa surat dan ayatnya, tapi bunyinya kurang lebih begini:
“Sungguh, tidaklah Aku menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

Aku terdiam merenungi ayat itu. Biasanya, aku selalu menemukan ruang untuk menyangkal. Namun kali ini berbeda. Justru muncul pertanyaan baru: untuk beribadah? Tapi mengapa banyak manusia yang lalai bahkan meninggalkan ibadah? Ayat itu bukanlah hal baru bagiku. Aku membacanya setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an. Namun entah mengapa, kali ini terasa seperti pertama kali aku benar-benar membacanya.

Dari perenungan itu aku menyimpulkan: manusia memiliki jalan masing-masing di dunia ini, yang sudah ditentukan sejak lama. Bahkan sekadar menjadi alasan bagi seseorang untuk tersenyum, manusia sudah punya tujuan untuk menjalani kehidupan.

Oh ya, tadi aku membahas tentang keluarga besar dan kasih sayang orang tua kepada anak, bukan? Kini aku memahami bahwa manusia memang memiliki kebebasan dalam memilih jalan hidupnya. Namun, kebebasan itu tetap berada dalam batas aturan tertentu. Jika manusia mampu menjalankan aturan itu dengan baik, balasan yang setimpal akan ia terima. Begitu pula sebaliknya.

Ah, andaikan aku memahami hal ini sejak awal. Aku sendiri tak tahu bagaimana cara menyampaikannya dengan tepat. Yang jelas, aku kini menerima keindahan agamaku tanpa syarat. Semua jawabannya ternyata sudah ada dalam aturan agama, bukan dari aturan para habib atau orang-orang yang mengaku wali di zaman ini.

(Visited 32 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *